My Video

Loading...

Sabtu, 16 Juli 2011

Loving Girl #5th

“Adik kamu…..”

“Adik saya kenapa dok? Dia ngga apa-apa kan? Dia baik-baik aja kan?” tanya Rio semakin memburu, terlihat sekali raut wajahnya yang biasa dingin menjadi sangat ketakutan, apalagi yang sedang berada didalam sana adalah adik kesayangannya dan dialah menjadi penyebab Ray bisa seperti sekarang. Dokter Excel menghela napas kemudian menatap Rio, memegang pundak Rio perlahan.

“Ray untuk saat ini baik-baik saja, memang keadaan tadi sempat membahayakan dirinya. Untung saja dia cepat dibawa kesini, tapi sayangnya jantungnya semakin melemah, kelainan katup aortanya sudah semakin membahayakan Ray” jelas dokter Excel membuat Rio terhenyak dan perlahan cairan bening membanjiri pipi chubby Agni. “Rio, saya ingin menanyakan sesuatu?” Rio menatap dokter Excel penuh tanya, kemudian mengangguk perlahan. “Apa Ray rutin mengonsumsi obatnya?” tanya dokter Excel, Rio mengangguk yakin. “Berarti bukan itu penyebabnya, apa ada yang menganggu pikiran Ray sehingga membuatnya tertekan?” tanya dokter Excel lagi, Rio terdiam, kejadian beberapa saat kembali masuk ke ingatannya. “Yah, mungkin itu juga jadi salah satu faktor dia bisa menjadi seperti sekarang. Seperti kemarin Rio, saran saya Cuma satu. Ray harus dioperasi. secepatnya”

Setelah mengatakan itu dokter Excel meninggalkan Rio dan Agni yang terdiam, Agni tidak menyangka bocah lucu dan imut itu ternyata mempunyai penyakit berbahaya seperti itu. Agni mengalihkan pandangannya menuju Ray, terlihat bocah imut itu masih terpejam, beberapa alat medis terlihat menempel ditubuhnya, Agni memandangnya miris, air matanya mengalir semakin deras tanpa bisa dihentikannya. Rio, dia masih terdiam, ini semua salahnya. Kalau saja tadi ia tidak mengacuhkan Ray saat itu, Ray pasti tidak akan seperti sekarang, dan soal operasi itu. Apakah tidak ada cara lain? Batin Rio. Selain memang Ray tidak ingin melakukan operasi, Rio juga tidak yakin operasi bisa menyelamatkan nyawa adiknya, Rio hanya tidak ingin operasi itu nantinya akan sia-sia dan malah membuat Ray semakin menderita, cukup Rio merasakan kehilangan seseorang karena gagal operasi, mamanya. Ya mama Rio meninggal dimeja operasi ketika akan melahirkan Ray, saat itu Ray lahir selamat walaupun selama beberapa hari Ray harus berada di incubator, sedangkan mama Rio, memang sempat sadar tapi hanya beberapa menit, seolah hanya ingin menyelamatkan nyawa bayinya, mama Rio menghembuskan napas terakhirnya setelah melihat Ray yang saat itu ada di incubator.
Rio dan Agni sekarang berada dikamar rawat Ray, sedangkan Gabriel, ia lebih memilih menunggu diluar sambil melanjutkan tidurnya. Agni mengalihkan pandangannya, menatap Rio dengan pandangan yang… entahlah, semua bercampur saat itu. Agni ingin marah, ia kecewa. Karena Rio, Ray jadi seperti sekarang. Berkali-kali Agni merutuki kebodohan Rio yang tega membuat Ray menangis dan akhirnya seperti saat ini. Rio menyadari Agni memperhatikannya, perlahan Rio mengangkat wajahnya, mencoba membalas tatapan Agni. Rio tertegun, Agni menatapnya seperti itu dengan air mata yang terus mengalir dari kedua bola mata indahnya. Lama mereka dalam keadaan saling menatap seperti itu, sesekali terdengar isakan Agni. Sampai akhirnya mereka tersadar karena Ray yang terlihat membuka matanya.

“Kak Lio…” desah Ray, segera Rio menghampiri adiknya itu, mata Ray masih terlihat mengerjap beberapa kali. Rio mengelus kepala Ray lembut, mencoba memberi kekuatan dengan sentuhannya.

“Kak Rio disini sayang” balas Rio parau, ia ingin menangis melihat keadaan adiknya seperti sekarang, tapi sekuat tenaga ditahannya. Perlahan Agni mendekat kearah dua bersaudara itu.

“Kak Lio jangan tinggalin Lay lagi ya” pinta Ray lemah, terlihat napasnya masih belum beraturan. Rio mengangguk sambil terus mengelus kepala Ray, Ray mengalihkan pandangannya pada orang lain yang berada diruangan itu, Agni. Ray tersenyum manis melihatnya. “Kak Agni disini juga ya?” tanya Ray, terlihat antusias, hampir saja ia bangun dan menghampiri Agni tapi langsung dicegah Rio, Ray manyun. “Kak Lio kenapa sih? Lay kan mau sama kak Agni” gerutu Ray. Rio dan Agni tertawa kecil melihat itu.

“Oh… jadi gitu nih. Udah ada kak Agni, kak Rio dilupain” ujar Rio –pura-pura—ngambek, matanya menyipit, seperti akan menangis. Ray tertawa melihat tingkah kakaknya itu, sedangkan Agni? Sempat terpaku beberapa saat ketika melihat Rio seperti itu. Ternyata ‘monster’ didepannya ini penuh dengan kejutan. “Yaudah… kak Rio pulang aja deh, kan udah ada kak Agni” ujar Rio, bersiap untuk melangkah meninggalkan Ray, tapi dengan segera tangannya ditarik Ray, Rio berbalik.

 “Ih, kak Lio kok ngambek sih. Lay kan Cuma becanda” gerutu Ray, mukanya manyun, pipinya menggelembung. Membuat Rio tertawa dan mencubit pipi Ray yang menggelembung itu, Agni melihat itu sambil tersenyum.

Mereka larut dalam obrolan yang seolah tidak ada habisnya, Rio dan Agni lega setelah mendengar kembali celotehan dari bibir mungil Ray, sesekali mereka tertawa karena tingkah lucu Ray. Ray sudah terlihat sehat yah walaupun itu tidak mengubah sedikit pun keadaan Ray yang bisa dibilang sangat berbahaya. Rio sesekali terdiam, pikirannya kembali melayang ketika mendengar penuturan dokter Excel beberapa jam yang lalu. Ray harus dioperasi, apakah tidak ada cara lain selain operasi?, batinnya bingung.

Gabriel terlihat memasuki ruang rawat Ray, ketiga kontan melihat kearah Gabriel, Gabriel tersenyum menatap dua orang –Rio dan Ray- yang menatapnya penuh tanya. Perlahan Gabriel mendekat kearah Agni yang duduk disebelah kanan Ray.

“Kenapa Bang?” tanya Agni langsung, ketika Gabriel sudah berada disampingnya. Gabriel semula menatap Ray mengalihkan pandangannya pada Agni.

“Gue mau pulang, ada kuliah pagi soalnya. Lo mau pulang atau masih mau disini?” jawab dan tanya Gabriel, ekspresi Ray berubah keruh mendengar penuturan Gabriel yang menyuruh Agni pulang. Agni mengalihkan pandangannya kepada Ray, Ray menatapnya penuh harap. Agni menghela napas panjang, kemudian kembali menatap Gabriel.

“Lo pulang aja deh bang. Gue masih mau disini, nungguin Ray” jawab Agni, Ray tersenyum lebar mendengarnya, Gabriel mengangguk kemudian menatap Ray.

“Yaudah kalo gitu gue pulang de’… em…” pamit Gabriel, Gabriel mengalihkan pandangannya menuju Rio.

“Rio” potong Rio, seolah mengerti apa maksud Gabriel menatapnya tadi, Gabriel mengangguk.

“Gue pamit Yo” lanjut Gabriel, Rio membalasnya dengan mengangguk dan tersenyum tipis. “Cepet sembuh ya Ray” ujar Gabriel sebelum meninggalkan ruang rawat Ray, Ray mengangguk sambil tersenyum sebelum Gabriel menghilang dibalik pintu.

@_@
Hari ini Sivia seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Sivia bingung, Agni tidak masuk sekolah tanpa kabar yang jelas, memang tadi dia mendapat kabar dari Gabriel kalau Agni tidak masuk, tapi Gabriel tidak menyebutkan alasannya. Ditambah lagi Rio juga tidak masuk, entah mengapa Sivia jadi berpikiran kalau mereka berdua –RioAgni- bolos dengan alasan yang sama. Sama halnya dengan Sivia, Alvin juga merasa heran, kali ini bukan karena Rio tapi Agni, tidak seperti biasanya Agni tidak masuk tanpa kabar dan HandPhonenya tidak bisa dihubungi dari kemarin malam.

“Vi, Agni kemana? Kok ngga masuk, dia ngabarin lo ngga?” cerocos Alvin ketika melihat Sivia duduk dibangkunya sambil membaca novelnya. Sivia sempat tertegun beberapa saat melihat Alvin yang biasanya tidak banyak berbicara, tiba-tiba nyerocos tanpa henti hanya karena menanyakan keberadaan Agni. “Vi, lo denger gue ngga sih?” gerutu Alvin, Sivia tersentak.

“Hah..!!! eh iya Vin, gue juga ngga tau. Tadi kakaknya Agni Cuma ngasih tau gue kalo Agni ngga masuk. Tapi ngga ngasih tau alesannya” jelas Sivia, Alvin menghela napas.

“Thank’s ya” balas Alvin langsung meninggalkan Sivia yang masih menatapnya heran. Aneh, batin Sivia. kembali sibuk dengan novelnya.

@_@
“Kak Lio” panggil Ray, sambil mencoba bangkit dari posisi tidurnya dan kemudian menyender di ujung bednya, sontak Rio menatap adiknya itu, seolah bertanya ‘kenapa?’. “Kak Agni mana? Katanya Cuma bental, kok ngga kesini lagi sih” gerutu Ray sambil mengerucutkan bibir mungilnya. Rio menghampiri Ray dan duduk disebelah adiknya, mengelus kepala Ray perlahan. Ray mendongak, manatap Rio lebih jelas.

“Ya, mungkin kak Agni ada kerjaan lain kali Ray, makanya ngga bisa kesini” jelas Rio, bukannya menghibur adiknya malah membuatnya semakin manyun. “Udah ah, lagian kan ada kak Rio disini” sambung Rio sambil mengelus pipi chubby adiknya.

“Kak…” desah Ray perlahan sambil menunduk, Rio mengernyitkan dahinya. Cepat sekali ekspresi adiknya ini berubah, pikirnya bingung.

“Kenapa lagi Ray?” tanya Rio, tangannya masih mengels kepala Ray yang terasa semakin menunduk.

“Papa ngga jengukin Lay ya” ujar Ray pelan, Rio terdiam, tanpa sadar tangannya berhenti mengelus kepala Ray.

Bagai bom atom yang tiba-tiba meledak dikepalanya, Rio mendengarnya miris. Rahangnya perlahan mengeras mendengar penuturan Ray barusan. Sebegitu tega seorang ayah menelantarkan anak-anaknya hanya demi uang. Rio merasa papanya berubah semenjak kepergian mamanya, awalnya Rio berusaha mengerti, mungkin papanya ingin sedikit menghilangkan kesedihan karena meninggalnya mama Rio yang tiba-tiba saat melahirkan Ray, pikir Rio ketika itu. Tapi sekarang, Rio meragukan itu semua. Tidak ada lagi papanya yang dulu, papa yang selalu menjadi panutan baginya, papa yang selalu mencurahkkan kasih sayangnya sesibuk apapun dia. Rio menatap Ray yang masih menunduk dengan miris, kasian. Semenjak lahir Ray tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu, dan sekarang? Papa mereka lebih memilih pekerjaannya daripada mengkhawatirkan Ray yang sedang sakit seperti saat ini.

“Lay kangen papa, kak” lanjut Ray, masih menunduk. Setetes cairan bening jatuh mengaliri pipi Rio, tapi dengan segera dihapusnya sebelum Ray menyadari bahwa ia menangis. Yup menangis, satu hal yang TIDAK pernah dilakukannya langsung dihadapan Ray. “Apa papa ngga sayang sama Lay, kak?” lanjutnya lagi, Rio masih terdiam, menatap kosong TV yang menyala dihadapannya. “Apa papa malah sama Lay, Kak?” desah Ray, Rio kembali mengernyitkan dahi, menatap Ray yang masih diposisi semula, menunduk. Rio tidak mengerti maksud Ray.

“Marah? Kenapa papa harus marah sama kamu? Emang kamu salah apa sama papa? Sampe-sampe kamu berpikiran papa marah sama kamu” tanya Rio, memegang kedua pipi Ray kemudian sedikit mengangkat wajah Ray, mencoba menatapnya lebih jelas dan mencari jawaban dari tatapan Ray yang sayu itu.

“Karena Lay… mama jadi meninggal” desah Ray perlahan,

JDEEERRR….!!!
 
Rio tertegun, tersentak dan seketika terdiam dengan posisi masih memegangi pipi Ray, Ray menatap Rio yang masih terdiam dihadapannya, sepertinya ada rasa bersalah timbul ditatapan mata sayu Ray. Rio tidak habis pikir, ia bagai disambar petir disiang bolong, bagai tersengat listrik ribuan Volt dan bagai terhempas dari ketinggian. Kenapa Ray bisa berpikiran seperti itu?, darimana Ray bisa mengambil kesimpulan, yang jujur saja tidak pernah terlintas sedikit pun dipikiran Rio. Sebegitu putus asakah Ray atas sikap papanya yang jarang memperhatikannya selama ini?, tatapan Rio yang semula lembut kini berubah, wajahnya mengekspresikan kalau dia marah dan kecewa, entah kecewa pada siapa? Papanya, Ray atau bahkan dirinya sendiri. Secara tidak langsung sudah membuatnya merasa gagal menjadi kakak yang baik buat Ray.

“JANGAN NGOMONG SEMBARANGAN RAY” tanpa sadar Rio membentak Ray, Ray menatap Rio takut, tidak menyangka bahwa Rio akan emosi dan membentaknya saat ini. “Darimana kamu bisa punya pikiran kaya’ itu? Mama meninggal bukan karena kamu” lanjut Rio lembut, nada bicaranya sudah mulai melemah, ketika melihat ekspresi ketakutan Ray tadi.

“Tapi mama meninggal gala-gala ngelahilin Lay kak” balas Ray, intonasinya meninggi, menatap Rio tajam, napas Ray terlihat tidak beraturan, terlihat dari dadanya yang naik-turun ketika berbicara dengan Rio barusan. Rio menghela napas, kenapa adiknya bisa berpikiran diluar batas umurnya, Rio tidak menyangka Ray yang masih berumur belum genap 5 (lima) tahun bisa mengambil kesimpulan yang seperti itu. Rio menghela napas lagi, kali ini lebih panjang dan lama, mencoba meredam emosinya. Ia tidak mau melakukan tindakan bodoh yang akan berakibat fatal lagi untuk Ray.

Seseorang masuk ke ruang rawat Ray, kontan keduanya menatap kearah pintu yang terbuka, kepala Agni terlihat, sambil tersenyum kemudian masuk. Perdebatan kakak-adik ini terhenti dengan sendirinya karena kedatangan Agni, Ray yang semula terlihat marah, kini tersenyum senang melihat orang yang ditunggunya berdiri tidak jauh dari dirinya sambil tersenyum manis.

“Kak Agni kemana aja sih? Lama banget, Lay bosen tau” gerutu Ray, melipat kedua tangannya didepan dada sambil mengerucutkan bibirnya, Agni tertawa geli melihat tingkah Ray itu, kemudian ia mendekat. Rio?, ia menatap Ray heran sekaligus takjub. Ajaib, baru beberapa menit yang lalu Ray marah-marah dan berpikiran aneh, sekarang malah berubah jadi manja lagi seperti itu, pikir Rio heran, tapi dalam hati ia tersenyum melihat adiknya seperti sekarang, setidaknya dia tidak berpikiran kalau dia yang menyebabkan mama mereka meninggal dunia.

“Ray, kak Rio keluar bentar ya. Lagian kan udah ada kak Agni yang nemenin” ujar Rio, Ray mengangguk tanpa memandang kearah Rio. Sibuk dengan jemari tangan Agni yang sedari tadi dimainkannya, “Gue titip Ray, kalo ada apa-apa kasih tau gue” ujar Rio kali ini beralih pada Agni, Agni mengangguk malas. Rio menghela napas kemudian keluar dari kamar rawat Ray, meninggalkan Agni dan Ray yang terlihat saling bercengkrama.

@_@
Pemuda sipit ini hanya bisa melihatnya dari jauh, langkahnya terhenti sebelum mencapai tempat tujuannya, ketika melihat pemuda lain berada ditempat itu. Tempat peristirahatan terakhir ‘dia’, gadis yang dicintainya, ia tidak punya pilihan lagi selain menghindari pertemuannya dengan pemuda itu, setidaknya itu dilakukannya untuk saat ini karena jika ia nekat, pemuda itu akan semakin membencinya, dan usahanya selama ini akan sia-sia. Pemuda itu terlihat bangkit dari tempatnya semula, sebelum meninggalkan makam itu, ia meletakkan rangkaian bunga yang dibawanya. Pemuda itu melangkahkan kakinya meninggalkan makam itu, pemuda sipit ini mulai berjalan ke makam itu, perlahan dan akhirnya sampai dimakam yang nisannya bertuliskan nama gadis yang dicintainya. Terlihat rangkaian bunga tergeletak disana, bunga yang dibawakan pemuda tadi, sama persis dengan bunga yang dibawanya, Lily putih, bunga kesukaan gadis yang dicintainya.

Cukup lama ia dimakam ini, merenungi semua yang telah terjadi, mencoba mencari jalan keluar yang terbaik. Dia menghela napas perlahan, mengelus nisan itu lembut, seolah dihadapannya ini adalah gadis yang dicintainya itu. Ia berdiri, menatap nisan itu lama, seakan tidak ingin berpisah lagi. Ia menghembuskan napasnya perlahan, kemudian berbalik, meninggalkan makam itu.

@_@
“Udah lama ya kita ngga ketemu, tuan Mario” ujar seseorang mengejutkan Rio dengan nada yang entah bagaimana membuat Rio muak mendengarnya, tapi dari caranya berbicara seperti itulah Rio mengenali sang lawan, Rio tersentak menatap lawannya.

“Mau apa lagi lo?” tanya Rio sambil menatap tajam lawan bicaranya, sang lawan hanya tersenyum remeh, tangan Rio sudah mengepal hebat menatap lawannya ini.

“Gue ngga mau apa-apa, gue Cuma mau lo, Mario” jawabnya dengan penuh tekanan ketika menyebutkan nama Rio, rahang Rio mengeras, menatap lawannya nanar, mengapa dia datang lagi?, batin Rio marah. 

“Hahaha, biasa aja kali ngeliatinnya, sampe segitunya lo. Gue tau lo kangen sama gue, tapi ngga usah gitu juga kali” ujar orang itu, benar-benar membuat Rio muak.

“Langsung aja deh, lo mau apa? gue? Apa yang lo mau dari gue? Uang? Harta? Atau bahkan nyawa gue. Buruan, gue udah muak ngeliat lo” ujar Rio garang, penuh tekanan emosi disetiap kata yang diucapkannya, sang lawan hanya tersenyum sinis, menatap Rio dengan pandangan yang… entahlah, sepertinya ia yakin kalau Rio akan kembali bergabung dengannya.

“Kan udah gue bilang. Gue mau lo MARIO, bukan uang lo, harta lo apa lagi nyawa lo. Lo aja cukup buat gue” jawabnya enteng, Rio bingung dengan orang dihadapannya ini, sudah lama mereka tidak bertemu, tapi kenapa malah jadi seperti ini, hal yang tidak diinginkan Rio malah menjadi kenyataan. Hal itu adalah, kembali berhubungan dengan orang dihadapannya ini.

“Udah gue bilang sama lo dari dulu, kalo gue ngga mau. Gue udah ngga mau lagi ada urusan sama lo, apalagi perkumpulan lo yang ngga penting itu. Udah gue bilang, GUE BERHENTI. Dan jangan ganggu gue lagi” jelas Rio panjang lebar, tapi hanya dibalas oleh tatapan sinis dan meremehkan dari lawannya. Rio yang sudah benar-benar muak, langsung saja meninggalkan lawannya yang sudah tersenyum aneh.

“Gue ngga akan berhenti buat ngajak lo gabung lagi sama gue. Cuma lo yang gue butuhin Mario. Karna lo yang akan jadi ‘alat’ gue… hahaha” sinis orang itu, kemudian berjalan menjauhi dimana tempat pertemuannya dengan Rio tadi.

@_@
“Ag, lo kemarin kemana sih? Kok ngga masuk? Si Alvin nyariin lo tau” cerocos Sivia ketika melihat Agni berada dikelasnya. Agni menatapnya penuh tanya.

“Setdah, ngeborong mbak? Kalo nanya satu-satu napa” ceplos Agni, Sivia nyengir garing sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Agni menghela napas, memulai untuk bercerita. “Kemarin gue ke rumah sakit Vi…”
 
“Apa!!! rumah sakit? Siapa yang sakit Ag? Lo atau kak Iyel? Aduh jangan sampe kak Iyel kenapa-napa deh…” histeris Sivia, tanpa sadar sudah membuat Agni menatapnya penuh selidik. Untuk apa Sivia mengkhawatirkan Gabriel sampai seperti itu, jangan-jangan… pikir Agni mulai menebak segala kemungkinan yang bisa terjadi pada sahabatnya ini.

“Aduh Vi, gue belom slesai cerita, mau gue ceritain kaga sih” ujar Agni, kesal karena omongannya selalu dipotong Sivia, Sivia kembali nyengir kemudian kembali mempersilakan Agni melanjutkan ceritanya. “Gue kerumah sakit buat jengukin Ray, adiknya Rio” ujar Agni, mata sipit Sivia terbelalak lebar mendengar nama Rio terucap dari bibir Agni, tumben ngga nyebut monster? Dan itu tadi, adik Rio?, pikir Sivia heran.

“Kok lo bisa kenal sama adiknya Rio, Ag? Gimana ceritanya?” tanya Sivia, Agni mulai menceritakan semuanya, mulai dari ketika dia bertemu Ray, dan tau bahwa Ray adalah adik Rio. Semua itu diceritakan Agni, kecuali tentang fakta yang ditemukannya tentang seorang Mario Stevano Aditya Haling.
“Oh, jadi lo ilang waktu itu gara-gara ngedenger suara anak kecil nangis dan itu Ray yang ternyata adiknya si Rio?” tanya Sivia mencoba meyakinkan, Agni mengangguk mantap. “Kaya’nya lo lumayan deket ya sama si Ray-Ray itu. Kalo gue denger dari cerita lo ya, kaya’nya dia lucu deh” komen Sivia, Agni tersenyum sambil mengangguk lagi.

“Banget Vi, baru kali ini gue ketemu anak yang lucu kaya’ Ray gitu. Sayang aja dia malah punya kakak monster kaya’ si Rio itu” dumel Agni, kesal jika mengingat bahwa Ray adalah adik Rio.

“Gue denger yang lo omongin. Emang salah gitu kalo Ray adik gue? Wajar aja lagi, guenya aja keren. Ya Ray pasti ngga jauh bedalah sama gue” celetuk seseorang, kontan Agni dan Sivia –yang sekarang berada dibangku Sivia- menatap kearah Rio, dengan berbagai macam pandangan, antara kagum, cengo’ bahkan tidak habis pikir ternyata ‘monster’ itu bisa bernarsis ria pula.

“Heh..!!! ngapain lo ikut-ikutan, dasar monster” celetuk Agni, kesal dengan tingkah Rio yang seperti itu.

“Eh cewek stres, gue punya telinga yang berfungsi buat mendengar!!, dan itu tadi membuktikan kalo telinga gue masih berfungsi dengan baik dan benar. Lagian gue Cuma ngungkapin fakta doang” ujar Rio santai, kemudian melenggang keluar kelas dengan menenteng tas ranselnya, kebiasaan Rio ketika pelajaran kimia. Kabur. Agni mendengus sambil melengos, yaiyalah telinga buat mendengar, sejak kapan jadi buat ngomong, batin Agni kesal. Sedangkan Sivia? terlihat masih cengo’ ketika melihat Rio yang berbicara panjang lebar dan bernarsis ria seperti itu pula.

Dari luar kelas, sepasang mata memperhatikan semua yang baru saja terjadi. Semuanya, tidak ada yang  terlewat sedikitpun, mulai dari dua gadis itu saling bercerita kemudian seorang pemuda yang tiba-tiba memotong pembicaraan mereka, dan hal yang paling mengejutkan adalah, pemuda yang dilihatnya itu membanggakan dirinya, satu hal yang sudah lama tidak dilihatnya selama beberapa tahun belakangan ini. apakah benar gadis manis itu yang dimaksud dalam mimpinya waktu itu? Jika benar, ia sungguh tidak ingin kehilangan lagi, setidaknya untuk saat ini. karena dia butuh gadis manis itu. Haruskah ia merebutnya?, satu hal yang tidak ingin dilakukannya lagi. Cukup waktu itu ia merebut ‘dia’ dari seseorang untuk menjadi miliknya. Tapi jika dilihat, seharusnya ia yang lebih berhak atas gadis manis itu, karena ia yang lebih dulu kenal dengannya. Egois ? memang, tapi ia tidak tau bagaimana jika gadis manis itu lebih memilih pemuda itu daripada dirinya?. Jika itu benar terjadi, siap-siap saja dia merasa kehilangan, untuk yang kesekian kalinya.

@_@
“Ag, lo langsung pulang?” tanya Alvin, ketika mereka –Alvin dan Agni- sedang berjalan menuju parkiran, Agni mengernyitkan dahinya, kemudian menggeleng perlahan.

“Kaya’nya ngga deh Pin, soalnya gue mau ke rumah sakit dulu” jawab Agni, Alvin tidak terlalu terkejut mendengarnya, karena ia sudah menduganya. “Kenapa Pin?” tanya Agni, kali ini sedikit mendongak untuk menatap Alvin yang berada disampingnya.

“Hah..!! ngga sih, gue Cuma mau ngajakin lo kerumah, soalnya Oma pengen ketemu sama lo. Kangen katanya” balas Alvin sambil tersenyum, Agni membalasnya, detik kemudian ekspresinya berubah.

“Duh, sorry banget Pin, bukannya gue ngga mau. Tapi gue udah terlanjur janji, ntar deh ya, kapan-kapan gue ikut sama lo” sesal Agni, Alvin mengangguk mengerti.

“Biasa aja kali Ag, ngga usah gitu banget” ujar Alvin, tangannya mengelus puncak kepala Agni lembut, Agni tersenyum manis.

“Eh iya, gue duluan ya Pin. Salam aja ya buat Oma” ujar Agni sebelum masuk ke taksi yang dicegatnya barusan. Alvin hanya mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya.

Dilihatnya taksi yang ditumpangi Agni sudah menghilang, Alvin mendesah perlahan. Ada rasa sesak tiba-tiba merasukinya, entah mengapa ketika mendengar tolakan halus dari Agni, Alvin merasa ada perasaan aneh pada dirinya, apalagi Alvin sudah tau alasan Agni menolak ajakannya barusan, untuk menjenguk Ray yang notabenenya adalah adik Rio. Mengingat itu, lagi-lagi Alvin merasa sesak. Apa ia kalah cepat dengan pemuda itu?

@_@
“Siang Ray…” sapa seorang gadis berperawakan tinggi, putih dan cantik dengan wajah blasterannya ketika memasuki ruang rawat Ray, ditangannya sudah ada bingkisan buah. Mendengar namanya dipanggil, Ray menoleh keasal suara dan langsung tersenyum lebar, tapi seketika senyumnya menghilang menjadi ekspresi tidak suka.

“Mau ngapain kamu kesini?” ketus Ray ketika melihat ‘tamu’nya. Terlihat sekali rasa tidak sukanya pada ‘tamu’nya itu.

“Ray kok gitu sih, kakak kan mau jengukin Ray. Masa’ ngga boleh sih” ujar gadis blasteran itu pada Ray, perlahan mencoba mendekat kearah Ray, Ray semakin menatapnya tidak suka.

“Ngga boleh. Lay ngga mau dijenguk kamu, KELUAL” usir Ray langsung sebelum gadis blasteran itu semakin mendekat. Tapi sepertinya gadis itu mengabaikan usiran Ray barusan, semakin lama ia semakin mendekat kearah Ray. “Lay bilang kelual, Lay ngga mau kamu disini” sambung Ray lagi, kali ini nada bicaranya semakin meninggi, dadanya naik-turun mencoba mengatur napasnya. Gadis blasteran itu terhenti satu meter sebelum ia berada didekat Ray.

“Ray ada apaan sih? Kok kakak denger kamu triak-triak” ujar seseorang langsung membuka pintu kamar rawat Ray, kontan Ray dan gadis blasteran itu menatap kearah pintu bersamaan.

“Kak Agni…!!!” panggil Ray manja tapi juga terlihat sekali kalau dia tidak suka dengan gadis dihadapannya itu. Orang itu –Agni- menatap Ray dan gadis blasteran itu bergantian, dilihatnya Ray agak bergetar, tanpa pikir panjang lagi, Agni langsung mendekat Ray yang langsung memeluknya erat.

“Ray, kenapa sayang?” tanya Agni lembut sambil mengelus rambut gondrong Ray dipelukannya.

“Suluh olang itu kelual kak, Lay ngga mau dia disini” ujar Ray perlahan, masih berada dipelukan Agni sambil menunjuk kearah ‘tamu’nya. Agni mengalihkan pandangannya pada gadis blasteran yang ditunjuk Ray, umurnya tidak beda jauh dengan Agni, ya sekitar seumuran dengan abangnya, Gabriel.

“Lho, kenapa disuruh keluar, dia kan mau jenguk Ray” ujar Agni sambil mengernyit heran. Ray mendongak, menatap Agni. Mata bonekanya terlihat berkaca-kaca dan memohon, Agni menghela napas kemudian mengangguk perlahan dan mengalihkan pandangannya pada gadis blasteran itu. “Maaf mbak, mending mbak keluar dulu deh. Kasian Raynya, mungkin lain kali mbak bisa kesini lagi” usir Agni halus, merasa tidak enak dengan ‘tamu’ Ray itu, gadis blasteran itu menghela napas panjang kemudian mencoba tersenyum, walaupun dengan terpaksa.

“Yaudah kalo gitu kakak pamit ya Ray, ini kakak taro’ disini aja ya” ujar gadis itu tersenyum paksa kemudian meletakkan bingkisannya dimeja dekat bed tempat Ray tidur. “Kalau begitu, saya permisi dulu” kali ini gadis itu mengalihkan pandangannya pada Agni, Agni mengangguk lemah.

“Tuh kakaknya udah pergi, kenapa sih Ray? Kok kakak itu ngga boleh jenguk Ray” tanya Agni setelah ia memastikan gadis itu sudah jauh dari kamar rawat Ray, Ray sedikit mengendurkan pelukannya kemudian menggeleng perlahan, sepertinya ia belum ingin bercerita mengapa ia mengusir gadis itu. “Yaudah kalo gitu sekarang Ray tidur ya, udah minum obat kan?” tanya Agni meyakinkan, Ray mengangguk sambil menguap dan merubah posisinya menjadi terbaring dibednya. Agni merapikan letak selimut Ray yang agak tersingkap. Perlahan Ray mulai memejamkan matanya.

@_@
“Lo kenapa Bang? Tumben daritadi diem aja” tanya Agni, ketika dirinya dan Gabriel sedang makan malam berdua, Gabriel menatap Agni sendu kemudian menghela napas sambil menggeleng.

“Ngga apa-apa kok de’” jawab Gabriel perlahan, Agni mengernyitkan dahi dan sesekali menatap Gabriel yang sedang memainkan makan malamnya.

“Kalo ngga apa-apa kenapa makanannya ngga lo makan? Itu kan makanan favorit lo bang” celetuk Agni menatap piring Gabriel yang masih terisi penuh oleh makanan. Gabriel menatap piringnya itu, cukup lama tapi sedetik kemudian Gabriel mendorong piringnya itu, sepertinya selera makannya mala mini seketika hilang.
Gabriel menghela napas, berat dan panjang. “Gue baru aja putus de’” cerita Gabriel, Agni cengo’. Segitu parahnya efek putus buat Gabriel sampai-sampai jadi tidak nafsu makan, Agni menggelengkan kepalanya.

“Masa’ Cuma gara-gara itu doang lo jadi ngga makan sih bang. Eh iya, emang sejak kapan lo punya pacar bang? Kok gue ngga tau ya” ceplos Agni dengan tampang polos dan lugunya, Gabriel berdecak kesal.

“Udah lumayan lama lah de’, gue udah jadian sama dia pas kita masih di Jogja dan dia tinggal disini” ujar Gabriel menatap kosong langit-langit rumahnya. Agni cukup terkejut mendengarnya.

“Berarti lo long distance dong bang?” tanya Agni meyakinkan, sepertinya ia cukup tertarik dengan cerita Gabriel dan ikut mengabaikan makan malamnya. Gabriel mengangguk perlahan.

“Iya de’, ya kira-kira udah satu tahun lebihlah. Gue jadian sama dia” cerita Gabriel kali ini menatap Agni yang terlihat sangat antusias dengan ceritanya. Agni berdecak kagum, ternyata abangnya ini tipe cowok yang setia juga.

“Wihh, keren lo bang. Ngga nyangka gue” decak Agni, Gabriel hanya tersenyum lemah. “Emang lo kenapa bisa putus bang?” tanya Agni untuk yang kesekian kalinya. Gabriel mengangkat bahunya perlahan.

“Gue juga ngga tau de’, tiba-tiba tadi dia ngajak gue ketemuan. Gue kira sih ya… Cuma ngelepas kangen doang eh ternyata tiba-tiba dia mutusin gue. Pas gue mau minta penjelasan, dia malah ninggalin gue” cerita Gabriel, Agni turut prihatin melihat nasib kisah cinta abangnya.

“Lo… sayang banget ya bang sama tuh cewek?” tanya Agni sedikit berhati-hati, takut kalau nanti perkataannya malah membuat Gabriel semakin terluka.

“Yaiyalah de’, gue aja udah jadian setahun lebih. Mana long distance pula. Ngga mungkin kan kalo gue Cuma main-main” jawab Gabriel, Agni mengangguk setuju. Agni berdiri dari duduknya kemudian mendekati Gabriel yang tertunduk, mengelus pundak Gabriel perlahan.

“Lo sabar aja bang, gue yakin kok ada cewek yang lebih baik dari dia buat lo” hibur Agni, masih tetap mengusap pundak Gabriel, Gabriel mendongak menatap adiknya itu kemudian tersenyum manis.

“Thanks dede’, ngga nyangka lo bisa dewasa juga ya” ujar Gabriel sambil mengacak poni Agni yang semakin memanjang, Agni manyun sambil menepis tangan Gabriel dan merapikan lagi poninya.
 
@_@
“Apiiiiiiinnnn” teriak Agni ketika melihat Alvin berjalan menuju ke parkiran, merasa namanya dipanggil Alvin menoleh keasal suara. Dilihatnya Agni sedang berlari kearahnya.

“Kenapa Ag?” tanya Alvin ketika agni sudah berada didepannya sambil menunduk dan mengatur napasnya, Alvin terkekeh pelan melihat Agni yang napasnya masih panjang-pendek.

“Ngga apa-apa sih, Cuma manggil doang” jawab Agni santai setelah bisa mengatur napasnya, Alvin cengo’ tapi detik kemudian Alvin menggelengkan kepala sambil tersenyum dan mengacak rambut Agni perlahan, Agni manyun. “Eh iya Pin, gue ke rumah lo hari ini aja ya. Mumpung gue ngga ada acara, lagian gue juga udah kangen sama nasi gorengnya Oma” cerocos Agni, Alvin tersenyum tipis sambil mengangguk.

“Eh, emang lo ngga ke rumah sakit lagi Ag?” tanya Alvin dengan pandangan menyelidiknya, Agni menggeleng.

“Ngga Pin, soalnya kemaren Ray udah keluar dari rumah sakit” jawab Agni singkat, Alvin hanya membulatkan mulutnya. “Kok lo ngga nanya sih Pin, Ray itu siapa? Emang lo udah tau ya Ray itu siapa?” tanya Agni polos, Alvin yang ditanya seperti itu mendadak gagap dan bingung harus menjawab apa pada Agni.

“Hah… ng… ya… gu… gue taulah, Ray adiknya Rio kan” jawab Alvin jujur, walaupun dengan penyakit gagap mendadaknya itu. Agni mengernyit heran, tapi akhirnya ia mengangguk juga. Alvin menghela napas lega karena Agni tidak banyak bertanya lagi soal itu. “Buruan masuk Ag” perintah Alvin sebelum ia masuk ke Volvo-nya, Agni menurutinya.

“Gimana kabar Oma Pin? Baik-baik aja kan?” tanya Agni ketika mereka sudah didalam Volvo Alvin, Alvin mengangguk tanpa menoleh kearah Agni disebelahnya.

“Oma baik-baik aja Ag. Eh iya, gimana kabar Iyel, bunda sama ayah lo? Baik juga kan” Alvin balik bertanya pada Agni, Agni mengangguk antusias. “Hahaha, kangen gue sama Iyel. Gimana ya dia sekarang, masih kaya’ dulu ngga ya? Gabriel, umur 4 tahun masih aja minum susu pake dot” tawa Alvin dan Agni seketika pecah mengingat itu, memang benar apa yang dikatakan Alvin, Gabriel mulai berhenti minum susu pake dot itu saat mulai masuk TK, itupun karena dia diejek oleh teman sekolahnya.

“Hahaha, masih inget aja lo, Pin. Bang Iyel pasti malu banget dah kalo dia tau lo masih inget aib dia” ujar Agni disela tawanya, Alvin hanya tersenyum sambil sesekali menatap kearah Agni. Ternyata lo ngga berubah ya, batin Alvin tersenyum melihat Agni yang sedari tadi sulit mengendalikan tawanya.

Volvo Alvin mulai memasuki komplek perumahan, terlihat dua pilar tinggi digerbangnya. Agni sempat berdecak kagum, ternyata rumah baru Alvin berada lumayan jauh dari rumahnya yang lama. Agni semakin tertegun melihat sekelilingnya, kompleks dengan arsitektur bangunan eropa, dan bergaya minimalis. Walaupun begitu, tidak mengurangi kesan mewahnya. Perlahan Alvin mulai memasuki halaman sebuah rumah mewah, disudut kanan terdapat semacam taman bunga, dan tidak jauh dari itu ada air mancur kecil, menambah kesan asri pada taman itu. Agni turun dari Volvo Alvin, karena Alvin ingin memasukkan Volvo-nya ke garasi, Agni masih menatap kearah Volvo Alvin, perlahan pintu garasi itu terbuka dengan sendirinya. Volvo Alvin mulai masuk dan Agni tersentak kaget melihat sesuatu didalam garasi itu, sesuatu yang ditutupi dengan kain hitam. Walaupun ditutupi seperti itu, Agni bisa mengetahui apa yang ada dibaliknya.

“Itu kan….” Pikir Agni menatap kearah benda yang ditutup kain hitam itu.



to be continued.... ^_^

Jumat, 15 Juli 2011

You're Mine #5th

Seperti kemarin kantin kelas XII ramai oleh pengunjung yang dominan kaum hawa. wangi semerebak akan menyambut ketika menginjakkan kaki dikantin, apalagi kalau bukan tingkah dari para siswi yang kena sindrom murid baru itu. Para siswa yang tidak dapat duduk tentu saja mengeluh dengan adanya kejadian aneh dan langkah ini. Cuma ada satu hal yang membuat kantin menjadi penuh kaum hawa dengan berbagai gayanya, dan itu adalah ulah dari seorang Gabriel Stevent Damanik, siswa baru yang katanya pindahan dari Batam, kulit khas Indonesianya terlihas eksotis, dengan senyum manisnya membuat siapapun yang melihat itu jadi panas-dingin, dan bukti itu akan sangat disetujui oleh GabFC, sekumpulan manusia yang dominan kaum hawa mengatas namakan sebagai pengemar seorang Gabriel Stevent Damanik.

Ajaib, baru dua hari Gabriel atau yang biasa disapa Iyel menginjakkan kakinya di Kusuma Bangsa ia sudah punya fans dan itu tersebar dari kelas X sampai kelas XII. Pembawaan Gabriel yang memang ramah itulah yang menjadi tolak ukur mereka menyukai Gabriel, ditambah dengan senyum manis yang senantiasa terpasang diwajah tampannya.

Agni mengernyit heran, melihat kantin kelas XII yang penuh bukan hanya siswa kelas XII melainkan juga dari kelas X dan XI. Ia mengalihkan pandangannya pada Shilla yang sedang sibuk dengan novelnya, kebiasaan Shilla baca novel diwaktu senggang walaupun itu sedang dijalan menuju kantin seperti sekarang. Saat ini mereka sedang berada didepan pintu kantin, dan dari sini mereka bisa melihat jelas segerombolan siswi yang mengelilingi satu bangku. Perlahan Agni dan Shilla menerobos kerumunan itu dan akhirnya berhasil.

“Ada apaan sih Shill? Rame banget” tanya Agni sambil sedikit berjinjit mencoba melihat apa yang membuat kantin itu menjelma menjadi pasar malam.

“Paling juga ulah GabFC” jawab Shilla singkat, tanpa beralih dari novelnya. Agni mengernyit, GabFC? Pikir Agni heran, menatap Shilla yang masih sibuk dengan novelnya.

“GabFC? Apaan tuh Shill? Klub bola ya?” tanya Agni polos, kali ini mengalihkan pandangannya pada Shilla, Shilla menutup novelnya dan menatap Agni gemas.

“Itu nama buat fansnya si Gabriel Ag, masa’ lo ngga tau sih” jawab Shilla, mereka mulai mencari tempat duduk setelah mendapatkan pesanan mereka.

“Gabriel??? Siapa tuh? Kok gue baru denger ya” Agni menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba mengingat adakah siswa Kusuma Bangsa yang bernama Gabriel, tapi hasilnya nihil. Shilla menoyor temannya itu gemas, Agni mengelus kepalanya pelan.

“Lo gimana sih Ag? Masa’ ngga tau Gabriel? Dia anak baru dikelas kita. Makanya pikiran lo itu jangan ke Cakka mulu” cerocos Shilla panjang lebar, Agni tersipu sendiri mendengar nama Cakka disebut Shilla barusan. Tapi detik kemudian ia kembali berpikir, mencoba mengingat makhluk dikelasnya.

Agni menepuk jidat perlahan, “Oh, yang duduk sama Debo itu ya? Setau gue Debo kan kemaren-kemaren duduk sendirian” ujar dan tanya Agni, Shilla mengangguk setuju dan mulai menyantap pesanan mereka.

“Eh iya Ag, tumben lo ngga bareng Cakka” ujar Shilla ditengah kegiatannya menyantap batagor pesanannya tadi. Agni mengangkat bahunya perlahan.

“Ngga tau, lagi di lapangan kali. kan emang biasanya dia maen footsal sama yang lain” jawab Agni cuek, menikmati bakso dihadapannya, sesekali terlihat ia meniup asap yang mengepul dari baksonya itu. “Kenapa Shill? Tumben nanyain, kangen Ray ya” ujar Agni memandang Shilla dengan polosnya, Shilla menatapnya garang, agni nyengir garing melihat ekspresi menyeramkan Shilla.

“Sembarangan aja lo” seketika kepala Agni menjadi korban toyoran Shilla lagi, Agni meringis sambil menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya._.V. Shilla melengos melihatnya.

Tanpa dua orang gadis ini sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka. Bukan mereka, Melainkan hanya seorang diantaranya, hanya gadis manis yang berkulit tidak jauh beda dengan warna kulitnya, rambut diikat asal dan senyum manis hanya dengan menarik ujung bibirnya itu yang sedari tadi diperhatikannya sampai-sampai ia mengabaikan sejumlah gadis lain yang mungkin lebih cantik dari gadis itu, mengelilingi tempat ia duduk sekarang. Pemuda ini ikut tersenyum, ketika gadis manis itu juga tersenyum disana. Apakah ia jatuh cinta? Semenjak pertemuan pertama mereka kemarin, dengan dihiasi adegan tabrakan membuatnya tidak bisa menyingkirkan wajah manis gadis itu dari ingatannya. Gabriel –pemuda itu- mengepalkan tangannya, wajahnya berubah menjadi agak merah ketika melihat Agni -gadis manis- itu tertawa lepas bersama pemuda lain –Cakka- yang notabenenya adalah pacar Agni. Tapi ada yang berbeda dari tatapan Gabriel, itu bukan tatapan cemburu melainkan tatapan dendam. Dendam yang teramat baginya.

“De, itu siapa sih?” akhirnya Gabriel berani bertanya pada Debo yang menemaninya saat ini.

“Yang mana?” Debo mengalihkan pandangannya menuju arah yang ditunjuk Gabriel, debo mengernyit, agak bingung siapa yang dimaksud Gabriel, karena disana ada sekitar lima orang.

“Itu tu, cewek manis sama cowok yang gaya harajuku gitu” Gabriel memperjelas siapa yang dimaksudnya sambil menunjuk kearah Cakka yang saat itu mengelus kepala Agni lembut.

“Ouw, Agni maksud lo?” Debo mencoba meyakinkan Gabriel, Gabriel menatap Debo kemudian terlihat berpikir, “Ya kalo yang lo maksud cewek manis itu yang rambutnya diikat asal…. itu emang Agni, nah yang disebelahnya itu Cakka, cowoknya” jelas Debo, kembali menyibukkan diri dengan santapannya, tanpa ada yang mengetahui Gabriel tersenyum penuh arti sambil terus menatap pemandangan ‘romantis’ beberapa meter didepannya.

***
Kusuma Bangsa kembali dibuat heboh. Seperti biasa, Kusuma Bangsa mengadakan battle footsal antar kelas, dan itu dilakukan setiap akhir pekan, dimana setiap ekskul tidak memiliki jadwal dan menjadi kesempatan mereka untuk menonton olahraga yang menjadi favorit di Kusuma Bangsa, khususnya untuk siswa. Selain untuk menunjukkan skill mereka dalam mengocek bola, footsal Kusuma Bangsa juga jadi ajang unjuk gigi bagi siswa yang memang memiliki tampang diatas rata-rata. Siswa Kusuma Bangsa lebih dominan ke sepak bola dan footsal daripada basket, Kusuma Bangsa juga unggul dibasket tapi anehnya itu hanya untuk klub basket putri yang notabenenya diketuai oleh seorang Alyssa Saufika Umari atau yang lebih akrab disapa Ify, kapten tim basket putri memiliki shoot mematikan yang lawan berpikir berkali-kali untuk tidak menjaga ketat Ify ketika bertanding dan jika sudah melakukan three point, 75 % bola itu sudah dipastikan masuk.
Tim yang bertanding hati ini dari kelas XII IPA 2 dan XII IPA 3, yah sepanjang sejarah, pertemuan kedua kelas ini memang lebih dominan ke XII IPA 3 yang dipimpin oleh Cakka, striker sekaligus kapten dengan keunggulan di tendangan kaki kirinya. Tapi ada yang berbeda dari para pemain kelas XII IPA 2, mereka terlihat tenang-tenang saja biasanya jika sudah berhadapan dengan XII IPA 3, mereka sudah uring-uringan sendiri.

Wasit (dadakan) –satpam sekolah- terlihat memasuki lapangan, ditangannya sudah ada pluit. Terlihat dari kedua belah pihak yang bermain sudah bersiap dipinggir lapangan, menunggu sang wasit meniupkan pluitnya.

Priiiiiiittttttt….

Pluit sudah dibunyikan, para pemain sudah berada dilapangan. Kelas XII IPA 2 diwakili oleh Debo, Lintar, Dayat, Sion, Goldi dan… Gabriel. Para GabFC berteriak histeris ketika melihat idola mereka berdiri ditengah lapangan, Gabriel hanya tersenyum melihatnya. Sedangkan kelas XII IPA 3 diwakili oleh Riko, Alvin, Ray, Kiki, Patton dan… Obiet. Para pendukung kelas XII IPA 3 mengernyit heran, kemana Cakka?, mungkin begitu pikiran mereka ketika tidak melihat keberadaan Cakka ditengah lapangan dan digantikan oleh Obiet. Debo maju sebagai kapten XII IPA 2 dan dari kelas XII IPA 3 diwakili oleh Alvin. Mereka berdiri berhadapan, disamping mereka ada wasit yang seperti biasa menjelaskan peraturan permainan. Wasit mengeluarkan koin, mereka memilih dan setelah dilempar kelas XII IPA 3 yang berhak melakukan kick off pertama. Sebelum kembali ke tempat mereka, keduanya saling bersalaman. Alvin dan Riko siap melakukan kick off. Wasit menganggkat tangan, dan…Priiiiiiiitttttt….Pluit dibunyikan kembali, segera saja Alvin dan Riko melakukan kick off.

***
“Kok kamu nganterin aku sih Kka? Ngga ikut main” tanya Agni, sedikit heran ketika Cakka lebih memilih mengantarnya daripada bertanding footsal, salah satu kesukaannya. Saat ini mereka sedang berada di café Cakka waktu itu, ketika akan mengantar Agni pulang, tiba-tiba Cakka berputar arah menjadi menuju ke cafénya.

“Masa’ iya aku ninggalin kamu sendiri sih Ag, mana kamu pucet gitu lagi” jawab Cakka singkat cukup membuat Agni terdiam, bingung bagaimana menjawab pernyataan Cakka barusan.

“Kan aku bisa nunggu kamu Kka, sayang banget kamu ngga main. Denger-denger si Gabriel ikut main, katanya sih dia lumayan jago main bolanya” jelas Agni, Cakka menngernyitkan dahinya, heran. Selama bersekolah di Kusuma Bangsa, baru kali ini dia mendengar nama Gabriel.

“Gabriel…???” ujar Cakka seolah memastikan, Agni mengangguk yakin. “Gabriel siapa? Kok aku baru denger ya” lanjut Cakka, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

“Yaiyalah Kka kamu baru denger, Gabriel itu murid baru dikelas aku. Aku aja tadi taunya dari Shilla. Kata Shilla sih si Gabriel itu malah udah punya Fans Club sendiri lho Kka, namanya kalo ngga salah GabFC” cerocos Agni semangat, Cakka menatapnya penuh selidik, Agni merasa risih diperhatikan seperti itu oleh Cakka. “Kamu kok ngeliatinnya gitu banget sih Kka?” tanya Agni, cukup ngeri dengan pandangan Cakka tadi.

“Kamu kok semangat banget sih Ag ngejelasin tentang si Gabriel-Gabriel itu, mana tau lagi nama Fans Clubnya, jangan-jangan kamu ikut juga ya di Fans Club si Gabriel itu” ceplos Cakka, menatap Agni masih dengan pandangan penuh selidik, Agni tersenyum geli melihat reaksi Cakka.

“Rencananya sih gitu Kka, menurut kamu gimana?” jawab dan tanya Agni, balik menggoda Cakka, Cakka yang mendengar itu langsung manyun.

“Ngga boleh” potong Cakka cepat, sorot matanya mengatakan bahwa ia tidak ingin hal itu benar-benar terjadi, melihat Agni tau tentang Gabriel itu aja Cakka udah ketar-ketir, gimana kalo Agni beneran ikut GabFC?, Cakka tidak bisa membayangkan hal itu.

“Hahahahah, kamu lucu banget sih Kka. Ya, ngga mungkinlah aku ikut yang kaya’ gitu, ngga penting amat sih. Hahahaha” ujar Agni tertawa lepas melihat reaksi Cakka barusan, Cakka menatap Agni takjub, jantungnya bekerja diatas batas normal ketika melihat Agni tertawa seperti sekarang, momen yang akan selalu tersimpan baik di memory otak Cakka. “Kenapa diem??” tawa agni seketika berhenti ketika Cakka menatapnya seperti itu.

“Ngga, Cuma mau liat kamu ketawa aja. Ternyata lebih manis ya” ujar Cakka, masih menatap Agni dengan pandangan yang… seperti mengisyaratkan kalau gadis dihadapannya ini benar-benar ‘wah’. Agni speechless mendengar penuturan Cakka tadi, tiba-tiba suasana hening menghampiri mereka, yang terdengar hanya desahan napas keduanya. Cakka masih diposisi semula, menatap Agni takjub, sedangkan Agni? Mencoba mengalihkan pandangannya dari Cakka dan sedikit meredam kerja jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang. Lama, mereka dalam posisi seperti itu, sampai akhirnya…

“Bos, didepan ada mas Deva” teriakan Lintar, salah satu kariawan Cakka di Kka’s World, kontan membuat keduanya tersentak dan tersadar suasana yang aneh barusan. Cakka berdiri kemudia berjalan keluar dari ruangannya menghampiri Deva yang sudah ada didepan dengan Mbak Zahra –pengasuh Deva-.

“Deva kok kesini? Tumben banget ngga ngasih tau kak Cakka dulu” tanya Cakka pada Deva yang sibuk dengan cokelatnya, Deva menatap Cakka kemudian tak lama merentangkan tangannya, minta digendong Cakka. Cakka tersenyum dan langsung menggendong Deva.

“Depa bosen dirumah, makanya kesini” jawab Deva singkat, masih sibuk dengan cokelat ditangannya. Cakka tersenyum melihat tingkah adiknya itu.

“Oh iya mbak, Mbak Zahra pulang aja, biar ntar Deva pulang bareng Cakka” ujar Cakka pada Mbak Zahra, Mbak Zahra mengangguk kemudian berjalan keluar café yang sudah terlihat ramai itu. “Dev, kakak punya kejutan buat kamu” ujar Cakka, Deva mengernyitkan dahinya, kejutan apa?, pikirnya. Detik kemudian Deva mengangguk antusias, cukup penasaran dengan kejutan dari kakaknya itu. Cakka tersenyum melihat reaksi Deva, kemudian mengajak Deva masuk ke ruangannya, tempat dimana Agni menunggu. “Tuh, liat siapa?” ujar Cakka sambil menunjuk gadisnya yang sedang berdiri membelakangi dirinya dan Deva, Deva kembali mengernyit heran, tak lama gadis itu berbalik dan sedikiit tersentak dengan kedatangan Cakka dan Deva, Agni -gadis itu- tersenyum manis melihat Deva. Deva membalasnya.

“Kak Agni…!!!”teriak Deva semangat, Cakka sampai harus menjauhkan telinganya ketika Deva berteriak tadi. “Turunin Depa kak” perintah Deva, Cakka langsung menurunkan adiknya  itu, seketika Deva langsung menghampiri Agni yang sudah berjongkok, menyamakan tingginya dengan Deva sambil merentangkan tangannya. Langsung saja Deva memeluk Agni dengan manjanya. Cakka tersenyum melihat adegan didepannya, tidak menyangka, padahal Deva dan Agni baru satu kali bertemu tapi seperti sudah kenal lama, dan aneh bagi Cakka, biasanya Deva cukup susah untuk akrab dengan orang baru, tapi dengan Agni? Mereka terlihat sangat akrab. “Depa kangen sama kak Agni” ujar Deva, masih berada dipelukan Agni, Agni tersenyum.

“Kak Agni juga kangen sama Deva” balas Agni, sedikit merenggangkan pelukannya.

***
Cakka disambut dengan tatapan tajam dari hampir seluruh penghuni kelasnya yang ‘amazing’ itu, Cakka mengernyitkan dahinya. Sedikit heran dengan apa yang dilakukan teman-temannya, dengan pandangan bingung dan penuh tanda tanya, Cakka berjalan menuju bangkunya yang terletak disudut sebelah kiri sambil sesekali menoleh kearah teman-temannya. Ada apa dengan teman-temannya itu?, pikir Cakka, masih tidak habis pikir kalau kelas ‘amazing’ bisa diam dengan kompak. Cakka menatap kedua sahabatnya dengan pandangan yang sama, penuh tanda tanya.

“Kenapa sih? Tumben diem” tanya Cakka, langsung duduk dibangkunya yang berada tepat disebelah Alvin, Alvin mengalihkan pandangannya dari komiknya pada Cakka, kemudian menghela napas.

“Kemaren kita kalah, anak-anak pada nyalahin lo. Karna kemaren lo lebih milih nganter Agni daripada tanding” jelas Alvin, Cakka kembali mengernyitkan dahinya.

“Kok bisa sih, biasanya walaupun ngga ada gue kita masih menang. Apalagi lawannya IPA 2” ujar Cakka sangsi dengan penjelasan Alvin. Alvin mengangkat bahu perlahan kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya, membaca komik.

“Kemaren mereka ngajak si Gabriel. Gila tuh anak mainnya keren banget Kka, dia aja top scorer” celetuk Ray, tanpa mengalihkan pandangan dari PRnya.

“Gabriel???” ujar Cakka. Ray dan Alvin serentak mengangguk mantap.

“Mainnya sebagus lo Kka, gue aja ngga nyangka. Wajar aja kemaren anak-anak IPA 2 keliatan tenang-tenang aja. Biasanya kan mereka gelisah kalo udah lawan kita. Wajar aja sih kalo kemaren mereka malah santai banget. Ternyata mereka punya senjata rahasia” cerita Ray panjang lebar, Cakka jadi penasaran sendiri bagaimana sosok Gabriel itu sebenarnya?, kemarin Agni yang cerita soal Gabriel dan fansnya itu, sekarang Ray juga cerita soal Gabriel itu tentang hebatnya dia main bola.

“Ngelamun aja lo, noh Miss. Angel udah masuk” ceplos Alvin, sambil menyimpan komiknya dan mulai serius menyimak materi yang diberikan Miss Angel.

“Udahlah, gue lagi males belajar, gue duluan sob. Met tidur ya” bukannya ikut menyimak penjelasan Miss Angel, Cakka lebih memilih pergi ke dunia mimpinya. Kelas yang sudah menjelma jadi pasar tradisional itu, tidak sedikitpun mengurangi niat Cakka untuk menjelajahi dunia mimpinya itu.


***
“Kka…” panggil Agni sambil menggoyangkan tangan Cakka. Saat ini mereka sedang berada di kantin, tentu saja dengan Shilla, Ray dan Alvin yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.

“Ehmmm” hanya itu yang keluar dari mulut Cakka, tangan sebelah kirinya bertugas untuk menopang kepalanya, matanya terpejam.

Ternyata tidur dari bel masuk berbunyi sampai istirahat tidak mengurangi rasa ngantuk yang menyerangnya. Merasa tidak mendapat tanggapan, Agni berhenti memanggil Cakka, ia malah melipat tangannya didada sambil menggelembungkan pipinya, BT juga kalau diabaikan seperti itu. Cakka yang merasa tidak ada lagi gangguan mencoba membuka sebelah matanya, melihat kearah Agni yang masih diposisi semula, tangan dilipat didepan dada sambil manyun,
Cakka tersenyum tipis melihatnyam, lucu banget kalo lagi ngambek gitu, batin Cakka.

“Ngambek mbak???” goda Cakka, sepertinya rasa ngantuk yang tadi menyerangnya sudah pergi entah kemana.

“Ngga” ketus Agni tanpa mengubah posisinya, Cakka tersenyum lebar melihat gadisnya itu manyun. Tidak tahan melihat ekspresi lucu Agni itu, tangan Cakka sudah gatal untuk mencubit pipi chubby Agni. “Aww,… ih… Cakka apaan sih. Sakit tau” gerutu Agni melepas tangan Cakka, kemudian mengelus pipi chubby-nya yang sudah merah akibat ulah Cakka. Bukannya takut, Cakka malah tersenyum lebar.

“Hati-hati aja lo, Ag. Cakka emang sering sembarangan kaya’ gitu, siap-siap aja lo jadi korban dia terus” ceplos Ray asal, Agni menatap Cakka sangsi, langsung saja Ray mendapat hadiah toyoran gratis dari Cakka.

“Jangan percaya Ag, si Ray bo’ong tu” ujar Cakka manyun, Agni terkekeh pelan melihat ekspresi Cakka seperti itu.

“Ag, pulang ntar jadi ngga?” tanya Shilla yang daritadi sibuk dengan BlackBerrynya, Agni mengernyitkan dahinya, Shilla menatap Agni garang, seolah mengingatkan Agni, cukup lama Agni larut dalam pikirannya sendiri, detik berikutnya ia menepuk jidatnya perlahan.

“Jadi dong, diirumah Gabriel kan?” jawab dan tanya Agni, Shilla mengangguk pasti. Cakka menatap kedua cewek dihadapan ini dengan bingung.

“Emang mau kemana Ag? Pake janjian segala” ujar Cakka, terlihat jelas ada nada tidak suka ketika ia bertanya barusan.

“Mau ke rumah Gabriel, kita….” Belum selesai Agni ngomong, Cakka langsung motong dengan tatapan penuh selidiknya.

“Mau ngapain ke rumah si Gabriel itu?” tanya Cakka langsung saja menghadap Agni yang duduk disebelahnya.

“Ngga mau ngapa-ngapain, Cuma kerja kelompok doang. Kebeneran aku, Shilla, Debo sama Gabriel itu satu kelompok, dan rencananya kita mau bikin tugasnya dirumah Gabriel” jelas Agni panjang lebar kemudian menyeruput jus mangga dihadapannya.

“Bener ngga ngapa-ngapain?” Cakka kembali meyakinkan, Agni menatapnya malas sekaligus gemas, ngga percayaan amat sih, pikir Agni.

“Iya Cakka sayang…” jawab Agni dengan penuh tekanan dalam nada bicaranya, Cakka menghela napas sedangkan ketiga temannya yang menyaksikan itu hanya menggelengkan kepala. Ternyata Cakka over protective juga, mungkin seperti itu yang terlintas dipikiran ketiganya.

Lama mereka terdiam dan larut dalam pikiran dan fantasi masing-masing. Beberapa siswa menatap mereka penuh tanya dan kagum, tidak biasanya Tom and Jerry Kusuma Bangsa tidak lagi bertengkar, hal itu membuat para pedagang dikantin mengelus dada lega, setidaknya mereka tidak perlu cemas ada piring atau gelas yang pecah akibat ulah kedua manusia itu. Mereka masih terdiam, tapi juga bingung. Jam istirahat harusnya sudah berakhir dari 20 menit yang lalu, tapi sampai sekarang bel belum juga berbunyi.

“Eh, kok lo semua pada denger bel bunyi kaga? Kok dari tadi ngga bunyi-bunyi ya” ujar Ray sambil menatap layar BlackBerrynya, memastikan bahwa ia tidak salah liat jam.

“Iya juga sih, ini kan udah lebih dari 20 menit” sambung Alvin, sesekali melihat ke sekelilingnya, masih rame, pikir Alvin.

“Eh Ko, ada apaan sih? Kok belum bel daritadi” tanya Cakka pada Riko yang kebetulan llewat dihadapannya. Riko mengernyit heran.

“Lo semua ngga denger tadi ada pengumuman guru-guru pada rapat?” tanya Riko seolah meyakinkan, kelimanya kompak menggeleng. Riko berdecak, “Makanya jangan pacaran mulu lo Kka” ceplos Riko polos, kontan Cakka menoyor Riko pelan.

“Sialan lo, kaga ada hubungannya sarap”

“Eh, ada lagi. Ini dia akibatnya, gara-gara keasyikan pacaran lo kaga denger pengumuman” ujar Riko tidak mau ngalah, Cakka menggaruk belakang telinganya, iya juga sih, batin Cakka, kemudian nyengir. Riko melengos kesal, kemudian meninggalkan kelimanya.

“Agni, hidung lo berdarah” teriak Shilla tercekat menatap pemandangan dihadapannya, kontan Cakka, Ray dan Alvin menatap kearah Agni.

Benar saja, hidung Agni terus mengeluarkan darah, Cakka menatapnya kemudian dengan segera mengambil tisu yang ada diatas meja untuk mengelap darah yang sudah mulai menetes mengotori rok sekolah Agni, Cakka membantu Agni mendongakkan kepalanya, berharap bisa sedikit menghentikan laju darahnya. Agni sendiri awalnya tidak sadar kalau bukan karena teriakan Shilla barusan, Agni memejamkan matanya, pandangannya mulai berkunang, Agni sedikit limbung. Untung saja Cakka yang berada tepat disebelahnya segera menahan tubuh Agni agar tidak jatuh.

“Ag… kita ke UKS aja ya” tanpa menunggu jawaban Agni, Cakka langsung menggendong Agni. Melihat Cakka melakukan hal gentle seperti itu, tentu saja membuat semua penghuni kantin yang melihatnya jadi histeris, khususnya para cewek. Ray, Shilla dan Alvin mengikuti Cakka dari belakang, mereka juga sama cemasnya melihat keadaan Agni.

Tanpa ada yang tau, ada dua pasang mata yang menatap adegan ‘romantis’ itu dengan kesal dan penuh amarah. Keduanya kompak mengepalkan tangan mereka, dipikiran mereka sudah terlintas berbagai cara untuk menghancurkan keduanya, sepertinya rasa tidak suka dan dendam mereka sudah mendarah daging, tidak bisa dipisahkan apalagi dihilangkan begitu saja. Mereka larut dalam pikiran masing-masing dan detik kemudian tanpa mereka sadari mereka tersenyum sinis kompak, sepertinya mereka sudah menemukan cara untuk menghancurkan atau setidaknya membalaskan dendam mereka.

***
“Agni kenapa?” tanya Rahmi, cewek berjilbab yang jadi salah satu anggota PMR. Sedikit terkejut melihat Agni yang berada digendongan Cakka masuk ke UKS, raut cemas terpancar jelas diwajah tampan Cakka.

“Kita juga ngga tau Mi, tiba-tiba si Agni mimisan trus pingsan gini” jelas Shilla bergetar, tidak tega melihat kondisi sahabatnya seperti itu.

Rahmi mengangguk mengerti, kemudian mencoba membersihkan sisa darah yang masih berada disekitar hidung Agni, perlahan Rahmi mulai mendekatkan minyak kayu putih ke hidung Agni, berharap itu bisa menyadarkan gadis manis ini. cukup lama, mereka sempat tegang karena Agni belum juga menunjukkan kondisi kalau dia akan sadar. Wajahnya terlihat pucat pasi, suhu badannya juga agak meninggi. Rahmi semakin cemas, sepertinya usahanya untuk membangunkan Agni sia-sia, tapi semuanya bernapas lega ketika Agni mulai mengerang dan sedikit mengerjap.

“Agni kamu ngga apa-apa kan?” tanya Cakka memastikan keadaan gadisnya itu baik-baik saja. Agni hanya mengangguk lemah sambil tersenyum tipis.

“Nih Ag, minum dulu” ujar Rahmi, tiba-tiba saja sudah datang dengan segelas teh hangat ditangannya. Agni bangkit dari posisi tidurnya dibantu Cakka, kemudian minum teh pemberian Rahmi barusan, setelah itu Agni kembali ke posisi semula. Berguling dibed UKS.

“Yaudah, kamu istirahat aja Ag. Kita juga ngga mungkin masuk kelas lagi, ini aja tinggal nunggu bel pulang” perintah Cakka, Agni kembali mengangguk pelan kemudian perlahan memejamkan matanya, mencoba sedikit mengurangi rasa sakit dikepalanya. Cakka duduk dikursi yang berada disebelah bed tidur Agni, tangannya mengelus kepala Agni perlahan, matanya menatap Agni sayu seolah ia bisa memberikan kekuatan dengan itu.

“Kka, kita duluan ya. Sekalian mau ngambil tas lo berdua” ujar Alvin, menepuk bahu Cakka perlahan, Cakka mengangguk tanpa menatap kearah Alvin. Matanya masih menatap Agni yang sepertinya sudah tertidur, terdengar dengkuran halus.

Sepeninggal Ray, Shilla dan Alvin. Cakka masih diposisinya semula, mengelus kepala Agni pelan. Entah mengapa ketika melihat Agni seperti tadi, darah yang mengucur deras dari hidungnya, jantung Cakka serasa berhenti berdetak, otaknya serasa beku, ia seperti orang linglung, bingung ingin melakukan apa untuk menolong gadisnya itu. Tiba-tiba rasa bersalah merasuk dalam pikiran dan hati Cakka, ia tidak ingin melakukan kesalahan lagi, cukup sekali. Cakka menghela napas, kembali dilihatnya Agni yang masih terpejam, kemudian ia tersenyum manis menatap wajah polos gadisnya itu ketika tertidur, lebih cantik dan manis dari biasanya, tanpa Cakka sadari perlahan wajahnya mulai mendekat kearah Agni, Cakka sudah bisa melihat bulu mata Agni yang panjang dan lurus itu, semakin mendekat sampai akhirnya Cakka seperti tersadar, seketika ia menjauhkan wajahnya dari wajah polos Agni, kemudian menggeleng cepat. Gila, gue mau ngapain tadi, batin Cakka, masih menggelengkan kepalanya. Tanpa Cakka sadari Agni menatap Cakka sambil mengernyitkan dahinya, kenapa Cakka geleng-geleng, pikir Agni.

“Kka, kamu kenapa? Geleng-geleng gitu” tanya Agni pelan tapi sanggup membuat Cakka tersentak kaget, hampir terjungkal dari kursi tempatnya duduk.

“Astaga Ag, kamu ngagetin aja deh. Hampir aja aku jatuh tadi” ujar Cakka sambil mengelus dadanya perlahan, mencoba menetralisir rasa kagetnya. Agni semakin mengernyitkan dahinya. “Eh, kamu udah sadar Ag. Ada yang sakit ngga?” tanya Cakka sepertinya baru menyadari kalau Agni sudah sadar.

Agni menggeleng perlahan, “Ngga kok Kka. Eh iya, yang lain kemana?” tanya Agni, ketika melihat UKS yang sepi itu.

“Yang lain pada ke kelas, kan bentar lagi bel jadi mau sekalian ngambil tas” jawab Cakka, Agni mengangguk perlahan. Tak berapa lama, bel tanda pulang berbunyi, dan Ray datang bersama Alvin sambil membawa tas Cakka, selang beberapa menit kemudian Shilla yang datang sambil membawa tas Agni.

“Thanks ya” ujar Cakka dan Agni serentak, ketiganya pun mengangguk kompak.

“Emmm Ag, kerja kelompok kita gimana? Lo masih mau ikut?” tanya Shilla.

“Ngga boleh, Agni harus istirahat” potong Cakka cepat sebelum Agni menjawab pertanyaan Shilla. Agni mengalihkan pandangannya menatap Cakka.

“Yah kok gitu sih Kka, ngga bisa dong. Lagian aku ketuanya, masa’ aku ngga dateng sih” bujuk Agni dengan puppyeyes-nya.

“Sekali ngga, tetep ngga” ujar Cakka tetap pada pendiriannya, Agni mendengus kemudian tersenyum penuh arti.

“Ayolah Kka, kok kamu gitu sih. Kamu ngga kasian ntar aku dimarahin trus dihukum keliling lapangan atau ngga hormat tiang bendera gara-gara ngga buat tugas trus…” belum selesai Agni mengajukan lagi bujukannya, Cakka sudah mendekap mulutnya kemudian mendengus kesal. Ia selalu tidak tega jika Agni seperti itu.

“Yaudah deh, tapi aku yang nganterin kamu” putus Cakka final, Agni hanya mengangguk. Daripada ngga pergi sama sekali, pikir Agni.

“Buruan Ag, Debo sam Gabriel udah nungguin di parkiran” ajak Shilla, Agni mengangguk kemudian mereka semua melangkah meninggalkan UKS.

Perjalanan menuju ke tempat parkir, kelimanya terlibat pembicaraan seru. Sesekali mereka terlihat tertawa atau saling mengejek, tanpa mereka sadari mereka sudah berada dekat daerah parkiran. Cakka terpaku pada satu titik, tepatnya seseorang yang duduk di CBR hitamnya, caranya duduk mengingatkan Cakka pada seseorang. Cakka menggeleng, tidak mungkin, dia tidak mungkin ada disini, pikir Cakka.

“Hei, sorry ya lama” tegur Shilla pada dua orang pemuda yang duduk dimotor masing-masing, keduanya kontan menoleh. Cakka terbelalak lebar menatap pemuda itu.

“Dia….” Batin Cakka.



To be continued... ^_^

Rabu, 06 Juli 2011

Loving Girl #4th

Loving Girl
Part #4th

“LO !!!” ucap mereka bersamaan, setengah berteriak. Orang-orang disekitar mereka, menatap penuh tanda tanya. Kontan Agni dan orang itu nyengir, mencoba memberitau bahwa tidak terjadi apa-apa.

“Lo siapanya Ray?” tanya Agni pada orang itu, orang itu tersenyum remeh. Kembali ke sifat aslinya.

“Harusnya gue yang nanya gitu sama lo. Gue kakaknya Ray. Lo apain Ray hah? Mau lo culik ya” tuduhnya, kontan Agni terbelalak. Tidak terima dengan tuduhan orang didepannya ini.

“Eh, kalo ngomong tuh dipikirin dulu. Jangan asal ngomong aja” ujar Agni, terlanjur kesal dengan orang dihadapannya ini. “Kasian amat si Ray punya kakak kaya’ lo. Monster.” Lanjutnya tanpa memandang kearah Ray dan orang itu.

“Kak Lio sama kak Agni ngapain sih? Beltengkal ya. Kak Lio kenapa malah-malah kan kak Agni ngga salah” ujar Ray manyun pada Rio-orang tadi-. Rio menatap Ray kemudian beralih pada Agni yang berada didepannya, masih enggan memandang Rio. Rio menghela napas.

“Sorry” ucap Rio. Singkat. Jelas. Padat. Membuat Agni semakin ingin melenyapkan orang dihadapannya ini, Agni mendengus kesal. Mungkin, jika tidak ada Ray saat ini, ntah apa yang akan Agni perbuat untuk melenyapkan monster didepannya ini. “Ray kita pulang yuk” Agni tertegun, suara itu. Suara yang biasanya kasar dan penuh dengan tekanan amarah kini berubah, benar-benar berbeda dari biasanya. Suara itu berubah menjadi lembut, entah mengapa Agni sangat nyaman mendengarnya, Agni menggelengkan kepalanya, kenapa ia bisa berpikiran seperti itu. Tidak boleh, batinnya mencoba meyakinkan dirinya. Rio mengernyit heran melihatnya. Dasar aneh, batin Rio. Ray mengangguk menanggapi ajakan Rio tadi, kemudian beralih menatap Agni.

“Kak Agni ikut Lay pulang ya” ajak Ray menatap Agni penuh harap. Agni dan Rio terbelalak kaget dengan tawaran Ray, keduanya tanpa sadar saling berpandangan dan menatap Ray aneh.

“Tapi Ray…” belum sempat Agni menyelesaikan perkataannya Ray langsung menatapnya penuh harap, mata bonekanya yang seperti itu membuatnya semakin menggemaskan.

“Ayolah kak, kalo kak Agni ngga mau ikut. Lay ngga mau pulang” ancamnya, Rio mendengus, sedangkan Agni menatap Rio penuh tanya. Dengan sangat amat terpaksa Rio mengangguk, Agni menatapnya heran. Ray tersenyum senang melihat Rio menganggukkan kepala tanda setuju, kini ia mengalihkan pandangannya menuju Agni. Ekspresi Ray benar-benar membuat Agni tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauannya.

Agni mengangguk perlahan, “Yaudah deh” ujarnya pasrah.

“Yey, ayo pulang kak” sorak Ray senang, kembali memeluk leher Rio. Agni mengikuti mereka dari belakang.

***
Pemuda ini terlihat bingung, ia sudah mengelilingi tempat ini tapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya, hampir kepada setiap orang yang ditemuinya ia bertanya keberadaan adiknya siapa tau ada yang melihat. Ia sudah hampir putus asa, sebenarnya ia tidak perlu mencari adiknya itu, toh nantinya ia juga bisa pulang sendiri. Awalnya ia memang berpikiran seperti itu, tapi ia kembali mengingat bahwa tas sang adik yang berisi segala macam barang penting ada padanya, ia merutuki kebodohan adiknya itu. Gabriel-pemuda itu- sudah berkeliling taman hiburan, mencari Agni yang ‘hilang’. Sudah hampir setengah jam Gabriel berkeliling taman hiburan tapi hasilnya nihil. Ia tidak menemui keberadaan adiknya, bahkan dari semua orang yang sudah ia tanyai tidak ada yang tau. Gabriel kembali melihat ke sekelilingnya, dan pandangannya terhenti pada seseorang yang cukup familiar diingatannya, ia tersenyum. Segera saja Gabriel menghampiri orang tersebut.

“Lo… Sivia kan? Temennya Agni” sebenarnya Gabriel agak ragu untuk menghampiri gadis ini, tapi siapa tau gadis cantik dihadapannya ini mengetahui dimana adiknya sekarang. Sivia menoleh dilihatnya Gabriel yang tersenyum manis, sadar atau tidak wajahnya mulai memanas.

“I..Iya.. gue Sivia. panggil Via aja. lo kakaknya Agni kan?” Sivia kembali mencoba mengingat pemuda dihadapannya, Gabriel tersenyum sambil mengangguk, membenarkan prediksi gadis cantik dihadapnnya ini. 
“Ada apaan kak? Lo ngga bareng Agni” tanya Sivia, cukup heran melihat Gabriel menghampirinya tanpa Agni.

“Itu dia yang jadi masalahnya Vi, si Agni ilang” ujar Gabriel kembali melihat sekelilingnya, mungkin saja Agni berada diantara kerumunan orang itu. Sivia terkejut mendengarnya.

“HAH!!, AGNI ILANG” tanpa sadar Sivia berteriak, membuat Gabriel terpaksa menutup telinganya dan harus dipandangi para pengunjung yang lain. Sivia nyengir, menyadari tindakan konyolnya. “Kok bisa sih kak?” tanya Sivia, kali ini tidak dengan berteriak, malah terkesan hati-hati.

Gabriel menceritakan semuanya, mulai dari Agni yang hampir membunuhnya dengan cara naik ke segala macam permainan ekstrim sampai tadi Agni hilang, Sivia mendengarnya antusias. Sebenarnya Sivia tidak terlalu memperhatikan apa yang Gabriel ucapkan tapi Sivia lebih memperhatikan wajah manis Gabriel, caranya berbicara, ekspresi cemasnya, dan semua yang bisa dilihat Sivia dari Gabriel. Entah mengapa Sivia tiba-tiba menjadi tertarik untuk melihat ekspresi lain dari pemuda dihadapannya ini.

***
Malam yang cerah, terlihat jelas bulan sabit bersinar tanpa ditutupi awan sedikitpun. Gadis ini mendesah, ia kembali teringat dengan apa yang baru saja ia ketahui. Sebuah rahasia yang mungkin tidak semua orang mengetahuinya, tentang sisi lain dan mungkin masa lalu dari seorang Mario Stevano Aditya Haling, anak sulung sekaligus pewaris harta kekayaan Joe Haling, cowok cuek, angkuh, arogan dan berbagai sikap dingin yang selama ini diperlihatkan ternyata tak lebih dari seseorang yang rapuh dan kesepian. Agni kembali mengingat ketika ia berada dikediaman Haling, dan sikap Rio ketika Agni bertanya tentang ‘dia’. Kenapa Rio jadi emosi gitu?, batin Agni bingung. Rio memang dikenal karena temperamennya yang susah diatur dan meledak-ledak, tapi kenapa ketika membahas masalah itu ia jadi aneh, berubah menjadi diam, tatapannya tajam dan dingin, hampir sedingin es yang berada di kutub selatan maupun utara, dan semua serasa membeku ketika melihat tatapan mata Rio.

*FlashbackON*
Rumah megah berarsitektur eropa menyambut kedatangannya, ia sampai tercengang melihatnya. Tidak menyangka bahwa ada rumah sebagus dan semewah ini. Ia berdecak kagum, mengagumi hasil kerja sang arsitek, benar-benar berseni dan berarsitektur tinggi. Selera yang Wah. Ketika sampai diruang tamu, ia kembali dibuat tercengang. Desain interior ruangannya yang begitu menarik, membuat orang merasa nyaman dan bernilai seni tinggi dengan berbagai macam lukisan dari pelukis ternama luar negeri maupun dalam negeri tergantung indah dihampir setiap sudut ruangan itu. 

Ia kembali berdecak kagum, tapi tiba-tiba ia berhenti, bukan karena kagum ataupun tercengang seperti sebelum-sebelumnya tapi ia terdiam, memandang pada satu bingkai foto keluarga berukuran besar tergantung disalah satu dinding ruangan itu. Dalam foto itu, sang pemilik terlihat sangat bahagia. Senyum itu, senyum yang tidak pernah dilihatnya. Pandangannya beralih menatap foto-foto yang berada di dalam lemari kaca, terlihat sekali bahwa sang penghuni sangat suka mengekspresikan dirinya dalam bentuk foto seperti itu, Agni tertegun, matanya menatap lurus kearah sebuah frame foto, didalamnya terdapat foto seorang gadis berwajah tirus, tersenyum manis melihat kearah kamera sambil menunjuk es krim vanilla yang berada digenggamannya dan disamping gadis berwajah tirus itu ada seorang cowok, dan Agni mengenalinya, itu Rio. Didalam foto itu, senyum Rio merekah, gayanya tidak jauh beda dari sang gadis, tapi tangan kanannya terlihat merangkul pinggang gadis itu.

“Itu kak Ify” ceplos Ray ketika ia melihat Agni masih mematung disepan foto itu. Agni memandangnya penuh tanya.

“Ify?” batin Agni menatap Ray, Ray mengangguk meyakinkan Agni. Agni mengalihkan pandangannya lagi kembali menatap foto ‘mesra’ itu.

“Ayo kak ikut makan, kak Lio udah masak buat kita” ujar Ray sambil menarik tangan Agni, Agni mengikuti langkah kecil Ray.

Agni tercengang, mulutnya menganga. Ia menatap takjub meja makan yang sudah dipenuhi makanan, dari arah dapur muncul Rio yang masih mengenakan celemek masaknya, sambil membawa beberapa lauk makan lagi. Ray hanya tertawa melihat reaksi aneh Agni dan menuntun Agni duduk dikursi yang tersedia.

“Biasa aja liatnya, norak lo” celetuk Rio membuat Agni tersentak, kembali lagi ke dapur, beberapa saat kemudian ikut berada di meja makan, kali ini tanpa celemeknya.

Mereka makan dalam hening, yah walaupun sesekali tertawa karena tingkah lucu Ray. Agni sesekali melirik Rio yang berada dihadapannya, cowok itu terlihat lebih berkharisma, apalagi tadi ketika tertawa melihat Ray yang kesusahan memisahkan tulang ikannya atau Ray yang manyun ketika gagal memotong ayam gorengnya. Agni tertegun ketika melihat itu, tidak menyangka bahwa ‘monster’ itu bisa tersenyum manis dan bersikap lembut seperti tadi. Agni yakin, fans Rio akan bertambah jika mereka melihat Rio tertawa seperti tadi. Agni menggeleng, gue mikirin apa sih, batin Agni. Tanpa Agni sadari Rio memperhatikan tingkahnya itu, Rio tersenyum tipis melihatnya. Selesai makan, Agni melihat jam tangan putih yang bertengger manis dipergelangan tangan kirinya, ia menepuk jidatnya perlahan. Ia lupa kalau sudah meninggalkan abangnya, Gabriel. Agni pasrah, siap menerima ceramahan dari abangnya itu. Ia menghela napas, lalu menatap Rio dan Ray dihadapannya.

“Em… Ray, Kak Agni pamit ya” Agni mendekat kearah dua bersaudara itu, Ray menatap Agni, sepertinya Ray masih belum ingin Agni pulang.

“Ntal aja kak, Lay masih mau main sama kakak. Kalo kak Agni pulang, Lay main sama siapa?” ujar Ray menatap Agni penuh harap, Agni sendiri jadi tidak tega melihat ekspresi Ray seperti itu, ia beralih menatap Rio, meminta bantuan. Rio seakan mengerti dan mendekati Ray yang berdiri didepan Agni.

“Ray, biarin kak Agni pulang ya. Kan Ray bisa main sama kak Rio. Lagian kak Agni kan belum izin sama mamanya, ntar kalo kak Agni dimarahin gimana? Ray ngga kasian” ujar Rio lembut sambil mengelus rambut gondrong adiknya, Ray beralih menatap Rio, Rio mengangguk meyakinkan. Ray mengalihkan lagi pandangannya pada Agni kemudian ia mengangguk lemah.

“Iya deh, tapi kak Agni seling-seling main kesini ya” ekspresi Ray yang semula keruh langsung berubah ceria ketika Agni mengangguk sambil tersenyum manis. “Kak Lio antelin kak Agni ya. Kan kasian kak Agni kalo pulang sendilian” perintah Ray. Rio dan Agni cengo’ mendengar perintah Ray, tanpa menunggu jawaban dari kedua orang itu, Ray masuk ke kamarnya.

“Buruan” perintah Rio membuat Agni tersadar dari lamunannya.

Perjalanan mereka –RioAgni- dihiasi dengan suasana diam. AC mobil Rio menambah suasana menjadi lebih mencekam, Agni tidak berani membuka permbicaraan, karena ia tau, percuma saja mengajak ‘monster’ ini berbicara. Tapi ia sangat penasaran dengan cewek yang berada didalam foto itu. Agni menggelengkan kepalanya, buat apa dia ingin tau, toh juga ngga ada untungnya buat gue, pikir Agni. Rio yang melihat Agni menggelengkan kepala, menatapnya datar, tidak berniat bertanya lebih lanjut.

“Em… Yo” Agni kontan menutup mulutnya, tanpa sadar tiba-tiba Agni memanggil Rio. Rio menatapnya sebentar, kemudian kembali menatap jalanan dihadapannya. Agni mencoba tenang, “Cewek yang difoto sama lo itu siapa? Cewek lo ya?” Agni berulang kali merutuki pertanyaan bodohnya itu, rasa ingin taunya benar-benar sudah tidak bisa ditahan lagi, dan itulah jadinya. Ia nekat bertanya seperti itu. Tanpa Agni sadari, Rio tersentak mendengar pertanyaan Agni itu, ia tidak menyangka Agni akan bertanya soal itu padanya.

“Bukan urusan lo” jawab Rio dingin, Agni bergidik melihatnya.

“Ya…Iya sih, tapi… apa cewek itu ada hubungannya… juga sama Alvin?”

Entah mengapa Agni bisa bertanya seperti itu, otak kecilnya menyuruhnya berpikir bahwa ini semua berhubungan satu sama lain. Cukup !!!, gadis disampingnya ini sudah melakukan kesalahan, ia masuk terlalu jauh kedalam kehidupannya, seketika Rio menghentikan laju mobilnya, membuat Agni sedikit tersentak kedepan. Hampir mengenai dashboard mobil Rio. Rio menatap Agni dengan garang. Agni merasa sulit untuk menelan ludahnya sendiri, ia menyesal telah mengatakan itu, tapi otaknya benar-benar tidak bisa diajak kompromi.

“KELUAR DARI MOBIL GUE. SEKARANG !!!” perintah rio dengan berbagai tekanan disetiap katanya, ia sudah tidak tahan. Pertanyaan Agni barusan terlalu mengusiknya dan mengorek lagi luka lamanya. Agni menatap Rio penuh rasa menyesal, ia tidak menyangka bahwa Rio akan semarah ini. Rio mengabaikan pandangan menyesal Agni itu, ia terlanjur terluka.

Agni keluar dari mobil Rio dengan langkah gontai, baru saja Agni menutup pintu mobil Rio. Mobil sport silver metallic itu sudah melesat jauh meninggalkannya, terlihat sekali dari cara Rio mengendarai mobil sport metallicnya itu. Agni mendesah, ia menyesal dan tidak menyangka bahwa semuanya akan menjadi seperti ini. Tapi sungguh, ia hanya ingin tau apa semua ini berhubungan dengan permusuhan Rio-Alvin karena otak dan hati kecilnya mengatakan seperti itu
*FlashbackOFF*

Agni mendesah untuk kesekian kalinya, hatinya jadi tidak menentu. Ketika Ia pulang dan sampai didepan pintu, Gabriel sudah berdiri menyambutnya dengan tangan dilipat didepan dada, wajahnya menunjukkan kalau dia marah tapi juga khawatir dengan Agni yang tadi tiba-tiba menghilang. Agni menjelaskan semuanya, kecuali insiden pengusiran Agni dari mobil Rio, dan Gabriel memaafkannya. Agni mengacak rambut sebahunya, menghela napas sebentar kemudian masuk ke kamarnya, mencoba menenangkan diri dan tak lama ia terlelap.

@_@
Pemuda ini terbangun, mimpi itu datang itu. Tapi ada yang berbeda dari mimpi itu, dari yang ia tangkap, mimpi itu memberitaukan bahwa akan ada seseorang tepatnya seorang gadis yang membantunya lepas dari semua masalah yang selama ini membelenggunya, seseorang yang dekat dengannya tapi… ia harus kehilangan gadis itu, gadis yang cukup berarti walaupun ia tidak memiliki ikatan dengan gadis itu tapi gadis inilah yang membuatnya bisa kembali tersenyum tulus setelah kekasihnya tiada. Relakah ia jika mimpi itu benar dan ia harus kehilangan gadis itu? Ia sangat ingin masalah ini cepat selesai tapi, apakah bayarannya harus dengan kehilangan gadis itu? Tidak, tidak mungkin. Cukup sudah ia merasakan kehilangan, ia akan berusaha sendiri tanpa harus merelakan apapun termasuk gadis itu.

@_@
Agni melangkah gontai menuju kelasnya, entah mengapa kejadian kemarin membuatnya menjadi seperti ini. apa yang harus ia lakukan ketika berhadapan dengan Rio nantinya?. Agni menyesal telah bertanya hal yang –pasti- privasi buat Rio. Berulang kali Agni merutuki kebodohannya, tapi percuma. Seperti peribahasa ‘nasi sudah menjadi bubur’, itu semua terlanjur terjadi, yang harus Agni lakukan sekarang adalah bagaimana memperbaiki semuanya?. Agni menghela napas berat, ketika ia berbelok kearah kelasnya, Agni tersentak dan hampir bertabrakan dengan seseorang. Baru saja ia berniat marah-marah, Agni mendongak dan seketika terdiam, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Ia hanya terdiam menatap Rio yang berdiri tepat didepannya. Rio manatapnya datar, kemudian melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti gara-gara hampir bertabrakan dengan Agni. Agni mendesah, entah mengapa pikirannya sekarang malah dipenuhi oleh sosok seorang Mario Stevano Aditya Haling, ia menggeleng perlahan kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kelas.

“Kenapa lo?” tanya Sivia, menghampiri Agni dibangkunya. Terlihat tidak bersemangat seperti biasanya, wajahnya terlihat lesu.

“Ngga. Gue ngga apa-apa” elak Agni menggeleng perlahan, Sivia mengangguk mengerti. Tidak ingin membahasnya lebih jauh.

“Eh iya Ag, kata kak Iyel kemaren lo ilang ya? Kemana sih?, kasian kak Iyel tau. Pusing nyariin lo” cerocos Sivia tanpa mengalihkan pandangnnya dari BlackBerry-nya, sesekali ia tertawa kecil menatap layar BlackBerry-nya, Agni mengernyit heran. Nih anak udah sarap kali ya, pikir Agni ketika melihat Sivia tertawa sendiri.

“Lo kok ketawa sih Vi? Emang ada yang lucu ya di BB lo?” tanya Agni penasaran, tidak menjawab pertanyaan Sivia barusan. Segera saja Sivia menyembunyikan BBnya ke dalam saku rok sekolahnya.

“Ngga… ngga apa-apa kok Ag” ujar Sivia, gelagapan sendiri karena dipandangi Agni seperti itu.

“Ngga ada apa-apa kok, lo gugup sih Vi. Aneh lo” ceplos Agni dengan pandangan menyelidik, Sivia makin gelagapan tidak karuan.

“Beneran Ag, ngga ada apa-apa kok” elak Sivia, baru saja Agni akan membalas perkataan Sivia, bel tanda pelajaran sudah berbunyi dengan merdunya. Sivia menghela napas lega. “Gue ke bangku duluan Ag” pamit Sivia, senyumnya merekah membuat Agni semakin menatapnya heran. Agni menggelengkan kepalanya, toh juga kalo ada waktunya Sivia pasti cerita, pikirnya.

Kantin terlihat ramai seperti biasanya, semakin membuat Agni malas. Sebenarnya ia sedang tidak ingin keluar kelas, tapi karena Sivia sudah mengeluarkan jurus ampuhnya, Agni tidak bisa mengelak lagi. Pikiran Agni melayang, tidak memperhatikan Sivia yang sibuk ‘berkicau’ dihadapannya, Agni masih berpikir soal Rio. Semenjak insiden kemarin dan ‘nyaris’ bertabrakan tadi pagi, Agni tidak melihat Rio. Tas ranselnya memang berada dimeja sebelah Agni, tapi sang penghuni entah sekarang sedang berada dimana. Sama seperti Agni, Alvin merasa ada yang aneh dengan Rio. Walaupun ia tidak tau pasti apa yang menyebabkan Rio seperti itu, tapi Alvin yakin Rio pasti merasa terusik lagi. Terlihat jelas dari sikap Rio yang semakin acuh terhadap sekitarnya. Tanpa Rio sadari, dari dulu, tepatnya setelah ‘insiden’ itu Alvin memperhatikan perkembangan Rio walaupun dari jauh, tapi sayang Alvin tidak melihat perkembangan dari diri seorang Mario, malah Alvin seperti melihat Rio yang sekang bukan Rio yang dulu dan itu semakin membuat rasa bersalahnya semakin besar.

“Agni…!!! Lo dengerin gue ngga sih?” tanya Sivia, gemas melihat Agni yang hanya diam dihadapannya sambil sesekali memainkan nasi goreng dihadapannya.

“Hah…!!! Apaan Vi?” bukannya menjawab Agni malah balik bertanya dengan tampang watadosnya itu, Sivia menatapnya gemas kemudian manyun, Agni terkekeh melihatnya. “Hhe, sorry Vi. Jangan ngambek dong” bujuk Agni, Sivia masih diposisinya semula. “Yah… Vi, jangan ngambek dong. Ntar Alvin ngga mau lho sama lo” bujuk Agni lagi, Sivia yang mendengar itu langsung melotot, walaupun percuma. Agni hanya nyengir, Sivia menghela napas kemudian kembali melanjutkan makannya, Agni? Kembali berkutat dengan pikirannya.

@_@
Pemuda ini berjalan menyusuri kompleks pemakaman yang terlihat senggang, ditangannya terdapat bucket bunga lily putih, bunga kesukaan ‘dia’, orang yang disayanginya. Ia berjalan dengan santai, ketika hampir sampai dimakam yang dituju, ia menghentikan langkahnya. Dia, sedang apa dia disini? Pikirnya ketika melihat pemuda bermata sipit itu dimakam yang ditujunya, tiba-tiba saja emosinya memuncak. Matanya berkilat marah, bunga yang semula rapi kini sudah tidak berbentuk lagi gara-gara tanpa sadar ia menggenggamnya terlalu keras, rahangnya seketika mengeras, tangannya mengepal dan dengan langkah besar ia menghampiri makam itu. Pemuda sipit itu merasa ada yang datang mendekatinya, ketika berbalik tiba-tiba…

BUG..!!
pukulan telak diterimanya tepat dipipi sebelah kanan, ia tersungkur tapi tidak membalas perlakuan pemuda dihadapannya ini. Pemuda sipit itu mencoba bangun tapi dengan segera kerah seragam sekolahnya ditarik sang lawan, ia tercekik tapi tidak bisa membalas, wajah putihnya sudah berubah warna menjadi agak kemerahan, karena sulit bernapas. Deru napas pemuda dihadapannya ini tidak teratur, tanda bahwa emosinya yang meluap, tangannya kembali terangkat dan seketika….

BUG..!! BUG…!!!
kali ini pukulan itu bersarang diperutnya, pemuda bermata sipit itu mengerang, tapi pemuda dihadapannya ini tidak bergeming, menatap si sipit dengan sinis. Si sipit kembali mengerang ketika dirasakannya sakit, tapi kali ini bukan pukulan yang diterimanya tetapi tendangan telak ia terima di ulu hatinya. Si sipit tidak berniat melawan karena ia yakin, ini tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang ia lakukan dulu. Dengan kekuatan yang masih tersisa, si sipit mencoba bangun, pemuda dihadapannya hanya diam, memandangnya nanar.

“So… sorry Yo” ujarnya lemah sambil memegangi perutnya yang sakit akibat pukulan dan tendangan pemuda dihadapannya –Rio-, Rio menatapnya sinis dan tajam, ia benar-benar muak dengan si sipit –Alvin-.

“PERGI” usir Rio dingin tanpa menatap Alvin yang menatapanya penuh harap. Alvin masih ditempatnya, melihat Alvin yang masih ditempatnya, Rio menatap Alvin garang, tangannya kembali mengepal. “GUE BILANG PERGI. GUE MUAK LIAT MUKA LO ITU” usir Rio lagi, kali ini dengan suara yang membuat orang bergidik ngeri.

Alvin mengerti, percuma saja berbica dengan Rio sekarang, pemuda itu terlihat tidak ingin diganggu apalagi oleh Alvin. Sebelum Alvin melangkah meninggalkan makam itu, ia kembali menatap Rio yang tertunduk menatap makam dihadapannya. Alvin mendesah pasrah, ia sudah kehabisan cara untuk membuat Rio mendengarkan semuanya, tapi sepertinya belum saat ini. Alvin menuju Volvo-nya yang terparkir tidak jauh dari makam itu, kemudian melaju meninggalkan Rio yang perlahan mulai terisak.

Mendengar tidak ada lagi deru mobil itu, Rio merosot. Terduduk tepat didepan makam itu, ia menangis entah menangisi apa? ia bingung, setiap melihat Alvin, Rio akan langsung seperti tadi. Emosinya tidak terkontrol dan ia lepas kendali. Rio tertunduk, ia masih menangis. Tangannya menggenggam erat nisan dan tanah makam itu, Rio semakin sesegukan ketika menatap nisan itu, matanya sudah memerah gara-gara terlalu lama menangis. Perlahan ia mulai mengontrol emosinya, setelah merasa tenang Rio menghapus sisa air matanya. Mencoba tersenyum, tapi malah terlihat seperti lengkungan patah, Rio tertawa miris meratapi nasibnya. Setelah tenang, ia melangkah meninggalkan makam itu kemudian menuju cagivanya dan melaju dengan kecepatan yang gila-gilaan.

@_@
“De’, lo kenapa sih? Dari kemaren lo aneh tau ngga” tegur Gabriel ketika ia dan Agni sedang berada di balkon kamar Agni, Agni menghela napas kemudian menatap Gabriel yang duduk disebelahnya.

Agni menggeleng, “Ngga apa-apa bang” jawabnya singkat, kemudian kembali menatap langit yang terlihat mendung, persis suasana hatinya yang tidak menentu saat ini, Gabriel mengernyit heran.

“Beneran?” tanya Gabriel mencoba meyakinkan, Agni mengangguk malas. Gabriel menghela napas melihat Agni yang aneh saat ini, ia menepuk kepala Agni perlahan kemudian berdiri. “Yaudah kalo gitu, tapi kalo lo ada masalah cerita aja sama gue” pesan Gabriel, Agni mengangguk lesu tanpa memandang abangnya itu. Gabriel melangkah keluar dari kamar Agni.

Sepeninggal Gabriel, Agni kembali ke aktivitasnya semula. Melamun, entah sekarang pikirannya ada dimana? Kejadian kemarin terus berputar seperti film pendek diotak dan pikirannya. Berulang kali Agni mencoba menghilangkan semua itu dari pikirannya, tapi sulit. Terutama ekspresi Rio ketika insiden pengusiran Agni dari mobilnya itu, benar-benar membuat Agni seketika bergidik ngeri melihatnya. Tanpa sepengetahuan Agni, Gabriel melihat tingkah adiknya itu, baru kali ini Gabriel melihat Agni uring-uringan seperti itu padahal biasanya Agni tidak bisa diam dan hyperactive. Ada apa dengan adiknya itu, pikir Gabriel sambil berjalan menuju kamarnya.

@_@
“Kak Lio dalimana? Kok balu pulang” tanya Ray ketika melihat Rio berjalan melewatinya, Rio terus melangkah ke kamarnya tanpa menghiraukan pertanyaan Ray. Ray manyun melihat itu, selang beberapa saat Rio kembali dengan jaket kulit hitam menutupi kaos oblong putih didalamnya, ditangannya sudah ada helm fullface kesayanganya. “Kak Lio mau kemana? Kak Lio mau kelual lagi ya” tanya Ray lagi, mengikuti langkah Rio menuju motornya yang ada di garasi.

Rio masih mengabaikannya, Ray mulai menangis karena tidak dihiraukan Rio. Rio melajukan cagivanya keluar dari rumahnya, meninggalkan Ray yang semakin sesegukan. Ray melangkah masuk ke dalam rumahnya sambil terus menangis, Mbak Angel –Nanny Ray- mendekat kearahnya mencoba menenangkan tuan mudanya itu. Tapi hasilnya nihil, Ray semakin menangis sambil memeluk lututnya seperti biasa jika ia sudah menangis. Mbak Angel semakin bingung ketika dilihatnya badan Ray mulai mengeluarkan keringat dingin, dan tangisan Ray berubah menjadi seperti rintihan selain itu wajah Ray juga terlihat pucat, Mbak Angel semakin kelabakan melihat kondisi tuan mudanya ini.

“Mas, Mas Ray… bangun Mas” Mbak Angel mulai bingung, pasalnya Ray tidak menjawab pertanyaannya. Mbak Angel memegang kening Ray, walaupun keringat dingin mengalir dari pelipis Ray tapi suhu badan Ray tinggi, badannya panas. Tanpa banyak pikir lagi, Mbak Angel segera membawa Ray ke rumah sakit, tempat biasa Ray melakukan pengobatan.

@_@
Sementara itu, Rio sekarang malah sedang berkumpul dengan teman-temannya. Sebenarnya Rio merasa tidak tega ketika meninggalkan Ray, tapi saat ini ia sangat butuh hiburan untuk sekedar melepas penatnya. Walaupun raga Rio berada disini –tempat dia biasa hang out- tapi pikirannya sepenuhnya berada pada Ray, entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak. Apalagi ketika ia menghubungi rumahnya tidak ada yang mengangkat. Pikiran Rio semakin kacau ketika mengingat Ray yang tadi menangis. Sungguh, Rio tidak bermaksud membuat adik kesayangannya menangis seperti itu.

“Lo kenapa Yo? Diem aja” tegur Sion, pandangannya lurus menatap deretan motor yang siap memulai start. Rio sedikit tersentak akibat teguran Sion barusan.

Rio menggeleng, “Ngga, gue ngge kenapa-napa” jawab Rio, Sion ber’o’ ria.

“Tumben lo ngga turun? Biasanya lo gatel kalo liat motor lo ngangur gitu aja” tanya Sion lagi, kali ini pandangannya menatap Rio yang mulai menghidupkan sebatang rokok.

Asap mulai mengepul dari mulut Rio, “Males” satu kata itu cukup membuat Sion menghentikan pertanyaannya.

Lama mereka saling terdiam, menatap para pembalap yang sibuk saling menyalip untuk mendapat tempat terdepan, Rio merasa sakunya bergetar, segera saja ia mengambil BlackBerry-nya. Rio mengernyit, nomor yang tertera dilayar BBnya, nomor yang tidak ia kenal. Walaupun ragu, Rio mendekatkan BBnya ke telinga.

“Halo…” sapa Rio, Rio terbelalak mendengar penjelasan sang lawan bicara “APA..!!!” tanpa sadar Rio berteriak, membuat Sion menatapnya heran.

“Mau kemana lo?” tanya Sion ketika melihat Rio sepertinya sedang terburu-buru. Rio mengabaikannya, segera saja ia berlari menuju cagiva yang berada lumayan jauh dari tempatnya bersama Sion barusan. Rio melajukan cagivanya dengan kecepatan maksimun yang ia bisa, menuju ke tempat yang diberitauan sang penelpon barusan. Rumah sakit.

Plakkk..!!!
Rio tertegun menatapnya, tidak menyangka ada yang berani menamparnya kecuali ‘dia’. Tapi untuk saat ini Rio tidak terlalu mempedulikan gadis dihadapannya ini, pikirannya sekarang dipenuhi oleh Ray yang sekarang sedang terbaring lemah disana. Rio agak tersentak begitu melihat air mata yang mengalir cukup deras dari pipi chubby gadis dihadapannya. Agni –gadis itu- menatap Rio nanar, merutuki segala kebodohan Rio sehingga membuat Ray seperti sekarang. Ya, Agni yang tadi menghubungi Rio. Ketika dirumah sakit tadi, Mbak Angel yang kebingungan langsung menghubungi Agni, Mbak Angel tau nomor Agni dari kertas yang berada tidak jauh dari Ray ketika Ray pingsan tadi. Agni sendiri shock ketika mendengar kabar bahwa Ray masuk rumah sakit, walaupun baru mengenal Ray tapi Agni merasa kalau dia mulai menyayangi bocah imut itu. Tidak jauh dari mereka ada Gabriel, ya Gabriel mengantar Agni ke rumah sakit ini untuk melihat keadaan Ray, matanya masih terlihat mengantuk, wajar saja jam dinding disalah satu sudut rumah sakit sudah menunjukan pukul 02.15 WIB itu berarti cukup lama Ray berada disana bersama sang dokter yang belum keluar sejak masuk memeriksa Ray.

Agni berjalan gelisah didepan pintu tempat Ray diperiksa, sesekali ia juga melihat kedalam tapi percuma yang Agni lihat hanya tirai menutupi jendela itu. Agni menghela napas panjang kemudian mengalihkan pandangannya menuju Rio, Agni menatap Rio garang, sangat-sangat tidak menyangka tindakan bodoh Rio itu. Rio juga sama seperti Agni, ia gelisah menunggu keadaan Ray. Tapi bedanya Rio duduk tenang disalah satu tempat duduk tunggu dirumah sakit itu walaupun sesekali ia juga melihat kearah pintu tempat Ray diperiksa. Ternyata ini arti dari perasaan aneh yang tadi ia rasakan, berulang kali ia merutuki sikap bodohnya yang membuat Ray menjadi seperti ini. terlihat dokter keluar dari ruang periksa Ray, seketika itu juga Rio dan Agni menghampirinya.

“Bagaimana keadaan adik saya dok?” tanya Rio memburu ketika melihat dokter yang tadi memeriksa Ray keluar dari ruang periksa. Dokter bernama Excel tersebut menghela napas panjang, menatap dua remaja dihadapannya ini bergantian.

“Adik kamu…..” 



To Be Continued....^_^