My Video

Loading...

Rabu, 06 Juli 2011

Loving Girl #4th

Loving Girl
Part #4th

“LO !!!” ucap mereka bersamaan, setengah berteriak. Orang-orang disekitar mereka, menatap penuh tanda tanya. Kontan Agni dan orang itu nyengir, mencoba memberitau bahwa tidak terjadi apa-apa.

“Lo siapanya Ray?” tanya Agni pada orang itu, orang itu tersenyum remeh. Kembali ke sifat aslinya.

“Harusnya gue yang nanya gitu sama lo. Gue kakaknya Ray. Lo apain Ray hah? Mau lo culik ya” tuduhnya, kontan Agni terbelalak. Tidak terima dengan tuduhan orang didepannya ini.

“Eh, kalo ngomong tuh dipikirin dulu. Jangan asal ngomong aja” ujar Agni, terlanjur kesal dengan orang dihadapannya ini. “Kasian amat si Ray punya kakak kaya’ lo. Monster.” Lanjutnya tanpa memandang kearah Ray dan orang itu.

“Kak Lio sama kak Agni ngapain sih? Beltengkal ya. Kak Lio kenapa malah-malah kan kak Agni ngga salah” ujar Ray manyun pada Rio-orang tadi-. Rio menatap Ray kemudian beralih pada Agni yang berada didepannya, masih enggan memandang Rio. Rio menghela napas.

“Sorry” ucap Rio. Singkat. Jelas. Padat. Membuat Agni semakin ingin melenyapkan orang dihadapannya ini, Agni mendengus kesal. Mungkin, jika tidak ada Ray saat ini, ntah apa yang akan Agni perbuat untuk melenyapkan monster didepannya ini. “Ray kita pulang yuk” Agni tertegun, suara itu. Suara yang biasanya kasar dan penuh dengan tekanan amarah kini berubah, benar-benar berbeda dari biasanya. Suara itu berubah menjadi lembut, entah mengapa Agni sangat nyaman mendengarnya, Agni menggelengkan kepalanya, kenapa ia bisa berpikiran seperti itu. Tidak boleh, batinnya mencoba meyakinkan dirinya. Rio mengernyit heran melihatnya. Dasar aneh, batin Rio. Ray mengangguk menanggapi ajakan Rio tadi, kemudian beralih menatap Agni.

“Kak Agni ikut Lay pulang ya” ajak Ray menatap Agni penuh harap. Agni dan Rio terbelalak kaget dengan tawaran Ray, keduanya tanpa sadar saling berpandangan dan menatap Ray aneh.

“Tapi Ray…” belum sempat Agni menyelesaikan perkataannya Ray langsung menatapnya penuh harap, mata bonekanya yang seperti itu membuatnya semakin menggemaskan.

“Ayolah kak, kalo kak Agni ngga mau ikut. Lay ngga mau pulang” ancamnya, Rio mendengus, sedangkan Agni menatap Rio penuh tanya. Dengan sangat amat terpaksa Rio mengangguk, Agni menatapnya heran. Ray tersenyum senang melihat Rio menganggukkan kepala tanda setuju, kini ia mengalihkan pandangannya menuju Agni. Ekspresi Ray benar-benar membuat Agni tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauannya.

Agni mengangguk perlahan, “Yaudah deh” ujarnya pasrah.

“Yey, ayo pulang kak” sorak Ray senang, kembali memeluk leher Rio. Agni mengikuti mereka dari belakang.

***
Pemuda ini terlihat bingung, ia sudah mengelilingi tempat ini tapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya, hampir kepada setiap orang yang ditemuinya ia bertanya keberadaan adiknya siapa tau ada yang melihat. Ia sudah hampir putus asa, sebenarnya ia tidak perlu mencari adiknya itu, toh nantinya ia juga bisa pulang sendiri. Awalnya ia memang berpikiran seperti itu, tapi ia kembali mengingat bahwa tas sang adik yang berisi segala macam barang penting ada padanya, ia merutuki kebodohan adiknya itu. Gabriel-pemuda itu- sudah berkeliling taman hiburan, mencari Agni yang ‘hilang’. Sudah hampir setengah jam Gabriel berkeliling taman hiburan tapi hasilnya nihil. Ia tidak menemui keberadaan adiknya, bahkan dari semua orang yang sudah ia tanyai tidak ada yang tau. Gabriel kembali melihat ke sekelilingnya, dan pandangannya terhenti pada seseorang yang cukup familiar diingatannya, ia tersenyum. Segera saja Gabriel menghampiri orang tersebut.

“Lo… Sivia kan? Temennya Agni” sebenarnya Gabriel agak ragu untuk menghampiri gadis ini, tapi siapa tau gadis cantik dihadapannya ini mengetahui dimana adiknya sekarang. Sivia menoleh dilihatnya Gabriel yang tersenyum manis, sadar atau tidak wajahnya mulai memanas.

“I..Iya.. gue Sivia. panggil Via aja. lo kakaknya Agni kan?” Sivia kembali mencoba mengingat pemuda dihadapannya, Gabriel tersenyum sambil mengangguk, membenarkan prediksi gadis cantik dihadapnnya ini. 
“Ada apaan kak? Lo ngga bareng Agni” tanya Sivia, cukup heran melihat Gabriel menghampirinya tanpa Agni.

“Itu dia yang jadi masalahnya Vi, si Agni ilang” ujar Gabriel kembali melihat sekelilingnya, mungkin saja Agni berada diantara kerumunan orang itu. Sivia terkejut mendengarnya.

“HAH!!, AGNI ILANG” tanpa sadar Sivia berteriak, membuat Gabriel terpaksa menutup telinganya dan harus dipandangi para pengunjung yang lain. Sivia nyengir, menyadari tindakan konyolnya. “Kok bisa sih kak?” tanya Sivia, kali ini tidak dengan berteriak, malah terkesan hati-hati.

Gabriel menceritakan semuanya, mulai dari Agni yang hampir membunuhnya dengan cara naik ke segala macam permainan ekstrim sampai tadi Agni hilang, Sivia mendengarnya antusias. Sebenarnya Sivia tidak terlalu memperhatikan apa yang Gabriel ucapkan tapi Sivia lebih memperhatikan wajah manis Gabriel, caranya berbicara, ekspresi cemasnya, dan semua yang bisa dilihat Sivia dari Gabriel. Entah mengapa Sivia tiba-tiba menjadi tertarik untuk melihat ekspresi lain dari pemuda dihadapannya ini.

***
Malam yang cerah, terlihat jelas bulan sabit bersinar tanpa ditutupi awan sedikitpun. Gadis ini mendesah, ia kembali teringat dengan apa yang baru saja ia ketahui. Sebuah rahasia yang mungkin tidak semua orang mengetahuinya, tentang sisi lain dan mungkin masa lalu dari seorang Mario Stevano Aditya Haling, anak sulung sekaligus pewaris harta kekayaan Joe Haling, cowok cuek, angkuh, arogan dan berbagai sikap dingin yang selama ini diperlihatkan ternyata tak lebih dari seseorang yang rapuh dan kesepian. Agni kembali mengingat ketika ia berada dikediaman Haling, dan sikap Rio ketika Agni bertanya tentang ‘dia’. Kenapa Rio jadi emosi gitu?, batin Agni bingung. Rio memang dikenal karena temperamennya yang susah diatur dan meledak-ledak, tapi kenapa ketika membahas masalah itu ia jadi aneh, berubah menjadi diam, tatapannya tajam dan dingin, hampir sedingin es yang berada di kutub selatan maupun utara, dan semua serasa membeku ketika melihat tatapan mata Rio.

*FlashbackON*
Rumah megah berarsitektur eropa menyambut kedatangannya, ia sampai tercengang melihatnya. Tidak menyangka bahwa ada rumah sebagus dan semewah ini. Ia berdecak kagum, mengagumi hasil kerja sang arsitek, benar-benar berseni dan berarsitektur tinggi. Selera yang Wah. Ketika sampai diruang tamu, ia kembali dibuat tercengang. Desain interior ruangannya yang begitu menarik, membuat orang merasa nyaman dan bernilai seni tinggi dengan berbagai macam lukisan dari pelukis ternama luar negeri maupun dalam negeri tergantung indah dihampir setiap sudut ruangan itu. 

Ia kembali berdecak kagum, tapi tiba-tiba ia berhenti, bukan karena kagum ataupun tercengang seperti sebelum-sebelumnya tapi ia terdiam, memandang pada satu bingkai foto keluarga berukuran besar tergantung disalah satu dinding ruangan itu. Dalam foto itu, sang pemilik terlihat sangat bahagia. Senyum itu, senyum yang tidak pernah dilihatnya. Pandangannya beralih menatap foto-foto yang berada di dalam lemari kaca, terlihat sekali bahwa sang penghuni sangat suka mengekspresikan dirinya dalam bentuk foto seperti itu, Agni tertegun, matanya menatap lurus kearah sebuah frame foto, didalamnya terdapat foto seorang gadis berwajah tirus, tersenyum manis melihat kearah kamera sambil menunjuk es krim vanilla yang berada digenggamannya dan disamping gadis berwajah tirus itu ada seorang cowok, dan Agni mengenalinya, itu Rio. Didalam foto itu, senyum Rio merekah, gayanya tidak jauh beda dari sang gadis, tapi tangan kanannya terlihat merangkul pinggang gadis itu.

“Itu kak Ify” ceplos Ray ketika ia melihat Agni masih mematung disepan foto itu. Agni memandangnya penuh tanya.

“Ify?” batin Agni menatap Ray, Ray mengangguk meyakinkan Agni. Agni mengalihkan pandangannya lagi kembali menatap foto ‘mesra’ itu.

“Ayo kak ikut makan, kak Lio udah masak buat kita” ujar Ray sambil menarik tangan Agni, Agni mengikuti langkah kecil Ray.

Agni tercengang, mulutnya menganga. Ia menatap takjub meja makan yang sudah dipenuhi makanan, dari arah dapur muncul Rio yang masih mengenakan celemek masaknya, sambil membawa beberapa lauk makan lagi. Ray hanya tertawa melihat reaksi aneh Agni dan menuntun Agni duduk dikursi yang tersedia.

“Biasa aja liatnya, norak lo” celetuk Rio membuat Agni tersentak, kembali lagi ke dapur, beberapa saat kemudian ikut berada di meja makan, kali ini tanpa celemeknya.

Mereka makan dalam hening, yah walaupun sesekali tertawa karena tingkah lucu Ray. Agni sesekali melirik Rio yang berada dihadapannya, cowok itu terlihat lebih berkharisma, apalagi tadi ketika tertawa melihat Ray yang kesusahan memisahkan tulang ikannya atau Ray yang manyun ketika gagal memotong ayam gorengnya. Agni tertegun ketika melihat itu, tidak menyangka bahwa ‘monster’ itu bisa tersenyum manis dan bersikap lembut seperti tadi. Agni yakin, fans Rio akan bertambah jika mereka melihat Rio tertawa seperti tadi. Agni menggeleng, gue mikirin apa sih, batin Agni. Tanpa Agni sadari Rio memperhatikan tingkahnya itu, Rio tersenyum tipis melihatnya. Selesai makan, Agni melihat jam tangan putih yang bertengger manis dipergelangan tangan kirinya, ia menepuk jidatnya perlahan. Ia lupa kalau sudah meninggalkan abangnya, Gabriel. Agni pasrah, siap menerima ceramahan dari abangnya itu. Ia menghela napas, lalu menatap Rio dan Ray dihadapannya.

“Em… Ray, Kak Agni pamit ya” Agni mendekat kearah dua bersaudara itu, Ray menatap Agni, sepertinya Ray masih belum ingin Agni pulang.

“Ntal aja kak, Lay masih mau main sama kakak. Kalo kak Agni pulang, Lay main sama siapa?” ujar Ray menatap Agni penuh harap, Agni sendiri jadi tidak tega melihat ekspresi Ray seperti itu, ia beralih menatap Rio, meminta bantuan. Rio seakan mengerti dan mendekati Ray yang berdiri didepan Agni.

“Ray, biarin kak Agni pulang ya. Kan Ray bisa main sama kak Rio. Lagian kak Agni kan belum izin sama mamanya, ntar kalo kak Agni dimarahin gimana? Ray ngga kasian” ujar Rio lembut sambil mengelus rambut gondrong adiknya, Ray beralih menatap Rio, Rio mengangguk meyakinkan. Ray mengalihkan lagi pandangannya pada Agni kemudian ia mengangguk lemah.

“Iya deh, tapi kak Agni seling-seling main kesini ya” ekspresi Ray yang semula keruh langsung berubah ceria ketika Agni mengangguk sambil tersenyum manis. “Kak Lio antelin kak Agni ya. Kan kasian kak Agni kalo pulang sendilian” perintah Ray. Rio dan Agni cengo’ mendengar perintah Ray, tanpa menunggu jawaban dari kedua orang itu, Ray masuk ke kamarnya.

“Buruan” perintah Rio membuat Agni tersadar dari lamunannya.

Perjalanan mereka –RioAgni- dihiasi dengan suasana diam. AC mobil Rio menambah suasana menjadi lebih mencekam, Agni tidak berani membuka permbicaraan, karena ia tau, percuma saja mengajak ‘monster’ ini berbicara. Tapi ia sangat penasaran dengan cewek yang berada didalam foto itu. Agni menggelengkan kepalanya, buat apa dia ingin tau, toh juga ngga ada untungnya buat gue, pikir Agni. Rio yang melihat Agni menggelengkan kepala, menatapnya datar, tidak berniat bertanya lebih lanjut.

“Em… Yo” Agni kontan menutup mulutnya, tanpa sadar tiba-tiba Agni memanggil Rio. Rio menatapnya sebentar, kemudian kembali menatap jalanan dihadapannya. Agni mencoba tenang, “Cewek yang difoto sama lo itu siapa? Cewek lo ya?” Agni berulang kali merutuki pertanyaan bodohnya itu, rasa ingin taunya benar-benar sudah tidak bisa ditahan lagi, dan itulah jadinya. Ia nekat bertanya seperti itu. Tanpa Agni sadari, Rio tersentak mendengar pertanyaan Agni itu, ia tidak menyangka Agni akan bertanya soal itu padanya.

“Bukan urusan lo” jawab Rio dingin, Agni bergidik melihatnya.

“Ya…Iya sih, tapi… apa cewek itu ada hubungannya… juga sama Alvin?”

Entah mengapa Agni bisa bertanya seperti itu, otak kecilnya menyuruhnya berpikir bahwa ini semua berhubungan satu sama lain. Cukup !!!, gadis disampingnya ini sudah melakukan kesalahan, ia masuk terlalu jauh kedalam kehidupannya, seketika Rio menghentikan laju mobilnya, membuat Agni sedikit tersentak kedepan. Hampir mengenai dashboard mobil Rio. Rio menatap Agni dengan garang. Agni merasa sulit untuk menelan ludahnya sendiri, ia menyesal telah mengatakan itu, tapi otaknya benar-benar tidak bisa diajak kompromi.

“KELUAR DARI MOBIL GUE. SEKARANG !!!” perintah rio dengan berbagai tekanan disetiap katanya, ia sudah tidak tahan. Pertanyaan Agni barusan terlalu mengusiknya dan mengorek lagi luka lamanya. Agni menatap Rio penuh rasa menyesal, ia tidak menyangka bahwa Rio akan semarah ini. Rio mengabaikan pandangan menyesal Agni itu, ia terlanjur terluka.

Agni keluar dari mobil Rio dengan langkah gontai, baru saja Agni menutup pintu mobil Rio. Mobil sport silver metallic itu sudah melesat jauh meninggalkannya, terlihat sekali dari cara Rio mengendarai mobil sport metallicnya itu. Agni mendesah, ia menyesal dan tidak menyangka bahwa semuanya akan menjadi seperti ini. Tapi sungguh, ia hanya ingin tau apa semua ini berhubungan dengan permusuhan Rio-Alvin karena otak dan hati kecilnya mengatakan seperti itu
*FlashbackOFF*

Agni mendesah untuk kesekian kalinya, hatinya jadi tidak menentu. Ketika Ia pulang dan sampai didepan pintu, Gabriel sudah berdiri menyambutnya dengan tangan dilipat didepan dada, wajahnya menunjukkan kalau dia marah tapi juga khawatir dengan Agni yang tadi tiba-tiba menghilang. Agni menjelaskan semuanya, kecuali insiden pengusiran Agni dari mobil Rio, dan Gabriel memaafkannya. Agni mengacak rambut sebahunya, menghela napas sebentar kemudian masuk ke kamarnya, mencoba menenangkan diri dan tak lama ia terlelap.

@_@
Pemuda ini terbangun, mimpi itu datang itu. Tapi ada yang berbeda dari mimpi itu, dari yang ia tangkap, mimpi itu memberitaukan bahwa akan ada seseorang tepatnya seorang gadis yang membantunya lepas dari semua masalah yang selama ini membelenggunya, seseorang yang dekat dengannya tapi… ia harus kehilangan gadis itu, gadis yang cukup berarti walaupun ia tidak memiliki ikatan dengan gadis itu tapi gadis inilah yang membuatnya bisa kembali tersenyum tulus setelah kekasihnya tiada. Relakah ia jika mimpi itu benar dan ia harus kehilangan gadis itu? Ia sangat ingin masalah ini cepat selesai tapi, apakah bayarannya harus dengan kehilangan gadis itu? Tidak, tidak mungkin. Cukup sudah ia merasakan kehilangan, ia akan berusaha sendiri tanpa harus merelakan apapun termasuk gadis itu.

@_@
Agni melangkah gontai menuju kelasnya, entah mengapa kejadian kemarin membuatnya menjadi seperti ini. apa yang harus ia lakukan ketika berhadapan dengan Rio nantinya?. Agni menyesal telah bertanya hal yang –pasti- privasi buat Rio. Berulang kali Agni merutuki kebodohannya, tapi percuma. Seperti peribahasa ‘nasi sudah menjadi bubur’, itu semua terlanjur terjadi, yang harus Agni lakukan sekarang adalah bagaimana memperbaiki semuanya?. Agni menghela napas berat, ketika ia berbelok kearah kelasnya, Agni tersentak dan hampir bertabrakan dengan seseorang. Baru saja ia berniat marah-marah, Agni mendongak dan seketika terdiam, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Ia hanya terdiam menatap Rio yang berdiri tepat didepannya. Rio manatapnya datar, kemudian melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti gara-gara hampir bertabrakan dengan Agni. Agni mendesah, entah mengapa pikirannya sekarang malah dipenuhi oleh sosok seorang Mario Stevano Aditya Haling, ia menggeleng perlahan kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kelas.

“Kenapa lo?” tanya Sivia, menghampiri Agni dibangkunya. Terlihat tidak bersemangat seperti biasanya, wajahnya terlihat lesu.

“Ngga. Gue ngga apa-apa” elak Agni menggeleng perlahan, Sivia mengangguk mengerti. Tidak ingin membahasnya lebih jauh.

“Eh iya Ag, kata kak Iyel kemaren lo ilang ya? Kemana sih?, kasian kak Iyel tau. Pusing nyariin lo” cerocos Sivia tanpa mengalihkan pandangnnya dari BlackBerry-nya, sesekali ia tertawa kecil menatap layar BlackBerry-nya, Agni mengernyit heran. Nih anak udah sarap kali ya, pikir Agni ketika melihat Sivia tertawa sendiri.

“Lo kok ketawa sih Vi? Emang ada yang lucu ya di BB lo?” tanya Agni penasaran, tidak menjawab pertanyaan Sivia barusan. Segera saja Sivia menyembunyikan BBnya ke dalam saku rok sekolahnya.

“Ngga… ngga apa-apa kok Ag” ujar Sivia, gelagapan sendiri karena dipandangi Agni seperti itu.

“Ngga ada apa-apa kok, lo gugup sih Vi. Aneh lo” ceplos Agni dengan pandangan menyelidik, Sivia makin gelagapan tidak karuan.

“Beneran Ag, ngga ada apa-apa kok” elak Sivia, baru saja Agni akan membalas perkataan Sivia, bel tanda pelajaran sudah berbunyi dengan merdunya. Sivia menghela napas lega. “Gue ke bangku duluan Ag” pamit Sivia, senyumnya merekah membuat Agni semakin menatapnya heran. Agni menggelengkan kepalanya, toh juga kalo ada waktunya Sivia pasti cerita, pikirnya.

Kantin terlihat ramai seperti biasanya, semakin membuat Agni malas. Sebenarnya ia sedang tidak ingin keluar kelas, tapi karena Sivia sudah mengeluarkan jurus ampuhnya, Agni tidak bisa mengelak lagi. Pikiran Agni melayang, tidak memperhatikan Sivia yang sibuk ‘berkicau’ dihadapannya, Agni masih berpikir soal Rio. Semenjak insiden kemarin dan ‘nyaris’ bertabrakan tadi pagi, Agni tidak melihat Rio. Tas ranselnya memang berada dimeja sebelah Agni, tapi sang penghuni entah sekarang sedang berada dimana. Sama seperti Agni, Alvin merasa ada yang aneh dengan Rio. Walaupun ia tidak tau pasti apa yang menyebabkan Rio seperti itu, tapi Alvin yakin Rio pasti merasa terusik lagi. Terlihat jelas dari sikap Rio yang semakin acuh terhadap sekitarnya. Tanpa Rio sadari, dari dulu, tepatnya setelah ‘insiden’ itu Alvin memperhatikan perkembangan Rio walaupun dari jauh, tapi sayang Alvin tidak melihat perkembangan dari diri seorang Mario, malah Alvin seperti melihat Rio yang sekang bukan Rio yang dulu dan itu semakin membuat rasa bersalahnya semakin besar.

“Agni…!!! Lo dengerin gue ngga sih?” tanya Sivia, gemas melihat Agni yang hanya diam dihadapannya sambil sesekali memainkan nasi goreng dihadapannya.

“Hah…!!! Apaan Vi?” bukannya menjawab Agni malah balik bertanya dengan tampang watadosnya itu, Sivia menatapnya gemas kemudian manyun, Agni terkekeh melihatnya. “Hhe, sorry Vi. Jangan ngambek dong” bujuk Agni, Sivia masih diposisinya semula. “Yah… Vi, jangan ngambek dong. Ntar Alvin ngga mau lho sama lo” bujuk Agni lagi, Sivia yang mendengar itu langsung melotot, walaupun percuma. Agni hanya nyengir, Sivia menghela napas kemudian kembali melanjutkan makannya, Agni? Kembali berkutat dengan pikirannya.

@_@
Pemuda ini berjalan menyusuri kompleks pemakaman yang terlihat senggang, ditangannya terdapat bucket bunga lily putih, bunga kesukaan ‘dia’, orang yang disayanginya. Ia berjalan dengan santai, ketika hampir sampai dimakam yang dituju, ia menghentikan langkahnya. Dia, sedang apa dia disini? Pikirnya ketika melihat pemuda bermata sipit itu dimakam yang ditujunya, tiba-tiba saja emosinya memuncak. Matanya berkilat marah, bunga yang semula rapi kini sudah tidak berbentuk lagi gara-gara tanpa sadar ia menggenggamnya terlalu keras, rahangnya seketika mengeras, tangannya mengepal dan dengan langkah besar ia menghampiri makam itu. Pemuda sipit itu merasa ada yang datang mendekatinya, ketika berbalik tiba-tiba…

BUG..!!
pukulan telak diterimanya tepat dipipi sebelah kanan, ia tersungkur tapi tidak membalas perlakuan pemuda dihadapannya ini. Pemuda sipit itu mencoba bangun tapi dengan segera kerah seragam sekolahnya ditarik sang lawan, ia tercekik tapi tidak bisa membalas, wajah putihnya sudah berubah warna menjadi agak kemerahan, karena sulit bernapas. Deru napas pemuda dihadapannya ini tidak teratur, tanda bahwa emosinya yang meluap, tangannya kembali terangkat dan seketika….

BUG..!! BUG…!!!
kali ini pukulan itu bersarang diperutnya, pemuda bermata sipit itu mengerang, tapi pemuda dihadapannya ini tidak bergeming, menatap si sipit dengan sinis. Si sipit kembali mengerang ketika dirasakannya sakit, tapi kali ini bukan pukulan yang diterimanya tetapi tendangan telak ia terima di ulu hatinya. Si sipit tidak berniat melawan karena ia yakin, ini tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang ia lakukan dulu. Dengan kekuatan yang masih tersisa, si sipit mencoba bangun, pemuda dihadapannya hanya diam, memandangnya nanar.

“So… sorry Yo” ujarnya lemah sambil memegangi perutnya yang sakit akibat pukulan dan tendangan pemuda dihadapannya –Rio-, Rio menatapnya sinis dan tajam, ia benar-benar muak dengan si sipit –Alvin-.

“PERGI” usir Rio dingin tanpa menatap Alvin yang menatapanya penuh harap. Alvin masih ditempatnya, melihat Alvin yang masih ditempatnya, Rio menatap Alvin garang, tangannya kembali mengepal. “GUE BILANG PERGI. GUE MUAK LIAT MUKA LO ITU” usir Rio lagi, kali ini dengan suara yang membuat orang bergidik ngeri.

Alvin mengerti, percuma saja berbica dengan Rio sekarang, pemuda itu terlihat tidak ingin diganggu apalagi oleh Alvin. Sebelum Alvin melangkah meninggalkan makam itu, ia kembali menatap Rio yang tertunduk menatap makam dihadapannya. Alvin mendesah pasrah, ia sudah kehabisan cara untuk membuat Rio mendengarkan semuanya, tapi sepertinya belum saat ini. Alvin menuju Volvo-nya yang terparkir tidak jauh dari makam itu, kemudian melaju meninggalkan Rio yang perlahan mulai terisak.

Mendengar tidak ada lagi deru mobil itu, Rio merosot. Terduduk tepat didepan makam itu, ia menangis entah menangisi apa? ia bingung, setiap melihat Alvin, Rio akan langsung seperti tadi. Emosinya tidak terkontrol dan ia lepas kendali. Rio tertunduk, ia masih menangis. Tangannya menggenggam erat nisan dan tanah makam itu, Rio semakin sesegukan ketika menatap nisan itu, matanya sudah memerah gara-gara terlalu lama menangis. Perlahan ia mulai mengontrol emosinya, setelah merasa tenang Rio menghapus sisa air matanya. Mencoba tersenyum, tapi malah terlihat seperti lengkungan patah, Rio tertawa miris meratapi nasibnya. Setelah tenang, ia melangkah meninggalkan makam itu kemudian menuju cagivanya dan melaju dengan kecepatan yang gila-gilaan.

@_@
“De’, lo kenapa sih? Dari kemaren lo aneh tau ngga” tegur Gabriel ketika ia dan Agni sedang berada di balkon kamar Agni, Agni menghela napas kemudian menatap Gabriel yang duduk disebelahnya.

Agni menggeleng, “Ngga apa-apa bang” jawabnya singkat, kemudian kembali menatap langit yang terlihat mendung, persis suasana hatinya yang tidak menentu saat ini, Gabriel mengernyit heran.

“Beneran?” tanya Gabriel mencoba meyakinkan, Agni mengangguk malas. Gabriel menghela napas melihat Agni yang aneh saat ini, ia menepuk kepala Agni perlahan kemudian berdiri. “Yaudah kalo gitu, tapi kalo lo ada masalah cerita aja sama gue” pesan Gabriel, Agni mengangguk lesu tanpa memandang abangnya itu. Gabriel melangkah keluar dari kamar Agni.

Sepeninggal Gabriel, Agni kembali ke aktivitasnya semula. Melamun, entah sekarang pikirannya ada dimana? Kejadian kemarin terus berputar seperti film pendek diotak dan pikirannya. Berulang kali Agni mencoba menghilangkan semua itu dari pikirannya, tapi sulit. Terutama ekspresi Rio ketika insiden pengusiran Agni dari mobilnya itu, benar-benar membuat Agni seketika bergidik ngeri melihatnya. Tanpa sepengetahuan Agni, Gabriel melihat tingkah adiknya itu, baru kali ini Gabriel melihat Agni uring-uringan seperti itu padahal biasanya Agni tidak bisa diam dan hyperactive. Ada apa dengan adiknya itu, pikir Gabriel sambil berjalan menuju kamarnya.

@_@
“Kak Lio dalimana? Kok balu pulang” tanya Ray ketika melihat Rio berjalan melewatinya, Rio terus melangkah ke kamarnya tanpa menghiraukan pertanyaan Ray. Ray manyun melihat itu, selang beberapa saat Rio kembali dengan jaket kulit hitam menutupi kaos oblong putih didalamnya, ditangannya sudah ada helm fullface kesayanganya. “Kak Lio mau kemana? Kak Lio mau kelual lagi ya” tanya Ray lagi, mengikuti langkah Rio menuju motornya yang ada di garasi.

Rio masih mengabaikannya, Ray mulai menangis karena tidak dihiraukan Rio. Rio melajukan cagivanya keluar dari rumahnya, meninggalkan Ray yang semakin sesegukan. Ray melangkah masuk ke dalam rumahnya sambil terus menangis, Mbak Angel –Nanny Ray- mendekat kearahnya mencoba menenangkan tuan mudanya itu. Tapi hasilnya nihil, Ray semakin menangis sambil memeluk lututnya seperti biasa jika ia sudah menangis. Mbak Angel semakin bingung ketika dilihatnya badan Ray mulai mengeluarkan keringat dingin, dan tangisan Ray berubah menjadi seperti rintihan selain itu wajah Ray juga terlihat pucat, Mbak Angel semakin kelabakan melihat kondisi tuan mudanya ini.

“Mas, Mas Ray… bangun Mas” Mbak Angel mulai bingung, pasalnya Ray tidak menjawab pertanyaannya. Mbak Angel memegang kening Ray, walaupun keringat dingin mengalir dari pelipis Ray tapi suhu badan Ray tinggi, badannya panas. Tanpa banyak pikir lagi, Mbak Angel segera membawa Ray ke rumah sakit, tempat biasa Ray melakukan pengobatan.

@_@
Sementara itu, Rio sekarang malah sedang berkumpul dengan teman-temannya. Sebenarnya Rio merasa tidak tega ketika meninggalkan Ray, tapi saat ini ia sangat butuh hiburan untuk sekedar melepas penatnya. Walaupun raga Rio berada disini –tempat dia biasa hang out- tapi pikirannya sepenuhnya berada pada Ray, entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak. Apalagi ketika ia menghubungi rumahnya tidak ada yang mengangkat. Pikiran Rio semakin kacau ketika mengingat Ray yang tadi menangis. Sungguh, Rio tidak bermaksud membuat adik kesayangannya menangis seperti itu.

“Lo kenapa Yo? Diem aja” tegur Sion, pandangannya lurus menatap deretan motor yang siap memulai start. Rio sedikit tersentak akibat teguran Sion barusan.

Rio menggeleng, “Ngga, gue ngge kenapa-napa” jawab Rio, Sion ber’o’ ria.

“Tumben lo ngga turun? Biasanya lo gatel kalo liat motor lo ngangur gitu aja” tanya Sion lagi, kali ini pandangannya menatap Rio yang mulai menghidupkan sebatang rokok.

Asap mulai mengepul dari mulut Rio, “Males” satu kata itu cukup membuat Sion menghentikan pertanyaannya.

Lama mereka saling terdiam, menatap para pembalap yang sibuk saling menyalip untuk mendapat tempat terdepan, Rio merasa sakunya bergetar, segera saja ia mengambil BlackBerry-nya. Rio mengernyit, nomor yang tertera dilayar BBnya, nomor yang tidak ia kenal. Walaupun ragu, Rio mendekatkan BBnya ke telinga.

“Halo…” sapa Rio, Rio terbelalak mendengar penjelasan sang lawan bicara “APA..!!!” tanpa sadar Rio berteriak, membuat Sion menatapnya heran.

“Mau kemana lo?” tanya Sion ketika melihat Rio sepertinya sedang terburu-buru. Rio mengabaikannya, segera saja ia berlari menuju cagiva yang berada lumayan jauh dari tempatnya bersama Sion barusan. Rio melajukan cagivanya dengan kecepatan maksimun yang ia bisa, menuju ke tempat yang diberitauan sang penelpon barusan. Rumah sakit.

Plakkk..!!!
Rio tertegun menatapnya, tidak menyangka ada yang berani menamparnya kecuali ‘dia’. Tapi untuk saat ini Rio tidak terlalu mempedulikan gadis dihadapannya ini, pikirannya sekarang dipenuhi oleh Ray yang sekarang sedang terbaring lemah disana. Rio agak tersentak begitu melihat air mata yang mengalir cukup deras dari pipi chubby gadis dihadapannya. Agni –gadis itu- menatap Rio nanar, merutuki segala kebodohan Rio sehingga membuat Ray seperti sekarang. Ya, Agni yang tadi menghubungi Rio. Ketika dirumah sakit tadi, Mbak Angel yang kebingungan langsung menghubungi Agni, Mbak Angel tau nomor Agni dari kertas yang berada tidak jauh dari Ray ketika Ray pingsan tadi. Agni sendiri shock ketika mendengar kabar bahwa Ray masuk rumah sakit, walaupun baru mengenal Ray tapi Agni merasa kalau dia mulai menyayangi bocah imut itu. Tidak jauh dari mereka ada Gabriel, ya Gabriel mengantar Agni ke rumah sakit ini untuk melihat keadaan Ray, matanya masih terlihat mengantuk, wajar saja jam dinding disalah satu sudut rumah sakit sudah menunjukan pukul 02.15 WIB itu berarti cukup lama Ray berada disana bersama sang dokter yang belum keluar sejak masuk memeriksa Ray.

Agni berjalan gelisah didepan pintu tempat Ray diperiksa, sesekali ia juga melihat kedalam tapi percuma yang Agni lihat hanya tirai menutupi jendela itu. Agni menghela napas panjang kemudian mengalihkan pandangannya menuju Rio, Agni menatap Rio garang, sangat-sangat tidak menyangka tindakan bodoh Rio itu. Rio juga sama seperti Agni, ia gelisah menunggu keadaan Ray. Tapi bedanya Rio duduk tenang disalah satu tempat duduk tunggu dirumah sakit itu walaupun sesekali ia juga melihat kearah pintu tempat Ray diperiksa. Ternyata ini arti dari perasaan aneh yang tadi ia rasakan, berulang kali ia merutuki sikap bodohnya yang membuat Ray menjadi seperti ini. terlihat dokter keluar dari ruang periksa Ray, seketika itu juga Rio dan Agni menghampirinya.

“Bagaimana keadaan adik saya dok?” tanya Rio memburu ketika melihat dokter yang tadi memeriksa Ray keluar dari ruang periksa. Dokter bernama Excel tersebut menghela napas panjang, menatap dua remaja dihadapannya ini bergantian.

“Adik kamu…..” 



To Be Continued....^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar