My Video

Loading...

Sabtu, 16 Juli 2011

Loving Girl #5th

“Adik kamu…..”

“Adik saya kenapa dok? Dia ngga apa-apa kan? Dia baik-baik aja kan?” tanya Rio semakin memburu, terlihat sekali raut wajahnya yang biasa dingin menjadi sangat ketakutan, apalagi yang sedang berada didalam sana adalah adik kesayangannya dan dialah menjadi penyebab Ray bisa seperti sekarang. Dokter Excel menghela napas kemudian menatap Rio, memegang pundak Rio perlahan.

“Ray untuk saat ini baik-baik saja, memang keadaan tadi sempat membahayakan dirinya. Untung saja dia cepat dibawa kesini, tapi sayangnya jantungnya semakin melemah, kelainan katup aortanya sudah semakin membahayakan Ray” jelas dokter Excel membuat Rio terhenyak dan perlahan cairan bening membanjiri pipi chubby Agni. “Rio, saya ingin menanyakan sesuatu?” Rio menatap dokter Excel penuh tanya, kemudian mengangguk perlahan. “Apa Ray rutin mengonsumsi obatnya?” tanya dokter Excel, Rio mengangguk yakin. “Berarti bukan itu penyebabnya, apa ada yang menganggu pikiran Ray sehingga membuatnya tertekan?” tanya dokter Excel lagi, Rio terdiam, kejadian beberapa saat kembali masuk ke ingatannya. “Yah, mungkin itu juga jadi salah satu faktor dia bisa menjadi seperti sekarang. Seperti kemarin Rio, saran saya Cuma satu. Ray harus dioperasi. secepatnya”

Setelah mengatakan itu dokter Excel meninggalkan Rio dan Agni yang terdiam, Agni tidak menyangka bocah lucu dan imut itu ternyata mempunyai penyakit berbahaya seperti itu. Agni mengalihkan pandangannya menuju Ray, terlihat bocah imut itu masih terpejam, beberapa alat medis terlihat menempel ditubuhnya, Agni memandangnya miris, air matanya mengalir semakin deras tanpa bisa dihentikannya. Rio, dia masih terdiam, ini semua salahnya. Kalau saja tadi ia tidak mengacuhkan Ray saat itu, Ray pasti tidak akan seperti sekarang, dan soal operasi itu. Apakah tidak ada cara lain? Batin Rio. Selain memang Ray tidak ingin melakukan operasi, Rio juga tidak yakin operasi bisa menyelamatkan nyawa adiknya, Rio hanya tidak ingin operasi itu nantinya akan sia-sia dan malah membuat Ray semakin menderita, cukup Rio merasakan kehilangan seseorang karena gagal operasi, mamanya. Ya mama Rio meninggal dimeja operasi ketika akan melahirkan Ray, saat itu Ray lahir selamat walaupun selama beberapa hari Ray harus berada di incubator, sedangkan mama Rio, memang sempat sadar tapi hanya beberapa menit, seolah hanya ingin menyelamatkan nyawa bayinya, mama Rio menghembuskan napas terakhirnya setelah melihat Ray yang saat itu ada di incubator.
Rio dan Agni sekarang berada dikamar rawat Ray, sedangkan Gabriel, ia lebih memilih menunggu diluar sambil melanjutkan tidurnya. Agni mengalihkan pandangannya, menatap Rio dengan pandangan yang… entahlah, semua bercampur saat itu. Agni ingin marah, ia kecewa. Karena Rio, Ray jadi seperti sekarang. Berkali-kali Agni merutuki kebodohan Rio yang tega membuat Ray menangis dan akhirnya seperti saat ini. Rio menyadari Agni memperhatikannya, perlahan Rio mengangkat wajahnya, mencoba membalas tatapan Agni. Rio tertegun, Agni menatapnya seperti itu dengan air mata yang terus mengalir dari kedua bola mata indahnya. Lama mereka dalam keadaan saling menatap seperti itu, sesekali terdengar isakan Agni. Sampai akhirnya mereka tersadar karena Ray yang terlihat membuka matanya.

“Kak Lio…” desah Ray, segera Rio menghampiri adiknya itu, mata Ray masih terlihat mengerjap beberapa kali. Rio mengelus kepala Ray lembut, mencoba memberi kekuatan dengan sentuhannya.

“Kak Rio disini sayang” balas Rio parau, ia ingin menangis melihat keadaan adiknya seperti sekarang, tapi sekuat tenaga ditahannya. Perlahan Agni mendekat kearah dua bersaudara itu.

“Kak Lio jangan tinggalin Lay lagi ya” pinta Ray lemah, terlihat napasnya masih belum beraturan. Rio mengangguk sambil terus mengelus kepala Ray, Ray mengalihkan pandangannya pada orang lain yang berada diruangan itu, Agni. Ray tersenyum manis melihatnya. “Kak Agni disini juga ya?” tanya Ray, terlihat antusias, hampir saja ia bangun dan menghampiri Agni tapi langsung dicegah Rio, Ray manyun. “Kak Lio kenapa sih? Lay kan mau sama kak Agni” gerutu Ray. Rio dan Agni tertawa kecil melihat itu.

“Oh… jadi gitu nih. Udah ada kak Agni, kak Rio dilupain” ujar Rio –pura-pura—ngambek, matanya menyipit, seperti akan menangis. Ray tertawa melihat tingkah kakaknya itu, sedangkan Agni? Sempat terpaku beberapa saat ketika melihat Rio seperti itu. Ternyata ‘monster’ didepannya ini penuh dengan kejutan. “Yaudah… kak Rio pulang aja deh, kan udah ada kak Agni” ujar Rio, bersiap untuk melangkah meninggalkan Ray, tapi dengan segera tangannya ditarik Ray, Rio berbalik.

 “Ih, kak Lio kok ngambek sih. Lay kan Cuma becanda” gerutu Ray, mukanya manyun, pipinya menggelembung. Membuat Rio tertawa dan mencubit pipi Ray yang menggelembung itu, Agni melihat itu sambil tersenyum.

Mereka larut dalam obrolan yang seolah tidak ada habisnya, Rio dan Agni lega setelah mendengar kembali celotehan dari bibir mungil Ray, sesekali mereka tertawa karena tingkah lucu Ray. Ray sudah terlihat sehat yah walaupun itu tidak mengubah sedikit pun keadaan Ray yang bisa dibilang sangat berbahaya. Rio sesekali terdiam, pikirannya kembali melayang ketika mendengar penuturan dokter Excel beberapa jam yang lalu. Ray harus dioperasi, apakah tidak ada cara lain selain operasi?, batinnya bingung.

Gabriel terlihat memasuki ruang rawat Ray, ketiga kontan melihat kearah Gabriel, Gabriel tersenyum menatap dua orang –Rio dan Ray- yang menatapnya penuh tanya. Perlahan Gabriel mendekat kearah Agni yang duduk disebelah kanan Ray.

“Kenapa Bang?” tanya Agni langsung, ketika Gabriel sudah berada disampingnya. Gabriel semula menatap Ray mengalihkan pandangannya pada Agni.

“Gue mau pulang, ada kuliah pagi soalnya. Lo mau pulang atau masih mau disini?” jawab dan tanya Gabriel, ekspresi Ray berubah keruh mendengar penuturan Gabriel yang menyuruh Agni pulang. Agni mengalihkan pandangannya kepada Ray, Ray menatapnya penuh harap. Agni menghela napas panjang, kemudian kembali menatap Gabriel.

“Lo pulang aja deh bang. Gue masih mau disini, nungguin Ray” jawab Agni, Ray tersenyum lebar mendengarnya, Gabriel mengangguk kemudian menatap Ray.

“Yaudah kalo gitu gue pulang de’… em…” pamit Gabriel, Gabriel mengalihkan pandangannya menuju Rio.

“Rio” potong Rio, seolah mengerti apa maksud Gabriel menatapnya tadi, Gabriel mengangguk.

“Gue pamit Yo” lanjut Gabriel, Rio membalasnya dengan mengangguk dan tersenyum tipis. “Cepet sembuh ya Ray” ujar Gabriel sebelum meninggalkan ruang rawat Ray, Ray mengangguk sambil tersenyum sebelum Gabriel menghilang dibalik pintu.

@_@
Hari ini Sivia seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Sivia bingung, Agni tidak masuk sekolah tanpa kabar yang jelas, memang tadi dia mendapat kabar dari Gabriel kalau Agni tidak masuk, tapi Gabriel tidak menyebutkan alasannya. Ditambah lagi Rio juga tidak masuk, entah mengapa Sivia jadi berpikiran kalau mereka berdua –RioAgni- bolos dengan alasan yang sama. Sama halnya dengan Sivia, Alvin juga merasa heran, kali ini bukan karena Rio tapi Agni, tidak seperti biasanya Agni tidak masuk tanpa kabar dan HandPhonenya tidak bisa dihubungi dari kemarin malam.

“Vi, Agni kemana? Kok ngga masuk, dia ngabarin lo ngga?” cerocos Alvin ketika melihat Sivia duduk dibangkunya sambil membaca novelnya. Sivia sempat tertegun beberapa saat melihat Alvin yang biasanya tidak banyak berbicara, tiba-tiba nyerocos tanpa henti hanya karena menanyakan keberadaan Agni. “Vi, lo denger gue ngga sih?” gerutu Alvin, Sivia tersentak.

“Hah..!!! eh iya Vin, gue juga ngga tau. Tadi kakaknya Agni Cuma ngasih tau gue kalo Agni ngga masuk. Tapi ngga ngasih tau alesannya” jelas Sivia, Alvin menghela napas.

“Thank’s ya” balas Alvin langsung meninggalkan Sivia yang masih menatapnya heran. Aneh, batin Sivia. kembali sibuk dengan novelnya.

@_@
“Kak Lio” panggil Ray, sambil mencoba bangkit dari posisi tidurnya dan kemudian menyender di ujung bednya, sontak Rio menatap adiknya itu, seolah bertanya ‘kenapa?’. “Kak Agni mana? Katanya Cuma bental, kok ngga kesini lagi sih” gerutu Ray sambil mengerucutkan bibir mungilnya. Rio menghampiri Ray dan duduk disebelah adiknya, mengelus kepala Ray perlahan. Ray mendongak, manatap Rio lebih jelas.

“Ya, mungkin kak Agni ada kerjaan lain kali Ray, makanya ngga bisa kesini” jelas Rio, bukannya menghibur adiknya malah membuatnya semakin manyun. “Udah ah, lagian kan ada kak Rio disini” sambung Rio sambil mengelus pipi chubby adiknya.

“Kak…” desah Ray perlahan sambil menunduk, Rio mengernyitkan dahinya. Cepat sekali ekspresi adiknya ini berubah, pikirnya bingung.

“Kenapa lagi Ray?” tanya Rio, tangannya masih mengels kepala Ray yang terasa semakin menunduk.

“Papa ngga jengukin Lay ya” ujar Ray pelan, Rio terdiam, tanpa sadar tangannya berhenti mengelus kepala Ray.

Bagai bom atom yang tiba-tiba meledak dikepalanya, Rio mendengarnya miris. Rahangnya perlahan mengeras mendengar penuturan Ray barusan. Sebegitu tega seorang ayah menelantarkan anak-anaknya hanya demi uang. Rio merasa papanya berubah semenjak kepergian mamanya, awalnya Rio berusaha mengerti, mungkin papanya ingin sedikit menghilangkan kesedihan karena meninggalnya mama Rio yang tiba-tiba saat melahirkan Ray, pikir Rio ketika itu. Tapi sekarang, Rio meragukan itu semua. Tidak ada lagi papanya yang dulu, papa yang selalu menjadi panutan baginya, papa yang selalu mencurahkkan kasih sayangnya sesibuk apapun dia. Rio menatap Ray yang masih menunduk dengan miris, kasian. Semenjak lahir Ray tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu, dan sekarang? Papa mereka lebih memilih pekerjaannya daripada mengkhawatirkan Ray yang sedang sakit seperti saat ini.

“Lay kangen papa, kak” lanjut Ray, masih menunduk. Setetes cairan bening jatuh mengaliri pipi Rio, tapi dengan segera dihapusnya sebelum Ray menyadari bahwa ia menangis. Yup menangis, satu hal yang TIDAK pernah dilakukannya langsung dihadapan Ray. “Apa papa ngga sayang sama Lay, kak?” lanjutnya lagi, Rio masih terdiam, menatap kosong TV yang menyala dihadapannya. “Apa papa malah sama Lay, Kak?” desah Ray, Rio kembali mengernyitkan dahi, menatap Ray yang masih diposisi semula, menunduk. Rio tidak mengerti maksud Ray.

“Marah? Kenapa papa harus marah sama kamu? Emang kamu salah apa sama papa? Sampe-sampe kamu berpikiran papa marah sama kamu” tanya Rio, memegang kedua pipi Ray kemudian sedikit mengangkat wajah Ray, mencoba menatapnya lebih jelas dan mencari jawaban dari tatapan Ray yang sayu itu.

“Karena Lay… mama jadi meninggal” desah Ray perlahan,

JDEEERRR….!!!
 
Rio tertegun, tersentak dan seketika terdiam dengan posisi masih memegangi pipi Ray, Ray menatap Rio yang masih terdiam dihadapannya, sepertinya ada rasa bersalah timbul ditatapan mata sayu Ray. Rio tidak habis pikir, ia bagai disambar petir disiang bolong, bagai tersengat listrik ribuan Volt dan bagai terhempas dari ketinggian. Kenapa Ray bisa berpikiran seperti itu?, darimana Ray bisa mengambil kesimpulan, yang jujur saja tidak pernah terlintas sedikit pun dipikiran Rio. Sebegitu putus asakah Ray atas sikap papanya yang jarang memperhatikannya selama ini?, tatapan Rio yang semula lembut kini berubah, wajahnya mengekspresikan kalau dia marah dan kecewa, entah kecewa pada siapa? Papanya, Ray atau bahkan dirinya sendiri. Secara tidak langsung sudah membuatnya merasa gagal menjadi kakak yang baik buat Ray.

“JANGAN NGOMONG SEMBARANGAN RAY” tanpa sadar Rio membentak Ray, Ray menatap Rio takut, tidak menyangka bahwa Rio akan emosi dan membentaknya saat ini. “Darimana kamu bisa punya pikiran kaya’ itu? Mama meninggal bukan karena kamu” lanjut Rio lembut, nada bicaranya sudah mulai melemah, ketika melihat ekspresi ketakutan Ray tadi.

“Tapi mama meninggal gala-gala ngelahilin Lay kak” balas Ray, intonasinya meninggi, menatap Rio tajam, napas Ray terlihat tidak beraturan, terlihat dari dadanya yang naik-turun ketika berbicara dengan Rio barusan. Rio menghela napas, kenapa adiknya bisa berpikiran diluar batas umurnya, Rio tidak menyangka Ray yang masih berumur belum genap 5 (lima) tahun bisa mengambil kesimpulan yang seperti itu. Rio menghela napas lagi, kali ini lebih panjang dan lama, mencoba meredam emosinya. Ia tidak mau melakukan tindakan bodoh yang akan berakibat fatal lagi untuk Ray.

Seseorang masuk ke ruang rawat Ray, kontan keduanya menatap kearah pintu yang terbuka, kepala Agni terlihat, sambil tersenyum kemudian masuk. Perdebatan kakak-adik ini terhenti dengan sendirinya karena kedatangan Agni, Ray yang semula terlihat marah, kini tersenyum senang melihat orang yang ditunggunya berdiri tidak jauh dari dirinya sambil tersenyum manis.

“Kak Agni kemana aja sih? Lama banget, Lay bosen tau” gerutu Ray, melipat kedua tangannya didepan dada sambil mengerucutkan bibirnya, Agni tertawa geli melihat tingkah Ray itu, kemudian ia mendekat. Rio?, ia menatap Ray heran sekaligus takjub. Ajaib, baru beberapa menit yang lalu Ray marah-marah dan berpikiran aneh, sekarang malah berubah jadi manja lagi seperti itu, pikir Rio heran, tapi dalam hati ia tersenyum melihat adiknya seperti sekarang, setidaknya dia tidak berpikiran kalau dia yang menyebabkan mama mereka meninggal dunia.

“Ray, kak Rio keluar bentar ya. Lagian kan udah ada kak Agni yang nemenin” ujar Rio, Ray mengangguk tanpa memandang kearah Rio. Sibuk dengan jemari tangan Agni yang sedari tadi dimainkannya, “Gue titip Ray, kalo ada apa-apa kasih tau gue” ujar Rio kali ini beralih pada Agni, Agni mengangguk malas. Rio menghela napas kemudian keluar dari kamar rawat Ray, meninggalkan Agni dan Ray yang terlihat saling bercengkrama.

@_@
Pemuda sipit ini hanya bisa melihatnya dari jauh, langkahnya terhenti sebelum mencapai tempat tujuannya, ketika melihat pemuda lain berada ditempat itu. Tempat peristirahatan terakhir ‘dia’, gadis yang dicintainya, ia tidak punya pilihan lagi selain menghindari pertemuannya dengan pemuda itu, setidaknya itu dilakukannya untuk saat ini karena jika ia nekat, pemuda itu akan semakin membencinya, dan usahanya selama ini akan sia-sia. Pemuda itu terlihat bangkit dari tempatnya semula, sebelum meninggalkan makam itu, ia meletakkan rangkaian bunga yang dibawanya. Pemuda itu melangkahkan kakinya meninggalkan makam itu, pemuda sipit ini mulai berjalan ke makam itu, perlahan dan akhirnya sampai dimakam yang nisannya bertuliskan nama gadis yang dicintainya. Terlihat rangkaian bunga tergeletak disana, bunga yang dibawakan pemuda tadi, sama persis dengan bunga yang dibawanya, Lily putih, bunga kesukaan gadis yang dicintainya.

Cukup lama ia dimakam ini, merenungi semua yang telah terjadi, mencoba mencari jalan keluar yang terbaik. Dia menghela napas perlahan, mengelus nisan itu lembut, seolah dihadapannya ini adalah gadis yang dicintainya itu. Ia berdiri, menatap nisan itu lama, seakan tidak ingin berpisah lagi. Ia menghembuskan napasnya perlahan, kemudian berbalik, meninggalkan makam itu.

@_@
“Udah lama ya kita ngga ketemu, tuan Mario” ujar seseorang mengejutkan Rio dengan nada yang entah bagaimana membuat Rio muak mendengarnya, tapi dari caranya berbicara seperti itulah Rio mengenali sang lawan, Rio tersentak menatap lawannya.

“Mau apa lagi lo?” tanya Rio sambil menatap tajam lawan bicaranya, sang lawan hanya tersenyum remeh, tangan Rio sudah mengepal hebat menatap lawannya ini.

“Gue ngga mau apa-apa, gue Cuma mau lo, Mario” jawabnya dengan penuh tekanan ketika menyebutkan nama Rio, rahang Rio mengeras, menatap lawannya nanar, mengapa dia datang lagi?, batin Rio marah. 

“Hahaha, biasa aja kali ngeliatinnya, sampe segitunya lo. Gue tau lo kangen sama gue, tapi ngga usah gitu juga kali” ujar orang itu, benar-benar membuat Rio muak.

“Langsung aja deh, lo mau apa? gue? Apa yang lo mau dari gue? Uang? Harta? Atau bahkan nyawa gue. Buruan, gue udah muak ngeliat lo” ujar Rio garang, penuh tekanan emosi disetiap kata yang diucapkannya, sang lawan hanya tersenyum sinis, menatap Rio dengan pandangan yang… entahlah, sepertinya ia yakin kalau Rio akan kembali bergabung dengannya.

“Kan udah gue bilang. Gue mau lo MARIO, bukan uang lo, harta lo apa lagi nyawa lo. Lo aja cukup buat gue” jawabnya enteng, Rio bingung dengan orang dihadapannya ini, sudah lama mereka tidak bertemu, tapi kenapa malah jadi seperti ini, hal yang tidak diinginkan Rio malah menjadi kenyataan. Hal itu adalah, kembali berhubungan dengan orang dihadapannya ini.

“Udah gue bilang sama lo dari dulu, kalo gue ngga mau. Gue udah ngga mau lagi ada urusan sama lo, apalagi perkumpulan lo yang ngga penting itu. Udah gue bilang, GUE BERHENTI. Dan jangan ganggu gue lagi” jelas Rio panjang lebar, tapi hanya dibalas oleh tatapan sinis dan meremehkan dari lawannya. Rio yang sudah benar-benar muak, langsung saja meninggalkan lawannya yang sudah tersenyum aneh.

“Gue ngga akan berhenti buat ngajak lo gabung lagi sama gue. Cuma lo yang gue butuhin Mario. Karna lo yang akan jadi ‘alat’ gue… hahaha” sinis orang itu, kemudian berjalan menjauhi dimana tempat pertemuannya dengan Rio tadi.

@_@
“Ag, lo kemarin kemana sih? Kok ngga masuk? Si Alvin nyariin lo tau” cerocos Sivia ketika melihat Agni berada dikelasnya. Agni menatapnya penuh tanya.

“Setdah, ngeborong mbak? Kalo nanya satu-satu napa” ceplos Agni, Sivia nyengir garing sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Agni menghela napas, memulai untuk bercerita. “Kemarin gue ke rumah sakit Vi…”
 
“Apa!!! rumah sakit? Siapa yang sakit Ag? Lo atau kak Iyel? Aduh jangan sampe kak Iyel kenapa-napa deh…” histeris Sivia, tanpa sadar sudah membuat Agni menatapnya penuh selidik. Untuk apa Sivia mengkhawatirkan Gabriel sampai seperti itu, jangan-jangan… pikir Agni mulai menebak segala kemungkinan yang bisa terjadi pada sahabatnya ini.

“Aduh Vi, gue belom slesai cerita, mau gue ceritain kaga sih” ujar Agni, kesal karena omongannya selalu dipotong Sivia, Sivia kembali nyengir kemudian kembali mempersilakan Agni melanjutkan ceritanya. “Gue kerumah sakit buat jengukin Ray, adiknya Rio” ujar Agni, mata sipit Sivia terbelalak lebar mendengar nama Rio terucap dari bibir Agni, tumben ngga nyebut monster? Dan itu tadi, adik Rio?, pikir Sivia heran.

“Kok lo bisa kenal sama adiknya Rio, Ag? Gimana ceritanya?” tanya Sivia, Agni mulai menceritakan semuanya, mulai dari ketika dia bertemu Ray, dan tau bahwa Ray adalah adik Rio. Semua itu diceritakan Agni, kecuali tentang fakta yang ditemukannya tentang seorang Mario Stevano Aditya Haling.
“Oh, jadi lo ilang waktu itu gara-gara ngedenger suara anak kecil nangis dan itu Ray yang ternyata adiknya si Rio?” tanya Sivia mencoba meyakinkan, Agni mengangguk mantap. “Kaya’nya lo lumayan deket ya sama si Ray-Ray itu. Kalo gue denger dari cerita lo ya, kaya’nya dia lucu deh” komen Sivia, Agni tersenyum sambil mengangguk lagi.

“Banget Vi, baru kali ini gue ketemu anak yang lucu kaya’ Ray gitu. Sayang aja dia malah punya kakak monster kaya’ si Rio itu” dumel Agni, kesal jika mengingat bahwa Ray adalah adik Rio.

“Gue denger yang lo omongin. Emang salah gitu kalo Ray adik gue? Wajar aja lagi, guenya aja keren. Ya Ray pasti ngga jauh bedalah sama gue” celetuk seseorang, kontan Agni dan Sivia –yang sekarang berada dibangku Sivia- menatap kearah Rio, dengan berbagai macam pandangan, antara kagum, cengo’ bahkan tidak habis pikir ternyata ‘monster’ itu bisa bernarsis ria pula.

“Heh..!!! ngapain lo ikut-ikutan, dasar monster” celetuk Agni, kesal dengan tingkah Rio yang seperti itu.

“Eh cewek stres, gue punya telinga yang berfungsi buat mendengar!!, dan itu tadi membuktikan kalo telinga gue masih berfungsi dengan baik dan benar. Lagian gue Cuma ngungkapin fakta doang” ujar Rio santai, kemudian melenggang keluar kelas dengan menenteng tas ranselnya, kebiasaan Rio ketika pelajaran kimia. Kabur. Agni mendengus sambil melengos, yaiyalah telinga buat mendengar, sejak kapan jadi buat ngomong, batin Agni kesal. Sedangkan Sivia? terlihat masih cengo’ ketika melihat Rio yang berbicara panjang lebar dan bernarsis ria seperti itu pula.

Dari luar kelas, sepasang mata memperhatikan semua yang baru saja terjadi. Semuanya, tidak ada yang  terlewat sedikitpun, mulai dari dua gadis itu saling bercerita kemudian seorang pemuda yang tiba-tiba memotong pembicaraan mereka, dan hal yang paling mengejutkan adalah, pemuda yang dilihatnya itu membanggakan dirinya, satu hal yang sudah lama tidak dilihatnya selama beberapa tahun belakangan ini. apakah benar gadis manis itu yang dimaksud dalam mimpinya waktu itu? Jika benar, ia sungguh tidak ingin kehilangan lagi, setidaknya untuk saat ini. karena dia butuh gadis manis itu. Haruskah ia merebutnya?, satu hal yang tidak ingin dilakukannya lagi. Cukup waktu itu ia merebut ‘dia’ dari seseorang untuk menjadi miliknya. Tapi jika dilihat, seharusnya ia yang lebih berhak atas gadis manis itu, karena ia yang lebih dulu kenal dengannya. Egois ? memang, tapi ia tidak tau bagaimana jika gadis manis itu lebih memilih pemuda itu daripada dirinya?. Jika itu benar terjadi, siap-siap saja dia merasa kehilangan, untuk yang kesekian kalinya.

@_@
“Ag, lo langsung pulang?” tanya Alvin, ketika mereka –Alvin dan Agni- sedang berjalan menuju parkiran, Agni mengernyitkan dahinya, kemudian menggeleng perlahan.

“Kaya’nya ngga deh Pin, soalnya gue mau ke rumah sakit dulu” jawab Agni, Alvin tidak terlalu terkejut mendengarnya, karena ia sudah menduganya. “Kenapa Pin?” tanya Agni, kali ini sedikit mendongak untuk menatap Alvin yang berada disampingnya.

“Hah..!! ngga sih, gue Cuma mau ngajakin lo kerumah, soalnya Oma pengen ketemu sama lo. Kangen katanya” balas Alvin sambil tersenyum, Agni membalasnya, detik kemudian ekspresinya berubah.

“Duh, sorry banget Pin, bukannya gue ngga mau. Tapi gue udah terlanjur janji, ntar deh ya, kapan-kapan gue ikut sama lo” sesal Agni, Alvin mengangguk mengerti.

“Biasa aja kali Ag, ngga usah gitu banget” ujar Alvin, tangannya mengelus puncak kepala Agni lembut, Agni tersenyum manis.

“Eh iya, gue duluan ya Pin. Salam aja ya buat Oma” ujar Agni sebelum masuk ke taksi yang dicegatnya barusan. Alvin hanya mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya.

Dilihatnya taksi yang ditumpangi Agni sudah menghilang, Alvin mendesah perlahan. Ada rasa sesak tiba-tiba merasukinya, entah mengapa ketika mendengar tolakan halus dari Agni, Alvin merasa ada perasaan aneh pada dirinya, apalagi Alvin sudah tau alasan Agni menolak ajakannya barusan, untuk menjenguk Ray yang notabenenya adalah adik Rio. Mengingat itu, lagi-lagi Alvin merasa sesak. Apa ia kalah cepat dengan pemuda itu?

@_@
“Siang Ray…” sapa seorang gadis berperawakan tinggi, putih dan cantik dengan wajah blasterannya ketika memasuki ruang rawat Ray, ditangannya sudah ada bingkisan buah. Mendengar namanya dipanggil, Ray menoleh keasal suara dan langsung tersenyum lebar, tapi seketika senyumnya menghilang menjadi ekspresi tidak suka.

“Mau ngapain kamu kesini?” ketus Ray ketika melihat ‘tamu’nya. Terlihat sekali rasa tidak sukanya pada ‘tamu’nya itu.

“Ray kok gitu sih, kakak kan mau jengukin Ray. Masa’ ngga boleh sih” ujar gadis blasteran itu pada Ray, perlahan mencoba mendekat kearah Ray, Ray semakin menatapnya tidak suka.

“Ngga boleh. Lay ngga mau dijenguk kamu, KELUAL” usir Ray langsung sebelum gadis blasteran itu semakin mendekat. Tapi sepertinya gadis itu mengabaikan usiran Ray barusan, semakin lama ia semakin mendekat kearah Ray. “Lay bilang kelual, Lay ngga mau kamu disini” sambung Ray lagi, kali ini nada bicaranya semakin meninggi, dadanya naik-turun mencoba mengatur napasnya. Gadis blasteran itu terhenti satu meter sebelum ia berada didekat Ray.

“Ray ada apaan sih? Kok kakak denger kamu triak-triak” ujar seseorang langsung membuka pintu kamar rawat Ray, kontan Ray dan gadis blasteran itu menatap kearah pintu bersamaan.

“Kak Agni…!!!” panggil Ray manja tapi juga terlihat sekali kalau dia tidak suka dengan gadis dihadapannya itu. Orang itu –Agni- menatap Ray dan gadis blasteran itu bergantian, dilihatnya Ray agak bergetar, tanpa pikir panjang lagi, Agni langsung mendekat Ray yang langsung memeluknya erat.

“Ray, kenapa sayang?” tanya Agni lembut sambil mengelus rambut gondrong Ray dipelukannya.

“Suluh olang itu kelual kak, Lay ngga mau dia disini” ujar Ray perlahan, masih berada dipelukan Agni sambil menunjuk kearah ‘tamu’nya. Agni mengalihkan pandangannya pada gadis blasteran yang ditunjuk Ray, umurnya tidak beda jauh dengan Agni, ya sekitar seumuran dengan abangnya, Gabriel.

“Lho, kenapa disuruh keluar, dia kan mau jenguk Ray” ujar Agni sambil mengernyit heran. Ray mendongak, menatap Agni. Mata bonekanya terlihat berkaca-kaca dan memohon, Agni menghela napas kemudian mengangguk perlahan dan mengalihkan pandangannya pada gadis blasteran itu. “Maaf mbak, mending mbak keluar dulu deh. Kasian Raynya, mungkin lain kali mbak bisa kesini lagi” usir Agni halus, merasa tidak enak dengan ‘tamu’ Ray itu, gadis blasteran itu menghela napas panjang kemudian mencoba tersenyum, walaupun dengan terpaksa.

“Yaudah kalo gitu kakak pamit ya Ray, ini kakak taro’ disini aja ya” ujar gadis itu tersenyum paksa kemudian meletakkan bingkisannya dimeja dekat bed tempat Ray tidur. “Kalau begitu, saya permisi dulu” kali ini gadis itu mengalihkan pandangannya pada Agni, Agni mengangguk lemah.

“Tuh kakaknya udah pergi, kenapa sih Ray? Kok kakak itu ngga boleh jenguk Ray” tanya Agni setelah ia memastikan gadis itu sudah jauh dari kamar rawat Ray, Ray sedikit mengendurkan pelukannya kemudian menggeleng perlahan, sepertinya ia belum ingin bercerita mengapa ia mengusir gadis itu. “Yaudah kalo gitu sekarang Ray tidur ya, udah minum obat kan?” tanya Agni meyakinkan, Ray mengangguk sambil menguap dan merubah posisinya menjadi terbaring dibednya. Agni merapikan letak selimut Ray yang agak tersingkap. Perlahan Ray mulai memejamkan matanya.

@_@
“Lo kenapa Bang? Tumben daritadi diem aja” tanya Agni, ketika dirinya dan Gabriel sedang makan malam berdua, Gabriel menatap Agni sendu kemudian menghela napas sambil menggeleng.

“Ngga apa-apa kok de’” jawab Gabriel perlahan, Agni mengernyitkan dahi dan sesekali menatap Gabriel yang sedang memainkan makan malamnya.

“Kalo ngga apa-apa kenapa makanannya ngga lo makan? Itu kan makanan favorit lo bang” celetuk Agni menatap piring Gabriel yang masih terisi penuh oleh makanan. Gabriel menatap piringnya itu, cukup lama tapi sedetik kemudian Gabriel mendorong piringnya itu, sepertinya selera makannya mala mini seketika hilang.
Gabriel menghela napas, berat dan panjang. “Gue baru aja putus de’” cerita Gabriel, Agni cengo’. Segitu parahnya efek putus buat Gabriel sampai-sampai jadi tidak nafsu makan, Agni menggelengkan kepalanya.

“Masa’ Cuma gara-gara itu doang lo jadi ngga makan sih bang. Eh iya, emang sejak kapan lo punya pacar bang? Kok gue ngga tau ya” ceplos Agni dengan tampang polos dan lugunya, Gabriel berdecak kesal.

“Udah lumayan lama lah de’, gue udah jadian sama dia pas kita masih di Jogja dan dia tinggal disini” ujar Gabriel menatap kosong langit-langit rumahnya. Agni cukup terkejut mendengarnya.

“Berarti lo long distance dong bang?” tanya Agni meyakinkan, sepertinya ia cukup tertarik dengan cerita Gabriel dan ikut mengabaikan makan malamnya. Gabriel mengangguk perlahan.

“Iya de’, ya kira-kira udah satu tahun lebihlah. Gue jadian sama dia” cerita Gabriel kali ini menatap Agni yang terlihat sangat antusias dengan ceritanya. Agni berdecak kagum, ternyata abangnya ini tipe cowok yang setia juga.

“Wihh, keren lo bang. Ngga nyangka gue” decak Agni, Gabriel hanya tersenyum lemah. “Emang lo kenapa bisa putus bang?” tanya Agni untuk yang kesekian kalinya. Gabriel mengangkat bahunya perlahan.

“Gue juga ngga tau de’, tiba-tiba tadi dia ngajak gue ketemuan. Gue kira sih ya… Cuma ngelepas kangen doang eh ternyata tiba-tiba dia mutusin gue. Pas gue mau minta penjelasan, dia malah ninggalin gue” cerita Gabriel, Agni turut prihatin melihat nasib kisah cinta abangnya.

“Lo… sayang banget ya bang sama tuh cewek?” tanya Agni sedikit berhati-hati, takut kalau nanti perkataannya malah membuat Gabriel semakin terluka.

“Yaiyalah de’, gue aja udah jadian setahun lebih. Mana long distance pula. Ngga mungkin kan kalo gue Cuma main-main” jawab Gabriel, Agni mengangguk setuju. Agni berdiri dari duduknya kemudian mendekati Gabriel yang tertunduk, mengelus pundak Gabriel perlahan.

“Lo sabar aja bang, gue yakin kok ada cewek yang lebih baik dari dia buat lo” hibur Agni, masih tetap mengusap pundak Gabriel, Gabriel mendongak menatap adiknya itu kemudian tersenyum manis.

“Thanks dede’, ngga nyangka lo bisa dewasa juga ya” ujar Gabriel sambil mengacak poni Agni yang semakin memanjang, Agni manyun sambil menepis tangan Gabriel dan merapikan lagi poninya.
 
@_@
“Apiiiiiiinnnn” teriak Agni ketika melihat Alvin berjalan menuju ke parkiran, merasa namanya dipanggil Alvin menoleh keasal suara. Dilihatnya Agni sedang berlari kearahnya.

“Kenapa Ag?” tanya Alvin ketika agni sudah berada didepannya sambil menunduk dan mengatur napasnya, Alvin terkekeh pelan melihat Agni yang napasnya masih panjang-pendek.

“Ngga apa-apa sih, Cuma manggil doang” jawab Agni santai setelah bisa mengatur napasnya, Alvin cengo’ tapi detik kemudian Alvin menggelengkan kepala sambil tersenyum dan mengacak rambut Agni perlahan, Agni manyun. “Eh iya Pin, gue ke rumah lo hari ini aja ya. Mumpung gue ngga ada acara, lagian gue juga udah kangen sama nasi gorengnya Oma” cerocos Agni, Alvin tersenyum tipis sambil mengangguk.

“Eh, emang lo ngga ke rumah sakit lagi Ag?” tanya Alvin dengan pandangan menyelidiknya, Agni menggeleng.

“Ngga Pin, soalnya kemaren Ray udah keluar dari rumah sakit” jawab Agni singkat, Alvin hanya membulatkan mulutnya. “Kok lo ngga nanya sih Pin, Ray itu siapa? Emang lo udah tau ya Ray itu siapa?” tanya Agni polos, Alvin yang ditanya seperti itu mendadak gagap dan bingung harus menjawab apa pada Agni.

“Hah… ng… ya… gu… gue taulah, Ray adiknya Rio kan” jawab Alvin jujur, walaupun dengan penyakit gagap mendadaknya itu. Agni mengernyit heran, tapi akhirnya ia mengangguk juga. Alvin menghela napas lega karena Agni tidak banyak bertanya lagi soal itu. “Buruan masuk Ag” perintah Alvin sebelum ia masuk ke Volvo-nya, Agni menurutinya.

“Gimana kabar Oma Pin? Baik-baik aja kan?” tanya Agni ketika mereka sudah didalam Volvo Alvin, Alvin mengangguk tanpa menoleh kearah Agni disebelahnya.

“Oma baik-baik aja Ag. Eh iya, gimana kabar Iyel, bunda sama ayah lo? Baik juga kan” Alvin balik bertanya pada Agni, Agni mengangguk antusias. “Hahaha, kangen gue sama Iyel. Gimana ya dia sekarang, masih kaya’ dulu ngga ya? Gabriel, umur 4 tahun masih aja minum susu pake dot” tawa Alvin dan Agni seketika pecah mengingat itu, memang benar apa yang dikatakan Alvin, Gabriel mulai berhenti minum susu pake dot itu saat mulai masuk TK, itupun karena dia diejek oleh teman sekolahnya.

“Hahaha, masih inget aja lo, Pin. Bang Iyel pasti malu banget dah kalo dia tau lo masih inget aib dia” ujar Agni disela tawanya, Alvin hanya tersenyum sambil sesekali menatap kearah Agni. Ternyata lo ngga berubah ya, batin Alvin tersenyum melihat Agni yang sedari tadi sulit mengendalikan tawanya.

Volvo Alvin mulai memasuki komplek perumahan, terlihat dua pilar tinggi digerbangnya. Agni sempat berdecak kagum, ternyata rumah baru Alvin berada lumayan jauh dari rumahnya yang lama. Agni semakin tertegun melihat sekelilingnya, kompleks dengan arsitektur bangunan eropa, dan bergaya minimalis. Walaupun begitu, tidak mengurangi kesan mewahnya. Perlahan Alvin mulai memasuki halaman sebuah rumah mewah, disudut kanan terdapat semacam taman bunga, dan tidak jauh dari itu ada air mancur kecil, menambah kesan asri pada taman itu. Agni turun dari Volvo Alvin, karena Alvin ingin memasukkan Volvo-nya ke garasi, Agni masih menatap kearah Volvo Alvin, perlahan pintu garasi itu terbuka dengan sendirinya. Volvo Alvin mulai masuk dan Agni tersentak kaget melihat sesuatu didalam garasi itu, sesuatu yang ditutupi dengan kain hitam. Walaupun ditutupi seperti itu, Agni bisa mengetahui apa yang ada dibaliknya.

“Itu kan….” Pikir Agni menatap kearah benda yang ditutup kain hitam itu.



to be continued.... ^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar