My Video

Loading...

Minggu, 03 Juli 2011

You're Mine #4th

“Gu… gue….” Agni terlihat bingung, harus menjawab apa. Tidak bisa dipungkiri jika ia juga mempunyai perasaan itu untuk Cakka, tapi ia sendiri bingung, ia tidak ingin mengecewakan Cakka ataupun orang disekitarnya. Agni memejamkan matanya, mencoba meyakinkan hatinya bahwa apapun keputusan yang diambilnya adalah keputusan yang terbaik.  Agni menghela napas cukup berat kemudian ia mengangguk perlahan, Cakka terdiam. Tidak menyangka bahwa gadis manis ini akan menerimanya. Cakka tersenyum manis melihatnya, semua yang melihat kejadian itu bertepuk tangan, ikut bahagia dengan apa yang dirasakan pasangan baru ini. Walaupun sebagian dari mereka merasa patah hati, tapi mereka berusaha berbesar hati dan menerima bahwa apa yang terjadi dihadapan mereka ini mungkin memang yang terbaik. Tapi sayangnya tidak dengan gadis ini, ia terlihat mengepalkan tangannya, marah. Sudah lama ia menyukai Cakka tapi mengapa harus Agni yang mendapatkannya, matanya berkilat marah menatap pemandangan ‘romantis’ didepannya, matanya semakin terbelalak ketika ia melihat Cakka menarik Agni kedalam pelukannya.

“Jangan lupa PJ Kka, double nih kita” teriak Ray yang diamini Alvin, mengganggu adegan ‘romantis’ itu. Cakka melepas pelukannya, tersenyum dan menunjukkan kedua jempolnya bertanda ‘pasti’.

***
Sebulan berlalu, Cakka dan Agni masih menjalani hubungan mereka yang yah… unik. Karakter Cakka yang slenge’an ternyata bisa mengimbangi Agni yang lebih dominan diam. Tapi bukan berarti Agni hanya diam jika mereka berdua sedang bersama, malah jika mereka berdua, mereka sangat terlihat serasi. Banyak yang iri dengan keduanya, tidak menyangka bahwa seorang Cakka notabenenya most wanted boys bisa jadian dengan Agni, cewek dengan berbagai macam prestasi ini. Bertolak belakang. Awalnya mereka mengira bahwa mungkin Cakka akan jadian dengan Ify atau Sivia, cewek yang juga jajaran most wanted girl. Tapi ternyata hubungan mereka berdampak baik, khususnya pada Cakka, kebiasaan Cakka yang suka telat itu perlahan hilang. Yang walaupun masih sering telat tapi sudah tidak sesering dulu. Cakka dan Agni selalu bersama, dan itu berarti intensitas pertemuan Tom and Jerry (read. Ray dan Shilla) semakin banyak, setiap bertemu, mereka pasti dan selalu bertengkar. Hal yang semula sepela menjadi dibesar-besarkan. Cakka, Agni dan Alvin sudah terlalu lelah melerai mereka, entah sampai kapan mereka akan selalu bertengkar seperti ini. walaupun selama ini mereka bukan bertengkar dalam arti berkelahi atau adu otot, tapi pertengkaran mereka sangat mengganggu orang sekitar. Pernah suatu kali Ray dan Shilla ribut dikantin hanya karena Ray salah meminum minuman yang ada dimeja kantin dan yang menjadi korban Ray itu adalah Shilla. Kebiasaan Ray yang ‘asal’ ternyata tidak bisa dimaklumi Shilla yang segalanya harus tertata rapi. Aneh, tapi itulah mereka.
Dibalik kegembiraan itu, ada seseorang yang tidak suka. Ia merasa sakit, bukan karena luka melainkan hatinya jika melihat ‘kemesraan’ Cakka dan Agni. Ia selalu berkilat marah jika sudah menyinggung tentang Cakka maupun Agni, terlebih lagi dengan Agni. Memang dari dulu gadis ini tidak menyukai Agni, ia menganggap kalau Agni telah mengambil semua yang ia punya, prestasi, ketenaran dan yang pasti perhatian seorang Cakka Kawekas Nuraga.

“Ag, hari ini jadi ke toko bukunya?” tanya Cakka, seperti biasa mereka sedang berada dikantin. Agni terlihat sedikit bingung, dan Cakka menyadarinya. “Kenapa?” tanyanya, melihat Agni yang belum bereaksi apapun.

“Em… kaya’nya ngga jadi deh Kka. Soalnya aku… aku… ada urusan sama Mama. Ngga apa-apa kan?” jawab Agni, sedikit aneh kita menyebutkan alasannya barusan, Cakka mengernyit heran. Ada apa dengan gadisnya ini?, batinnya.

“Oh… yaudah kalo gitu” balas Cakka sambil meminum jus jeruknya, Agni hanya tersenyum kaku dan menghela napas lega.

***
“Makasih ya Kka” ujar Agni sambil tersenyum manis ketika turun dari cagiva Cakka, Cakka membuka helm fullfacenya dan membalas senyum Agni, tapi perlahan senyum Cakka hilang.

“Ag, kamu ngga apa-apa kan? Muka kamu kok pucet sih” ucap Cakka sambil memegangi wajah Agni dengan kedua tangannya, terlihat jelas raut khawatir diwajahnya.

Agni sedikit gelagapan, sedetik kemudian ia mencoba tersenyum, berharap Cakka tidak terlalu mengkhawatirkannya, “Aku ngga apa-apa Kka, mungkin Cuma kedinginan doang. Kamu kan tau aku gimana kalo udara dingin” jawab Agni, memegangi tangan Cakka yang masih berada diwajahnya. Memang, akhir-akhir ini Agni sering terlihat pucat, dan sama seperti tadi, setiap Cakka bertanya pasti itu yang menjadi jawaban andalan Agni. Cakka tidak bisa mengelak karena Agni memang seperti itu. Cakka menghela napas sedikit lega, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ada yang mengganjal dihatinya saat itu.

Cakka melepas tangannya dari wajah Agni, menatap mata gadisnya itu dalam. Seolah mencari tau apa yang Agni sembunyikan, Cakka merasa Agni menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Entah mengapa, Cakka sangat yakin akan perasaannya yang satu ini, feelingnya mengatakan seperti itu. Agni sendiri menyadari bahwa Cakka seperti sedang menyelidikinya, Agni bingung, bagaimana supaya Cakka tidak terlalu mengkhawatirkannya. Masih terlihat jelas bahwa Cakka menghawatirkannya, Agni tersenyum manis meyakinkan Cakka.

“Yaudah, aku pulang ya” pamit Cakka, sedikit mengelus kepala Agni, sayang, Agni mengangguk sambil tersenyum manis.

Cakka memakai helm fullfacenya, mengelus puncak kepala Agni sebentar dan melaju, meninggalkan Agni yang masih berdiri di pintu pagar rumahnya. Setelah Cakka menghilang dari pandangannya, senyum yang sedari tadi ditunjukkan Agni perlahan menghilang, ia menunduk, bingung. Ia bukannya ingin menghindar atau mengelak setiap Cakka bertanya tentang keadaannya tapi ia sendiri tidak tau ada apa dengan dirinya sendiri. Seperti halnya Cakka, Agni mengkhawatirkan keadaannya, semenjak camping waktu itu, Agni merasakan ada yang berbeda dengan dirinya. Ia jadi mudah pucat, cepat lelah dan yang paling parah, Agni sangat sering mual tanpa sebab. Agni menggeleng perlahan kemudian mulai melangkah masuk ke rumahnya.

***
Perasaan itu datang lagi, kekhawatiran dan ketakutan yang berlebihan datang disaat bersamaan. Saat ini, seperti biasa Cakka sedang berada di balkon rumahnya, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu, bukan sesuatu melainkan seseorang. Agni, gadisnya yang beberapa hari ini terlihat aneh. Cakka menyadarinya, semenjak pulang dari kegiatan camping, Cakka melihat bahwa ada sesuatu yang Agni sembunyikan. Cakka bukan memikirkan bahwa Agni berpaling darinya tapi Cakka berpikir bahwa Agni menyembunyikan keadaannya. Ada apa dengan gadisnya itu? Batinnya bertanya. Tapi setiap Cakka bertanya, Agni pasti mengelak dan meyakinkan Cakka. Berulang kali Cakka sudah mencoba menghilangkan rasa ingin taunya, tapi sulit. Apalagi akhir-akhir ini Agni sering terlihat pucat dan sangat cepat lelah. Lamunan Cakka terhenti ketika terdengar ketukan dari pintu kamarnya.

“Sebentar….” Teriak Cakka, tersadar dari lamunannya dan segera bangkit untuk melihat siapa itu. Cakka mendengus ketika mengetahui siapa yang ada di hadapannya, siapa lagi kalau bukan Ray dan Alvin, “Mau apa kalian kesini?” tanya Cakka langsung, ketika Ray dan Alvin sudah berada didalam kamarnya.

“Setdah Kka, galak amat” ceplos Ray, Cakka menatapnya malas. “Kita mau ngajakin lo jalan, mau ngga?” ajak Ray langsung, ketika melihat reaksi Cakka seperti sedang tidak ingin bertele-tele. Cukup lama Cakka berpikir, Ray dan Alvin hanya mentapnya gemas. Mikir gitu doang lama amat, batin Ray kesal. “Kira-kira sampe besok lo udah selesai belom mikirnya Kka?” sindir Ray, Cakka nyengir.

“Aelah malah nyengir, buruan napa?” kali ini Alvin turun tangan, tanpa berpaling sedikitpun dari layar TV dikamar Cakka.

“Yaudah, tunggu dulu. Gue mau ganti baju” ujar Cakka, tapi bukannya segera berganti pakaiannya, ia malah terdiam sambil memandangi layar TVnya.

Ray berdecak kesal, “Woy, buruan” teriak Ray tepat ditelinga Cakka. Cakka tersadar, mengelus telinganya dan mendelik kearah Ray, sedangkan Ray segera saja mengalihkan pandangannya dari Cakka menatap layar BlackBerry-nya yang entah mengapa menjadi begitu menarik.

Cukup lama Cakka berganti pakaian, sebenarnya Ray dan Alvin curiga. Cakka ganti pakaian atau semedi, lama amat, pikir mereka. Akhirnya, Cakka keluar juga. Dengan hanya menggunakan t-shirt dan jeans panjang, cukup membuatnya terlihat keren. Ray dan Alvin memandangnya dengan pandangan yang… entahlah, seperti ingin menerkam. Cakka bergidik ngeri melihatnya.

“Lo berdua kenapa? Ngeliatin gue kaya’ gitu? Naksir? Sorry ye, gue udah punya cewek dan…” belum sempat Cakka menyelesaikan perkataannya, Ray dan Alvin serentak menoyornya, Cakka meringis. “Lo berdua apa-apaan sih” gerutu Cakka sambil mengelus kepalanya yang tadi ditoyor.

“Lo !!! ganti baju gini doang udah kaya’ orang semedi. Lama amat, lumutan nih kita nungguin lo doang” cerocos Alvin yang sedari tadi tidak banyak bicara, Cakka nyengir.

“Hhe sorry-sorry, tadi tiba-tiba gue dapet panggilan alam” ujar Cakka sambil memegangi perutnya.

“Buruan dah, keburu malem nih” ajak Alvin. Ray dan Cakka mengikutinya dari belakang.

Mereka berkeliling tanpa tujuan yang jelas, sampai akhirnya mereka memutuskan masuk ke sebuah café, sekedar mengisi perut yang dari tadi sudah berteriak minta diisi. Seperti biasa, jika mereka sudah berkumpul, mereka pasti membicarakan hal yang sama sekali tidak penting. Mereka merasa nyaman dengan pembicaraan aneh mereka, walaupun tampang mereka diatas rata-rata tapi entah mengapa pembicaraan mereka jarang dikategorikan dalam jenis serius atau sebagainya. Seperti saat ini Ray malah asyik menceritakan anak kelas IPS yang kemarin baru saja jadian dengan anak SMP dan anehnya lagi Ray terlihat sangat antusias menceritakannya. Cakka dan Alvin menanggapinya dengan malas-malasan. Sampai akhirnya ada yang mendekati meja mereka bertiga, bukan pelayan yang ingin menegur mereka karena secara tidak langsung sudah menganggu kenyamanan pengunjung lain karena tertawa yang berlebihan melainkan seorang cewek.

 “Hey Kka” sapanya, Cakka yang merasa namanya disebut langsung menengok ke sumber suara, seketika matanya terbelalak lebar dan tersedak.
“Uhuk…Uhuk…” Cakka meminum minumannya, sedikit mengurangi rasa sakitnya akibat tersedak. 

“O…Oik, lo ngapain? Sendiri?” tanya Cakka, yup gadis itu Oik. Ray dan Alvin langsung memandang Cakka dengan tatapan penuh tanya.

“Gue abis makan aja sama temen-temen gue” jawab Oik tersenyum.

“Siapa Kka?” ceplos Ray, Cakka menatapnya dengan pandangan membunuh, Ray hanya nyengir menanggapinya. Cakka menghela napas.

“Ik, kenalin ini temet-temen gue. Yang ini Ray” ujar Cakka menunjuk Ray, Ray tersenyum, Oik membalasnya. 

“Ini Alvin” Cakka beralih menunjuk Alvin yang berada dihadapannya. Oik tersenyum, tapi Alvin terlihat sedang serius dengan beef steak dihadapannya.

“Hai, gue Oik. Ma…” ucapan Oik segera dipotong Cakka.

“Ini Oik, temen gue” potong Cakka, Oik mengernyitkan dahinya, heran mengapa Cakka memotong pembicaraannya dan berbicara seperti itu. Oik tersenyum paksa, ia menatap HandPhonenya.

“Gue duluan ya Kka, udah ditungguin soalnya” pamit Oik, Cakka mengangguk. “Gue duluan ya semua” kali ini Oik beralih menatap Ray dan Alvin. Ray mengangguk sambil tersenyum menanggapinya sedangkan Alvin hanya mengangguk malas.

Cukup lama mereka terdiam, kepergian Oik barusan bukannya mengembalikan suasana mereka awalnya, malah sekarang terkesan mencekam. Cakka yang semula terlihat bersemangat, sekarang malah terdiam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun sedangkan Alvin yang memang lebih banyak diam malah sering terlihat melirik kearah Cakka yang terdiam semenjak kedatangan Oik barusan dan Ray, ia hanya menatap kedua sahabatnya bergantian. Sepertinya ia tidak menyadari keadaan sekarang yang mencekam.

“Tumben lo diem Kka” celetuk Ray, Cakka tersentak.

“Ngga, gue lagi pengen diem aja” jawab Cakka singkat. Ray manggut-manggut sedangkan Alvin, makin menyipitkan matanya yang memang sudah sipit ketika Cakka berbicara seperti itu. Sepertinya Alvin menyadari sesuatu, batin Cakka gelisah. “Pulang aja yuk. Udah malem juga” ajak Cakka, mencoba mengalihkan suasana aneh ini. Ray menatap arlojinya, kemudian mengernyit heran dan beralih menatap Cakka heran.

“Baru jam 20.30 WIB (setengah Sembilan) Kka, biasanya lo belum mau pulang” ujar Ray, yang diamini Alvin.

“Tumben amat” akhirnya Alvin membuka suaranya, masih sesekali menyantap beef steaknya.

“Gue males, lagian Deva sendirian dirumah” ujar Cakka mencoba meyakinkan kedua sahabatnya. Ray dan Alvin mengangguk mengerti.

“Yaudah” mereka meninggalkan café itu.

Suasana didalam mobil hening, Cakka yang semula terlihat bersemangat seperti kehilangan nyawanya, semenjak pertemuannya dengan Oik untuk yang kesekian kalinya, Cakka merasa ini yang paling tidak tepat waktu, mengapa ketika ia harus ketemu Oik ketika sedang bersama Ray dan Alvin? Bagaimana jika Ray atau Alvin curiga, ia belum siap menceritakan semuanya saat ini, batin Cakka benar-benar gelisah dan bingung. Apa yang harus diperbuatnya saat ini?, Cakka disibukkan oleh pikirannya sampai-sampai ia tida menyadari bahwa mereka sudah tiba di depan rumahnya.

“Kka, lo ngga mau turun?” tanya Ray, menatap Cakka lewat spion mobilnya. Cakka tersentak, kemudian mengalihkan pandangannya yang semula menatap keluar jendela menatap Ray dan Alvin.

“Hah, eh… udah nyampe ya?” Cakka melihat sekelilingnya, Ray mengernyit heran tapi kemudian mengangguk. “Yaudah, kalo gitu gue duluan ya. Sankyu sob” pamit Cakka, turun dari mobil Ray. Tak lama Ray melajukan mobilnya, meninggalkan rumah Cakka.

***
Alvin terlihat uring-uringan dibednya, tidak seperti biasanya. Hari ini begitu membuatnya bosan, dan bingung harus melakukan apa. Alvin berdiri, mengelilingi kamarnya dan kembali duduk dibednya, itu terus terjadi sampai ia merasa bahwa yang ia lakukan benar-benar hal bodoh. Alvin mengacak rambutnya. Aneh, Baru kali ini ia merasa boring seperti sekarang, biasanya ia malah senang dengan kesendiriannya. Tanpa berpikir lagi, Alvin mengambil kunci motornya dan melesat, mencoba mencari udara yang lebih fresh.

Alvin menghentikan laju motornya disebuah tempat yang… sepertinya jarang dikunjungi orang, terlihat dari suasana sekitarnya yang sepi dan masih banyak ilalang tumbuh dengan liarnya. Ia membuka helm fullfacenya dan mulai menjelajahi daerah ‘asing’ itu. Menarik, pikir Alvin, ketika ia melihat daerah itu lebih dalam lagi, ternyata disana ada sebuah taman, tapi sepertinya tidak pernah diurus dan terbengkalai, dan ketika melihat kesebelah kanannya, Alvin melihat sebuah lapangan basket. Tapi lapangan ini berbeda, sepertinya ini masih digunakan, tidak seperti taman yang kotor dan terbengkalai tadi, malah lapangan ini terlihat sangat terawat dan bersih. Langkah Alvin menuju ke lapangan terhenti ketika ia melihat seseorang, sepertinya sedang mendrible bola. Mata sipit Alvin semakin menyipit, mencoba melihat lebih jelas. Tanpa sadar Alvin sudah berada dekat dengan lapangan itu, ia bisa melihat jelas siapa orang itu. Cewek itu kan? Batin Alvin ragu.

Gadis berwajah tirus itu masih mendrible bolanya, tanpa menyadari bahwa ada seseorang selain dirinya ditempat itu. Ia menatap ring basket, mencoba mencari celah untuk melakukan shoot, setelah yakin ia sedikit berjinjit dan mulai menshoot, bola sedikit memantul dibibir ring dan masuk, ia tersenyum puas melihatnya. Bola itu kembali padanya, ia mendrible dan mencoba melakukan lay up. Tapi sayang, ketika akan mendarat, sepertinya ia melakukan kesalahan, ia mendarat tidak sesuai dengan yang diharuskan, ia terjatuh dan meringis. Bolanya menggelinding begitu saja. Shit, batinnya kesal. Ia mencoba berdiri tapi gagal, malah kakinya terasa lebih sakit dari semula.

“Kalo ngga bisa, jangan dipaksain” ujar seseorang terlihat mendekat kearahnya, gadis itu menatapnya tak percaya.

“Lo !!, ngapain disini?” tanya gadis itu pada Alvin yang sedang memeriksa kakinya.

“Buruan” perintah Alvin tanpa mempedulikan pertanyaan Ify -gadis itu-, ia membantu Ify berdiri, mencoba memapah gadis itu ke pinggir lapangan. Ify menatap pemuda ini dengan berbagai pertanyaan dibenaknya, ia heran bagaimana bisa Alvin berada dilapangan ini dan malah menolongnya. Ternyata manusia cuek satu ini punya jiwa sosial juga, batin Ify. Memperhatikan Alvin yang sedang sibuk dengan kakinya yang terlihat agak membengkak.

“Pelan-pelan napa” celetuk Ify, meringis ketika Alvin sedikit menekan lukanya.

“Berisik lo, kaki lo keseleo. Makanya bengkak gini. Bisa berdiri ngga?” cerocos Alvin, Ify memandangnya takjub. “Heh, lo ngapain ngeliatin gue gitu” bentak Alvin, Ify mencibir.

Ify mencoba berdiri, gagal. Ia malah hampir terjatuh kalau saja Alvin tidak menahan tangannya. Alvin berdecak kesal, bingung apa yang harus dilakukannya.

“Duduk” perintah Alvin, Ify menurutinya.

Alvin kembali melihat kondisi kaki Ify, ia mencoba memeriksa kaki gadis itu, sesekali Ify meringis ketika Alvin malah menekan tempat lukanya. Alvin menghela napas perlahan, kemudian beralih menatap Ify.

“Rumah lo dimana?” tanya Alvin, Ify cengo’ untuk apa Alvin menanyakan alamatnya.  “Lo jangan mikir aneh-aneh dulu. Gue Cuma mau bantuin lo, kalo ngga mau ya udah” Alvin berdiri, Ify kembali cengo’, cowok ini baru saja beberapa menit yang lalu menawari bantuan, tapi sedetik kemudian malah mengambil keputusan sendiri. Aneh, batin Ify. Langkah Alvin terhenti, terlihat Ify menahan tangannya sambil meringis menahan sakit.

“Rumah gue di Grand City blok G no 16” ujar Ify, tanpa banyak omong lagi, Alvin langsung membantu Ify menuju ke tempat ia meletakkan motornya tadi. “Lo ceroboh ya, udah tau tempat sepi gini. Malah sembarangan aja parkir motor” cerocos Ify ketika melihat motor Alvin yang terparkir sembarangan.

Alvin berdecak kesal, “Ck, cerewet”.

***
“Hhe, maap Ag” cengir Cakka, ketika ia menjemput Agni. Ini kali pertama Cakka berinisiatif menjemput pacarnya itu, walaupun mereka sudah beberapa bulan jadian, tapi baru kali ini Cakka menjemput Agni langsung dirumahnya dan lagi-lagi ia telat, ckck seperti benar-benar sudah mendarah daging, kebiasaannya ini susah untuk dilepaskan begitu saja. Agni manyun. Bukannya takut, Cakka malah makin cengengesan dan mencubit pipi gadisnya itu, gemas melihat ekspresi Agni.

“Sakiiiiit Kka” ringis Agni, mengusap pipinya yang menjadi korban cubitan Cakka tadi. “Buruan!!, telat nih” perintah Agni, Cakka mengangguk, memberikan helm pada Agni. Cakka langsung tancap gas meninggalkan rumah Agni, ketika baru saja Agni duduk di motornya. Otomatis, Agni yang kaget langsung memegang tas Cakka erat. Tidak berani memeluk langsung Cakka.

“Yah… udah ditutup Ag, gimana dong?” tanya Cakka sambil menatap Agni yang berada dibelakangnya, merasa bersalah dan mengalihkan pandangannya kearah pintu gerbang sekolah yang sudah tertutup rapat.

“Masuk aja yuk” ajak Agni, sebenarnya ia ragu dengan keputusannya, tapi ya mau bagaimana lagi. Selama ini Agni belum pernah sekalipun yang namanya bolos.

“Yakin.. ntar disuruh keliling lapangan 5 kali lho. Emang kamu sanggup? Kalo aku sih udah biasa” ujar dan tanya Cakka, Agni menatap kearah pintu gerbang sekolah yang –masih- tertutup, menghela napas berat.

“Yaudah deh, kita pulang aja” ujar Agni, dengan sangat terpaksa. Cakka mengernyit.

“Kok pulang sih, jalan aja yuk” timbul ide gila dari pemikiran seoarang Cakka Kawakas Nuraga, ia menatap Agni yang sedang berpikir sambil memainkan alisnya. Mencoba meyakinkan gadisnya lagi. “Sekalian aku juga mau ngecheck sesuatu. gimana?” tawar Cakka, lagi. Agni masih terlihat bingung.

“Tapi masa’ pake baju sekolah sih, ngga enak diliatin orang” desah Agni, memandangi pakaian mereka kemudian menatap Cakka yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Itu mah gampang, ntar kita mampir dulu ke tempat aku, disana ada baju kok. Gimana? Daripada pulang” ajak Cakka, cukup lama Agni meyakinkan keputusannya, kemudian ia mengangguk lemah. Cakka tersenyum cerah melihatnya.

Cakka menghentikan laju motornya disebuah studio music bertuliskan ‘Kka’s World’, Agni mengernyit heran, mengapa Cakka mengajaknya ke tempat ini?, pikirnya. Cakka menuntun Agni memasuki studio itu, ternyata agni salah, disana bukan Cuma ada studio music, tapi juga sebuah café, terlihat cukup nyaman. Lantai bawah memang dikhususkan untuk studio music sedangkan dilantai ataslah letak cafénya. Pemandangan dan keadaan sekitar yang nyaman membuat siapa saja betah berada ditempat ini, dengan hotspot area dan disalah satu dinding terlihat berbagai macam coretan tangan, itu memang disediakan untuk pengunjung yang ingin mengajukan kritik, saran ataupun sebagainya. Selain itu juga, disana disediakan seperti perpustakaan mini, yah isinya masih berkisar komik, novel ataupun buku-buku ilmu pengetahuan standar, sekedar tambahan untuk menghilangkan waktu luang jika sedang bosan. Agni menatapnya takjub, isinya benar-benar membuatnya nyaman, bukan hanya hiburan semata, dan Agni agak sedikit terbelalak ketika ia dan Cakka sampai didepan sebuah pintu bertuliskan ‘Cakka’s Zone’. Apa ini semua milik Cakka?, itulah yang berada dipikiran Agni saat ini.

“Ayo masuk, kamu mau ganti baju kan? Nah kamu liat aja dilemari itu” ujar Cakka ketika mereka sudah didalam ruangan yang bertuliskan ‘Cakka’s Zone’ tadi, Cakka menunjuk sebuah lemari, Agni mengangguk. 
“Disana ada baju aku, kamu pake aja ngga apa-apa kan?” tanya Cakka, Agni kembali mengangguk, Cakka tersenyum. “Yaudah, kamu ganti aja dulu. Aku mau keluar, mau liat keadaan sekitar” ujar Cakka, sebelum keluar ia mengelus kepala Agni lembut.

Sepeninggal Cakka, Agni masih termenung, masih diposisi semula. Pandangannya menyapu semua sudut ruangan itu, terlihat beberapa frame foto. Yah… disana ada berbagai macam foto Cakka, ada yang bersama Deva, ada yang bersama kedua orang tuanya dan ada juga yang bersama Ray dan Alvin. Tapi pandangan Agni terhenti pada sebuah frame foto, bergambar teddy bear dengan tulisan ‘I Love U’ disalah satu sisinya. Itu Agni, tapi kapan? Agni merasa tidak ingat kalau ia pernah berfoto dengan gaya seperti itu, difoto itu terlihat Agni berada dilantai atas sekolahnya, matanya menatap lurus kedepan dan sepertinya yang mengambil foto itu dari samping dan tanpa sepengetahuan Agni, terbukti dari Agni yang tidak tau bahwa ia pernah bergaya seperti itu, disana ia terlihat sangat manis, rambutnya terurai dan diterbangkan angin, terlihat sangat natural. Mungkinkah? Batinnya bertanya, ia menggeleng tapi tidak bisa dipungkiri kalau ada perasaan senang ketika melihat itu. Agni langsung mengambil baju dan mengganti seragamnya dengan kaos Cakka, bergambar tulisan abstrak, terlihat kebesaran dengan ukuran tubuh Agni, Agni sedikit menggulung tangan bajunya, dan merapikan ikat rambutnya, simple tapi tidak menghilangkan kesan manis didirinya. Agni berbalik ketika seseorang membuka pintu, terlihat Cakka yang mematung disana, sepertinya ia terpesona dengan penampilan simple Agni itu, Agni tersenyum melihatnya kemudian menghampiri Cakka.

“Kamu ngga ganti baju?” tanya Agni, menyadarkan Cakka dari keterpesonaannya. Cakka tersentak, menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal.

“Yaudah, kamu tunggu diluar aja. Aku Cuma bentar kok” ujar Cakka ketika sudah bisa mengendalikan rasa aneh ketika berhadapan dengan gadisnya ini, Agni mengangguk.

***
“Shil, Agni mana?” tanya Ray ketika ia berpapasan dengan Shilla ketika ia dan Alvin akan ke kantin, tidak seperti biasa mereka tidak bertengkar.

“Ngga masuk” jawab Shilla singkat langsung meninggalkan Ray dan Alvin yang memandangnya penuh tanda tanya, Ray mengalihkan pandangannya menuju Alvin, Alvin yang merasa diperhatikan hanya mengangkat bahunya, tanda bahwa ia tidak tau apa-apa.

“Buruan Ray, laper nih gue” tanpa Ray sadari Alvin sudah meninggalkannya, segera saja Ray berlari menyusul sahabatnya itu.

“Etdah, nih kantin udah kaya’ pasar aja. Rame banget” cerocos Ray, ketika ia sedang mencari tempat untuk duduk. 

Ray dan Alvin masih celingak-celinguk melihat keadaan sekitar, kalau-kalau mereka menemukan tempat kosong, tapi sejauh mata memandang, semua bangku kantin penuh tapi ada yang aneh. Mereka duduk tanpa memesan apapun dan yang lebih aneh lagi, para penghuni kantin hari ini dominan cewek, tidak seperti biasanya. Tumben cewek-cewek rela ke kantin yang biasanya dipenuhi kaum adam yang sedang kalap jika berhadapan dengan makanan kantin. Ray dan Alvin saling berpandangan, ternyata pikiran mereka sama. Bukan hanya itu, mereka juga terlihat melirik pada satu titik disalah satu pojok kantin. Ray mengikuti arah pandang mereka, Ray mengernyit heran, ternyata itu yang membuat makhluk hawa Kusuma Bangsa rela berdesakan di kantin, batin Ray takjub. Arah pandang Ray tadi ternyata terhenti pada seorang cowok berpostur tubuh tinggi, hitam manis dan senyum ramah yang tidak lepas dari wajahnya yang tampan, membuat sebagian siswi melting melihatnya. Ray dan Alvin mengernyit heran, merasa belum kenal dengan cowok itu. Sepertinya itu siswa baru dan hebatnya baru beberapa jam, ia sudah bisa mengalihkan perhatian hampir seluruh siswi di Kusuma Bangsa.

“Gila tu anak baru, banting harga dah gue” ceplos Ray kesal sambil menatap kearah anak baru itu, ia dan Alvin sudah mendapatkan tempat duduk, Alvin mengabikannya.

“Kaga usah nyalahin orang Ray, kalo kaga laku ya bilang aja” celetuk Riko, tiba-tiba duduk disebelah Ray. Mendengar itu langsung saja Riko mendapat toyoran gratis dari Ray, Riko meringis. “Sakit sarap” ujar Riko sambil sesekali mengelus kepalanya.

“Mau lagi lo???” ujar Ray yang sudah bersiap mendaratkan tangannya lagi, Rio nyengir sambil menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya._.V.

“Eh iya, Cakka mana? Baru nyadar gue” ujar Riko, Ray dan Alvin mendengus kesal. Ni bocah, percuma aja satu kelas tapi masih kaga tau juga, batin Ray kesal.

“Eh sarap, kita ini satu kelas masa’ lo kaga nyadar si Cakka kaga ada dari tadi” celetuk Alvin sambil memakan bakso dihadapannya, Riko nyengir menyadari kebodohannya, Alvin menggelengkan kepalanya.

“Eh iya Ko, lo tau ngga…”

“Kaga” potong Riko dengan tampang polosnya sebelum Ray menyelesaikan pertanyaannya, Ray mendengus kesal menghadapi temannya ini.

“Gue belum selesai” ujar Ray gemas melihat Riko, sedangkan Riko hanya manggut-manggut. Ray menghela napas panjang, “Anak baru itu dikelas mana sih?” tanya Ray, Riko menghentikan acara makannya dan terlihat berpikir.

“Kalo ngga salah anak IPA 2, sekelas sama cewek lo” jawab Riko santai, kemudian kembali melanjutkan acara makannya yang tadi tertunda, Ray manatap Riko aneh. Sejak kapan gue punya cewek?, batin Ray bertanya.

“Cewek gue? Siapa Ko? Kok gue kaga tau ya”

“Noh si Shilla, temennya cewek si Cakka” ceplos Riko, Ray manggut-manggut mendengar jawaban Riko, kemudian melanjutkan makan nasi uduk dihadapannya.

“Oh… Shilla” tanggap Ray santai, meminum jus jeruknya tapi detik kemudian…

Byur…

Jus yang tadi baru masuk ke mulut Ray sekarang keluar lagi, otomatis Alvin yang berada dihadapannya menjadi korban, Alvin menatapnya garang, Ray hanya nyengir kemudian mengalihkan pandangannya pada Riko yang sibuk tertawa melihat kejadian tadi.

“Heh..!! sejak kapan Shilla jadi cewek gue. Asal aja lo kalo ngomong” cerocos Ray pada Riko yang mencoba menahan tawanya, Alvin sudah ngabur ke toilet untuk membersihkan bajunya yang lengket akibat ulah Ray tadi.

“Lah, bukannya emang iya ya” tanggap Riko polos. Toing, Riko kembali mendapat hadiah Cuma-Cuma dari Ray, Riko meringis meratapi nasib kepalanya yang sudah dua kali mendapat hadiah dari Ray.

“Sembarangan aja lo” Ray meninggalkan Riko yang masih disibukkan dengan pikirannya.

***
Agni melangkah gontai dikoridor sekolahnya, masih sepi. Wajar saja sekarang baru menunjukkan pukul 06.25 WIB, dan itu berarti masih ada waktu sekitar kurang lebih 50 menit lagi sebelum bel tanda pelajaran dimulai berbunyi. Hanya terlihat beberapa siswa yang baru datang, entah apa alasan mereka datang sepagi ini, untuk menyalin PR atau bahkan sekedar menghilangkan penat. Agni menghela napas panjang selama perjalanan menuju kelasnya, apa yang harus diperbuatnya saat ini? baru saja kemarin ia merasakan kebahagian ketika bersama Cakka, tapi mengapa sekarang kebahagian itu seakan pergi? Pikiran Agni kembali melayang ketika ia sedang bersama Cakka, tiba-tiba seorang gadis berparas imut mendekat kearah mereka, ia terlihat dekat dengan Cakka, bukan hanya dekat tapi sangat dekat. Agni merasa bahwa ada sesuatu diantara mereka.

*FlashbackON*
“Cakka???” mendengar ada yang memanggilnya, Cakka menoleh ke sumber suara, Cakka sedikit terkejut melihat gadis ini, lagi. Mengapa akhir-akhir ini gadis ini seakan muncul kembali? Disaat Cakka mencoba melupakan semuanya.

“Hei, Ik” balas Cakka, Oik –gadis itu- tersenyum tapi senyumnya seketika menghilang ketika melihat tangan Cakka menggenggam erat tangan gadis manis disampingnya. “Sendiri?” tanya Cakka, mencoba menghilangkan kesan canggung diantara mereka.

Oik mengangguk, “Iya, gue sendiri. Lo ngga sekolah Kka?” Oik heran melihat Cakka sedang berada di café ini, Oik masih tidak menyadari bahwa café tempat mereka bertemu sekarang adalah milik Cakka.

Cakka nyengir, “Ngga Ik, biasalah” tanggap Cakka, Oik tertegun. Senyum itu, sudah lama ia tidak melihatnya dan Cakka tersenyum ketika gadis disampingnya itu mencubit pinggang Cakka ketika Cakka menyebutkan alasannya tadi. Oik tersenyum kaku.

“Kebiasaan lo Kka” ujar Oik, sedikit mengurangi rasa gugup dan emosi yang mendadak melihat kedua orang dihadapannya. “Lo… sama siapa Kka?” tanya Oik, sebenarnya ia ragu mengajukan pertanyaan itu, takut kalau jawaban yang keluar dari mulut Cakka tidak sesuai dengan harapannya.

“Gue.. sama cewek gue Ik. Ini Agni, cewek gue” Cakka memperkenalkan kedua gadis itu, Agni tersenyum manis sambil mengangguk perlahan, Oik mengangguk kaku.

“Gue duluan Kka” pamit Oik tiba-tiba, Cakka mengernyitkan dahinya. Heran dengan sikap Oik barusan.

“Oh.. iya Ik, take care ya”
*FlashbackOFF*

Memang tidak ada yang special dari kejadian kemarin, tapi Agni menyadari sesuatu. Pertemuan tidak sengaja mereka kemarin terlihat canggung, Cakka tiba-tiba menggenggam tangannya erat dan senyum gadis yang Cakka panggil Oik itu terlihat sangat terpaksa. Apalagi ketika Oik bertanya dengan siapa Cakka berada ditemapat itu, Agni menyadari perubahan raut gadis imut itu. Ada hubungan apa antara Cakka dan gadis itu?, selain itu Agni juga harus dipusingkan oleh kenyataan pahit yang harus diterimanya. Mengapa ia harus mengalami ini? tidak pantaskah ia bahagia? Batinnya benar-benar bingung. Agni terus berjalan kearah kelasnya tanpa ia menyadari ketika didepan pintu kelas ada seseorang yang akan keluar kelas, otomatis mereka bertabrakan…

“Sorry gue ngga sengaja” ujar Agni, mencoba berdiri dan melihat siapa yang bertabrakan dengannya. Agni sedikit memiringkan kepalanya, menatap pemuda didepannya ini lebih jelas. Sedangkah pemuda yang bertabrakan dengan Agni, seperti terpaku, mata hitam Agni membuatnya ingin menatap gadis itu lebih lama, Agni sedikit risih diperhatikan seperti itu. Agni menggelengkan kepalanya perlahan kemudian langsung masuk ke dalam kelas, meninggalkan pemuda itu yang masih mematung didepan pintu kelas.



To Be Continued...^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar