My Video

Loading...

Sabtu, 25 Juni 2011

You're Mine #3rd


Senyum dan keceriaan terpancar dari wajah siswa SMA Kusuma Bangsa –sekolah Cakka-, semua sudah bersiap di halaman sekolah, terlihat beberapa bus bertuliskan “Camping ‘Who Am I?’ SMA Kusuma Bangsa” yang siap mengantarkan mereka menuju tempat camping. Semua sudah berkumpul di depan bus, bersiap untuk masuk. System tempat duduknya ditentukan oleh guru, dan itu cewek-cowok. Tidak ada penolakan, harus bersiap menerima dengan siapapun teman duduk mereka selama kurang lebih 2,5 jam kemudian. Para murid yang dipanggil namanya sudah memasuki bus, mencari tempat duduk. Terdengar berbagai macam komentar mereka setelah mengetahui siapa yang menjadi teman sebangku mereka. Begitupun dengan tiga sekawan ini, terlihat jelas mereka kurang ‘ngeh’ dengan teman sebangku mereka, apalagi Ray yang harus duduk dengan Shilla, sahabat Agni. Entah mengapa mereka tidak pernah bisa akur, Cakka dengan Ify –kapten basket putri-, dan Alvin sendiri dengan… Agni. Cakka agak tersentak melihatnya, ada perasaan aneh dalam dirinya ketika melihat itu, tapi sekuat tenaga Cakka mencoba meredamnya.

Diperjalanan, semua murid asyik dengan kegiatan mereka sendiri. Ngobrol, tidur bahkan bernyanyi, mencoba mengusir rasa penat selama diperjalanan. Terlihat dibelakang Cakka, Ray dan Shilla meributkan sesuatu, sepertinya meributkan makanan, terlihat Shilla yang sibuk menyembunyikan snacknya dari Ray yang berusaha mengambilnya sedangkan disebelah kanannya terlihat Alvin dan Agni, Alvin yang asyik dengan I-pod dan komiknya dan Agni… sedang apa dia? Tertidur? Tapi sepertinya tidak, karena Agni terlihat bergerak-gerak gelisah, mencoba mencari posisi nyaman, tapi… keringat dingin mengalir dipelipisnya, wajahnya sedikit pucat, tangannya kiri memegangi perut dan tangan kanannya menutup mulutnya, seperti orang ingin muntah. Apa Agni mabuk kendaraan? Tapi itu tidak mungkin, karena setiap hari Agni ke sekolah menggunakan mobil. Cakka menatap sekeliling mereka, semua sibuk dengan kegiatan mereka sendiri, sepertinya tidak ada yang menyadari keadaan ‘aneh’ Agni. Cakka berdiri, membuat Ray dan Shilla seketika menghentikan pertengkaran mereka, Ify sendiri yang duduk disamping Cakka, mengernyitkan dahi, heran mengapa Cakka tiba-tiba berdiri padahal bus masih jalan. Cakka mengacuhkan pandangan aneh teman-temannya, ia mendekati bangku Alvin-Agni. Ia menepuk bahu Alvin, mencoba ‘menyadarkan’nya. Alvin melepas earphonenya menatap Cakka yang berdiri disampingnya seolah bertanya ‘Ada apa?’, Cakka menunjuk Agni dengan dagunya, Alvin ikut menoleh, sedikit tersentak dengan keadaan Agni. Masih sama seperti yang tadi Cakka lihat, malah sekarang terlihat lebih pucat. Alvin menatap Cakka, Cakka mengerti dan menggantikan posisi Alvin. Cakka mencoba membangunkan Agni, dingin, badan Agni terasa dingin dikulit tangan Cakka, wajar saja ia terlihat menggigil.

“Ag, bangun…” Cakka menepuk pipi Agni perlahan, mencoba membangunkannya, tapi Agni masih pada posisi semula, bergerak gelisah dan matanya pun masih tertutup. Cakka cemas melihatnya, “Hei Ag, lo ngga apa-apa kan?” Cakka agak keras menepuk pipi Agni, tapi nihil. Agni masih seperti itu, Cakka semakin gelagapan.

“Agni !!! lo kenapa?” terdengar suara teriakan Shilla, membuat semua yang berada di dalam bus menatap kearah mereka, Shilla mendekat kearah Cakka dan Agni, mencoba menggantikan posisi Cakka, Cakka mundur, membiarkan Shilla mencoba membangunkan Agni. “Ag, Agni… lo bangun dong. Jangan buat gue takut” mata Shilla mulai berkaca-kaca, tangannya agak bergetar ketika menepuk pipi Agni barusan.

Terlihat Ms. Angel dan Pak Johny mendekat kearah mereka, memang di dalam tiap bus ada guru pengawas sekitar dua orang dan bus ini diawasi oleh Ms. Angel dan pak Johny. Ms. Angel juga terlihat cemas, melihat kondisi Agni tapi ia berusaha melakukan pertolongan pertama. Ms. Angel mendekatkan minyak kayu putih dihidung Agni, berharap dengan itu bisa menyadarkan Agni, Shilla masih mencoba menyadarkan Agni dengan menepuk pipi Agni. Cukup lama, akhirnya Agni mulai mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba melihat lebih jelas. Ia sedikit bingung, kenapa banyak orang?, batinnya heran. Shilla yang melihat Agni sadar, tanpa sadar memeluknya terlalu erat, Agni sedikit kesulitan bernapas. Agni menatap orang disekitarnya penuh tanya.

“Shill, udah woy. Kasian Agni, baru sadar udah lo peluk erat gitu. Yang ada dia pingsan lagi” celetuk Ray melihat Agni sedikit kesusahan bernapas, Shilla menatapnya garang, melepas pelukannya melihat keadaan Agni, ternyata benar. Pelukannya terlalu kuat, Agni sekarang agak terengah, Shilla nyengir.

“Gue kenapa? Kok kalian pada disini sih” tanya Agni, masih heran dengan keadaan disekitarnya, ramai. Mereka saling berpandangan, bingung. Apa Agni tidak menyadari bagaimana keadaannya barusan? Apa Agni amnesia?, batin mereka bertanya. Shilla mengernyit, menatap Agni heran.

“Lo tadi pucet, keringet dingin Ag, trus gerak-gerak gelisah gitu. Mana lo kaya’ mau muntah lagi” terang Shilla, masih menatap Agni heran. Agni menatap Shilla heran, memang ia merasa sedikit mual, tapi apa sampai sebegitunya? Batin Agni, heran sendiri dengan keadaannya.

“Yasudah, semua kembali ke tempat duduk masing-masing” perintah Ms. Angel.

Semua murid yang tadi memenuhi tempat duduk Agni semua kembali ketempat mereka, melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda. Tinggal Cakka, ia masih berdiri disebelah tempat duduk Alvin-Agni, ia menatap Agni dengan tatapan yang… ia sendiri tidak tau apa artinya. Cakka seperti sedang meyakinkan dirinya tentang perasaannya pada gadis manis itu. Alvin sepertinya menyadari sesuatu, ia berdiri, menepuk bahu Cakka perlahan, membuat Cakka sedikit tersentak.

“Lo disini aja Kka, gue ditempat lo” tanpa menunggu jawaban Cakka, Alvin langsung melangkahkan kakinya menuju tempat duduk Cakka, disamping Ify.

Cakka menatap Alvin yang sudah ‘bertengger’ dibangkunya semula, terlihat Alvin sudah larut dalam kegiatannya, I-pod dan komik ditangannya. Cakka mengalihkan pandangannya menuju Agni, gadis itu terlihat memejamkan matanya, kepalanya tersender dikaca jendela bus. Cakka sedikit tidak tega melihatnya, tapi ia juga tidak berani mengganggu istirahat Agni, wajah Agni yang tadi pucat sudah sedikit lebih baik. Cakka duduk ditempat yang tadi diduduki Alvin, menatap Agni, dalam dan lama. Lagi-lagi, gadis ini membuatnya tidak berkutik, terdiam, terpana, terfokus hanya padanya. Benar-benar seperti magnet.

***
Pemandangan indah terbentang indah didepan mata, rumah-rumah penduduk, ternak yang dibiarkan berkeliaran di padang rumput, kebun-kebun dan sawah yang membentang luas seiring mata memandang, menambah keindahan ciptaan-Nya. Sepertinya camping kali ini akan sangat berkesan, semua terlihat sibuk, ada yang mendirikan tenda, menyiapkan makan malam dan berbagai keperluan lainnya. Capek, terlihat jelas dari raut muka para siswa Kusuma Bangsa. Tapi disana juga terpancar kegembiraan yang terpendam.

Semuanya sudah berkumpul, hari pertama mereka tiba belum melakukan apapun, kegiatan rencananya baru dilaksanakan besok. Sekarang mereka menikmati suasana malam, sejuk dan nyaman. Sepertinya mereka tidak salah tempat, beberapa murid terlihat mengeluarkan alat-alat music, tapi bukan alat music yang ada di studio band, tapi alat-alat music akustik dan ala kadarnya. Beberapa diantaranya sudah bersiap didepan ‘alat musik’ mereka. Cakka terlihat tidak ingin kehilangan moment, Cakka sudah siap dengan gitarnya, Cakka mulai memetik senar gitarnya, terdengar alunan gitar Cakka memulai penampilannya malam itu.

Everytime I think I'm closer to the heart
Of what it means to know just who I am
I think I've finally found a better place to start
But no one ever seems to understand

(PreChorus)
I need to try to get to where you are
Could it be your not that far

{Chorus}
Your the voice I hear inside my head
The reason that I'm singing
I need to find you
I gotta find you
Your the missing piece I need
The song inside of me
I need to find you
I gotta find you (Oh YEAH)

YEAH, YEAH

Your the remedy I'm searching hard to find
To fix the puzzle that I see inside
Painting all my dreams
The color of your smile
When I find you
It will be alright

back to(PreChorus)
{Chorus}

Been feeling lost can't find the words to say
Spending all my time stuck in yesterday
Where your are is where I wanna be
Oh next to you
You next to me
Oh

I need to find you
YEAH,

{Chorus}
{Chorus}
I gotta find you

Penampilan Cakka ditutup dengan tepuk tangan dari siswa lain, mereka menatapnya dengan berbagai ekspresi. Ada yang kagum, cengo’, dan bahkan juga ada yang mencibir. Cakka hanya membalasnya dengan senyum, tidak terlalu memikirkan reaksi mereka. Yang penting baginya, apa yang ada dihatinya sudah ia salurkan, dan tentu saja melalui lagu barusan. ‘I gotta find you’, apakah benar Cakka akan menemukannya?, ia sendiri tidak yakin. Biarlah waktu yang menjawab.

***
Lelah. Semua murid kembali ke perkemahan, seharian ini mereka turun langsung membantu penduduk sekitar mengerjakan apa-apa yang penduduk lakukan sehari-hari, seperti di acara salah satu stasiun televisi swasta Indonesia, tapi disini bedanya mereka melakukannya dengan kelompok. Kelompok terdiri dari dua orang, dan itu dilihat dengan siapa mereka duduk ketika dibus kemarin. Penolakan pertama tentu saja diajukan oleh Ray dan Shilla, entah mengapa mereka sangat susah untuk bekerja sama, padahal jika dilihat dari ‘sejarah’ mereka selama bersekolah di Kusuma Bangsa, mereka tidak pernah bertengkar, jangankan bertengkar, dekat saja tidak. Mungkin hanya sebatas kenal, itupun dari orang lain, maka dari itu siswa Kusuma Bangsa agak heran dengan pertengkaran ‘dadakan’ antara Ray dan Shilla. Agni yang notabenenya sahabat baik Shilla pun bingung, mengapa Ray dan Shilla tidak bisa akur. Jangankan Agni. Alvin dan Cakka pun dibuat heran, tumben-tumbenan Ray terlihat bergitu antusias bertengkar dengan seseorang, biasanya diantara mereka bertiga Ray yang paling tidak ingin mencari masalah, terkesan menghindari terjadinya masalah daripada nantinya disibukkan dengan masalah itu. Tapi dengan Shilla? Ray terlihat amat ingin mencari masalah, ada apa dengan Ray? Apakah Ray sudah berubah?, pikir Alvin dan Cakka. Mungkin, yang tau jawabannya hanya Ray.

***
Gadis manis ini tertawa lepas, seakan melepaskan semua beban yang ada dipundaknya. Tingkah konyol kedua temannya benar-benar membuatnya tertawa begitu lepas, membuatnya semakin manis dan… menggemaskan !. Ternyata, jika tertawa lepas seperti itu ia semakin terlihat ‘wah’, wajahnya yang manis semakin membuat orang ingin menatapnya lebih lama, dan kali ini ia tertawa, gadis itu tertawa. Sesuatu hal yang jarang ia perlihatkan langsung, selama ini gadis itu hanya mengeluarkan senyum tipisnya jika ada sesuatu hal yang lucu. Tiba-tiba gadis manis itu berhenti tertawa, padahal kedua temannya itu masih menunjukkan tingkah lucunya, wajahnya kini terlihat pucat dan keringat dingin terlihat mengaliri pelipisnya. Sebelah tangannya menutup mulutnya, sepertinya ia sedikit mual, tubuhnya agak limbung, tapi ia masih berusaha mengumpulkan kesadarannya, dan bertumpu pada meja tempat makanan disebelahnya. Memang tadi ia sedang berada di meja makanan, berniat untuk mengambil makan malamnya. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyadarkan dirinya lagi. Perlahan namun pasti, sepertinya ia sudah kembali seperti semula, walaupun wajahnya masih terlihat pucat tapi ia sudah tidak lagi menutupi mulutnya dan sudah mulai menyeka keringat dinginnya. Gadis manis ini hanya menggeleng dan tersenyum tipis ketika temannya terlihat mengkhawatirannya, tapi ada yang aneh dari senyum itu. Senyum itu menyimpan sesuatu, seperti kepedihan dan diPAKSAkan!.

***
Cakka mengernyit heran, ada yang berbeda darinya. Senyum yang biasa terlihat tulus dan manis kini berubah, memang tetap manis tapi dipaksakan. Cakka menyadarinya, ada apa dengan gadisnya itu?, pikirnya. Tapi tunggu, gadisnya? Sejak kapan gadis manis itu menjadi ‘gadisnya’?, Cakka menggelengkan kepalanya. Apa yang ada dipikirannya saat ini? sampai-sampai ia berani berpikir bahwa gadis manis itu adalah gadisnya, ia pasti sudah gila. Apa itu tanda seseorang merasa kagum atau bahkan… cinta?.

“Woy Kka, ngapain lo? Ngelamun aja” tegur Ray, ketika mereka bertiga sedang duduk-duduk didepan tenda. Tidak ada jawaban dari Cakka. Ray dan Alvin saling pandang, melihat kearah pandangan Cakka, hanya ada satu target. Agni !!. Ray dan Alvin tersenyum penuh arti, kemudian… “Vin, Agni kalo diliat-liat cantik juga ya” sindir Ray, ikut menatap kearah Agni yang sedang bermain gitar bersama Shilla.

Alvin mengangguk setuju, “Bener lo Ray. Cantik banget” pancing Alvin, Cakka masih diposisi semula, menatap Agni dan mengabaikan kedua sahabatnya.

“Agni ngga cantik” celetuk Cakka. Ray dan Alvin saling berpandangan lagi dan kemudian mereka menatap Cakka heran, ngga cantik kok diliatin terus sih?, batin mereka bersamaan. “Tapi… manis, baik, pinter, dan….” Cukup lama Cakka menggantung kalimatnya, membuat Ray dan Alvin menatapnya gemas “Perfect” pujian itu keluar dengan lancarnya dari bibir Cakka, pandangannya masih sama tetap pada seorang Agni. Ray dan Alvin menggelengkan kepala, ternyata ada yang falling in love, batin mereka. Lagi.

“Lo suka sama Agni, Kka?” tanya Alvin to the point, tidak ingin terlalu berbelit-belit, ia hanya tidak ingin Cakka keduluan orang lain. Seperti yang dikatakan Cakka, Agni itu nyaris perfect untuk seorang gadis dan tanpa Agni sadari, dengan sikapnya yang memang ‘welcome’ pada siapapun itu yang membuatnya disukai banyak orang. Termasuk cowok-cowok dalam jajaran atas most wanted boys di Kusuma Bangsa.
 Cakka tersadar dari lamunannya, menatap Alvin heran. Kenapa bisa Alvin bertanya seperti itu, batin Cakka menatap Alvin “Kalo lo emang suka sama Agni, nyatain. Jangan diem aja” lanjut Alvin sama sekali tidak membalas tatapan Cakka, ia malah menatap lurus ke depan.

“Hah..!!” Cakka cengo’ dengan pertanyaan sahabatnya ini, apa maksudnya?, batin Cakka semakin bingung. Ray dan Alvin kompak menepuk bahu Cakka.

“Jangan sampe lo nyesel sob, dia banyak yang ngincer” sambung Ray, kini pandangan Cakka beralih pada Ray, masih menatap sahabatnya itu dengan bingung.

Ray hanya tersenyum lalu menunjuk Agni dengan dagunya. Cakka melihat kearah yang ditunjuk Ray. Sepertinya kedua sahabatnya ini benar? Tapi benar tentang apa? Perasaannya atau tentang Agni yang disukai banyak cowok?, batin Cakka bingung. Ia masih ragu untuk menetapkan perasaannya pada gadis manis itu, masa lalunya membuatnya tidak berani untuk mulai mendekati Agni, takut-takut kalau belum sempat ia menyatakan perasaannya ia malah ditolak duluan. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan gadis manis itu bersama orang lain, waktu gadis manis itu duduk dengan Alvin di bus saja tiba-tiba ada sesuatu yang bergemuruh di hatinya, sesak. Apalagi jika ia tau bahwa gadis manis itu sudah punya ‘someone special’, entah apa yang terjadi padanya. Cakka mengacak rambutnya, bingung. Apa yang harus diperbuatnya?
 
“Lo kalo jatuh cinta lucu ya Kka, lupa semuanya” ceplos Ray tertawa geli mengingat tingkah Cakka ketika berhadapan langsung atau sedang memperhatikan Agni. Lucu, batin Ray. Cakka mengernyitkan dahinya, heran. “Baru kali ini gue liat lo jatuh cinta. Lo beruntung banget karena Agni yang jadi first love lo”

DEG…!!!

First love?. Seketika Cakka terdiam. Ia sudah berbohong, apakah ia bukan sahabat yang baik? Sampai-sampai merahasiakan masa lalunya pada Ray dan Alvin, kedua sahabat yang –setelah masa lalu itu pergi- selalu berada disamping dan menemaninya. Masa lalu, satu kata yang selama ini cukup mengganggu hidup Cakka dan ingin dilupakannya, masa lalunya yang kelam. Masa lalu yang hampir membuatnya menjadi seseorang yang jahat. Tidak, bukan jahat tapi sangat jahat, karena ia hampir menjadi seorang pembunuh.
Cakka yang terdiam seketika itu membuat Ray dan Alvin mengernyit heran, ada apa dengan Cakka?. Setelah mendengar penuturan Ray beberapa saat lalu, Cakka seakan menghilang. Walaupun raganya masih bersama mereka tapi mereka tidak merasakan kehadiran Cakka. Mereka –Ray dan Alvin- semakin bingung dan heran ketika melihat Cakka tertunduk, seperti menyembunyikan sesuatu dari jangkauan penglihatan Ray dan Alvin. Separah itukah masalah Cakka, sampai-sampai ia seperti ini, batin Alvin yang memang menyadari ada sesuatu yang agak aneh pada diri sahabatnya itu.

***
Mata indah gadis manis ini tertutup, wajah manisnya terlihat begitu tenang, dan damai. Sudah hampir satu jam ia tidak sadarkan diri. Memang, sekarang gadis manis ini sedang istirahat, bukan istirahat melainkan pingsan. Ketika sedang membantu seorang anak kecil mengambil mainannya yang terjatuh ke dalam sawah, tiba-tiba badannya limbung dan seketika pingsan, tapi untung saja sebelum tubuh mungilnya menyentuh tanah seseorang telah menangkap tubuhnya, sehingga gadis manis ini tidak perlu tau bagaimana rasanya masuk ke dalam sawah  yang berlumpur itu. Segera saja laki-laki yang menolongnya tadi memopong dan membawanya kembali ke tenda, dan sekarang disinilah mereka. Di dalam tenda.

Mata yang tadinya terpejam, terlihat mengerjap perlahan. Mencoba menyempurnakan kembali penglihatannya, ia melihat sekelilingnya dan pandangannya terhenti pada seseorang, tepatnya laki-laki yang sedang membelakanginya. Tanpa melihat wajah laki-laki itu, ia tau siapa dia. Cakka?, batin gadis manis ini bertanya. Sedang apa ia disini, bukankah harusnya sekarang mereka sedang membantu penduduk sekitar, pikirnya lagi. Ia mencoba beranjak dari posisi tidurnya, sepertinya laki-laki itu –Cakka- menyadari bahwa gadis manis itu sudah sadar, dengan segera ia membalikkan badannya dan melihat gadis yang sedang tersenyum manis padanya. Seketika Cakka terpaku, senyum itu benar-benar membuatnya… entahlah seperti melayang. Cakka tersadar ketika gadis itu mengibaskan tangannya dihadapan Cakka.

“Eh… ehm, lo udah sadar Ag?” Cakka merutuki dirinya, terlalu bodoh karena mengeluarkan pertanyaan yang seharusnya tanpa dijawab ia sudah tau sendiri. Agni –gadis manis itu- tersenyum lalu mengangguk perlahan. “Gimana? Ada yang sakit?” tanya Cakka, lagi. Terlihat jelas raut cemas diwajah tampannya.

Agni menggeleng perlahan, “Ngga kok, gue udah ngga apa-apa” jawab Agni sambil tersenyum manis. Cakka bernapas lega, apa ia terlalu berlebihan mengkhawatirkan gadis ini?, pikirnya.

Hening. Yang terdengar hanya desahan napas dari mereka berdua, entah mengapa ketika dua makhluk ini saling berhadapan, mereka selalu terdiam, tidak bisa mengekspresikan diri sendiri. Apa mereka saling jatuh cinta? Hanya mereka yang mengetahui jawabannya. Cakka terlihat gusar, merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini, ia mencoba mengalihkan pandangannya, mencoba mencari sesuatu untuk sedikit mengurangi keheningan yang terjadi. Mata Cakka terpaku pada satu benda. Gitar, segera saja diambilnya dan mencoba memetik beberapa senar gitar itu. Bagus, batinnya tersenyum puas. Ia kembali mendekati Agni, Agni mengernyit heran. Buat apa Cakka membawa gitar?, mungkin seperti itu batinnya.

Cakka mulai memainkan senar-senar gitar itu dengan lincahnya, Agni yang melihatnya hanya terdiam, terlalu terpaku dengan sosok Cakka yang ada dihadapannya. Cakka terlihat lebih… ehm keren. Agni menyadari wajahnya mulai memanas, segera ia menunduk, menghindari kalau-kalau Cakka menyadari kalau wajahnya berubah warna. Cakka masih memetik gitarnya, berbagai macam kunci sudah dimainkannya membentuk sebuah nada yang indah, sesekali Cakka terpejam. Mencoba merasakan apa yang ia salurkan pada permainan gitarnya. Nada-nada yang dimainkan Cakka terdengar ceria dan bersemangat, menggambarkan suasana hatinya saat ini. Setelah meyakinkan bahwa wajahnya sudah tidak terlalu merah karena kejadian tadi, Agni kembali menatap Cakka yang masih terpejam, seperti sedang menyatu dengan apa yang ia salurkan pada permainan gitarnya. Agni sendiri merasa ada sesuatu yang menggelitiknya, membuatnya tiba-tiba tersenyum menatap laki-laki dihadapannya ini. Cakka perlahan membuka matanya, tanpa sengaja ia menatap Agni yang juga sedang menatapnya. Cakka terpaku tapi masih memainkan gitarnya, tiba-tiba permainan gitarnya berubah arah menjadi lebih mellow dan sedikit romantis. Mata hitam bening Agni membuat Cakka seakan masuk ke dalamnya, terhipnotis pada pandangan sayu gadis manis itu. Indah, satu kata yang pas untuk mata Agni. Sama halnya dengan Cakka, Agni merasa seperti terikat dalam bola mata itu, tatapan tajamnya, menunjukkan kasih sayang mendalam dari Cakka, bukan… lebih dari kasih sayang melainkan CINTA. Cinta?, batin Agni. Mengapa Cakka menatapnya dengan tatapan yang membuatnya melting? Apa tatapan mata Cakka mengatakan yang sejujurnya, jujur bahwa ia mencintai gadis manis dihapannya. Mereka masih terdiam sama seperti posisi semula, saling menatap, dengan Cakka yang tanpa sadar semakin memainkan nada-nada romantis, menggambarkan apa yang terjadi saat ini.

“Agni, Lo ngga apa-apa kan?” terdengar suara teriakan dari luar tenda, membuat Agni dan Cakka menghentikan aktivitas mereka. Shilla, langsung menghampiri Agni yang sedang bersender. “Lo ngga apa-apa kan Ag? Gue denger lo pingsan, ada yang sakit ngga? Lo….” Cerocos Shilla, Agni yang mendengarnya langsung saja membekap mulut temannya itu. Sedangkan Cakka hanya tertawa melihat tingkah kedua cewek dihadapannya itu.

“Gue ngga apa-apa Shil” jawab Agni singkat sambil mengeluarkan senyum manisnya. Shilla menghela napas lega, pandangannya beralih pada Cakka. Shilla mengernyit heran.

“Lo ngapain disini Kka?” tanya Shilla, Cakka yang tidak siap dengan pertanyaan dadakan Shilla itu seketika menjadi gagap.

“Eh.. ehm, gu… gue disuruh nungguin Agni tadi. Iya… gitu” ujar Cakka, terlihat jelas bahwa ia sedang gugup mendengar pertanyaan dadakan Shilla. Shilla mengangguk mengerti, tidak ingin terlalu mempermasalahkan keberadaan Cakka.

“Thank’s Kka, lo udah nolongin gue” ucap Agni disertai dengan senyum yang mampu membuat siapapun yang menatapnya terpesona. Begitu juga Cakka.

“Urwell Ag” balas Cakka dengan senyum terbaiknya. “Tapi Ag… lo tau darimana kalo gue yang nolongin lo? Lo kan pingsan”

“Feeling aja” ucap Agni singkat. Cakka mengangguk-anggukkan kepalanya.

“KACANG…. KACANG…. SERIBU TIGA” teriak Shilla yang merasa diabaikan oleh dua insan itu kemudian manyun, Agni terkekeh geli melihat temannya itu.

“Ngga usah manyun Shil, jelek lo” celetuk Ray, tiba-tiba datang dan tentu saja bersama Alvin.

“APA…!!!” jerit Shilla, seketika mereka yang berada disana menutup telinganya, merasa sedikit terganggu dengan teriakan Shilla.

“Ebuset, tuh suara pake TOA yak? Budeg nih gue” ceplos Ray, menggosok-gosok telinganya.

Perang mulut antara Ray dan Shilla tidak bisa dihindari lagi, sementara ketiga teman mereka menyaksikan itu sambil menggelengkan kepalanya. Perasaan setiap bertemu, dua makhluk ini tidak bisa akur, seperti tokoh kartun Tom and Jerry. Masih mending Tom and Jerry yang masih ada akurnya, tapi Ray dan Shilla. Mereka seolah tidak ditakdirkan untuk akur, selalu meributkan hal yang tidak penting, membesarkan masalah penting dan yang penting, tidak pernah mau saling mengalah.

***
Malam terakhir camping SMA Kusuma Bangsa, terlihat jelas raut puas pada masing-masing murid. Walaupun mereka hanya sebentar disini, tapi mereka mendapat banyak pengalaman yang mungkin sampai kapanpun tidak akan dilupakan, dan satu hal penting yang mereka dapat dari camping ini yaitu segala sesuatu akan terwujud dengan usaha. Segalanya akan sia-sia jika mereka hanya menunggu dan berharap tanpa berusaha sedikitpun. Benar-benar pengalaman yang langka, dan tidak semua orang bisa merasakannya.
Malan ini, mereka menghabiskan waktu semalaman. Mengisi acara dengan bernyanyi ria, mengungkapkan bagaimana perasaan mereka selama berada disini, berbaur dengan penduduk sekitar dan mengerti arti hidup yang sesungguhnya.

Pak Duta berdiri di tengah lingkaran anak muridnya, terpancar jelas raut puas, bangga dan senangnya. Tidak sia-sia ia merencakan camping ini, sepertinya siswa Kusuma Bangsa sudah mengerti apa maksud kegiatan ini, satu persatu pak Duta terlihat memperhatikan muridnya. Ia mulai menepuk kedua tangannya, membuat semua murid yang tadi sibuk dengan kegiatan masing-masing seketika langsung menatap Pak Duta.

“Malam anak-anak” sapa Pak Duta, senyum tidak lepas dari wajahnya. Membuatnya semakin terlihat berwibawa dan punya image tersendiri.

“Malam Paaakkkk….” Koor murid SMA Kusuma Bangsa, memperhatikan kepala sekolah mereka yang tercinta.

“Bapak harap, kalian bisa mengambil hikmah yang penting dari sini. Sepertinya tidak sia-sia kita mengadakan camping kali ini. kalian terlihat sangat menikmatinya, walaupun selama seminggu ini kalian jauh dari yang namanya tekhnologi atau semacamnya. Bapak bangga kalian bisa menghadapi hidup ‘apa adanya’ disini” Pak Duta terlihat menarik napas dan tersenyum menatap anak didiknya. “Bapak bangga sama kalian dan bapak rasa kalian sudah siap untuk menghadapi ‘hidup’ yang sesungguhnya nanti” pak Duta mengakhiri pidato singkatnya, semua murid SMA Kusuma Bangsa kompak menyambutnya dengan tepuk tangan membahana.

Semua kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing, sampai mereka kembali dikejutkan dengan seseorang yang berdiri ditengah mereka. Bukan Pak Duta, melainkan seorang siswa tampan, entah mendapat keberanian darimana ia bisa melakukan hal ‘gila’ itu. Sontak apa yang dilakukannya itu menarik perhatian, semua murid menatapnya heran. Ia duduk dibangku yang tadi sudah disediakan temannya, memangku gitar dan memandang teman-temannya satu persatu. Pandangan terhenti pada gadis manis yang duduk tidak jauh darinya, seketika keberanian yang tadi dikumpulkannya lenyap. Ia sudah akan berdiri untuk meninggalkan tempat duduknya tapi terlihat dari arah berlawanan kedua sahabatnya terlihat menyemangatinya. Ia menghela napas panjang dan kembali duduk dibangku itu. Perlahan namun pasti terdengar petikan senar gitar. Membuat semua murid kali ini menatapnya focus. Sedetik kemudian ia mulai melantunkan lagu.

I've been alone so many nights now
And I've been waiting for the stars to fall

I keep holding out for what I don't know
To be with you
Just to be with you

So here I am, staring at the moon tonight
Wondering how you look in this light
Maybe you're somewhere thinking about me, too
To be with you... there's nothing I wouldn't do

And I can't imagine two worlds spinning apart,
Come together eventually
And when we finally meet I'll know it's right
I'll be at the end of my restless road
But this journey, it was worth the fight
To be with you

Just to be holding you for the very first time,
Never letting go
What I wouldn't give to feel that way

Oh, to be with you
And I can't imagine two worlds spinning apart,
Come together eventually

And when you're standing here in front of me
That's when I know that God does exist
'Cause he will have answered every single prayer
To be with you

JUST TO BE WITH YOU…

Ia mengakhiri penampilannya dengan sedikit penekanan pada bait terakhir lagunya. Matanya yang selama bernyanyi terpejam, kini mulai terbuka, menatap sekitarnya. Semua yang mendengarnya larut dalam lagu yang dinyanyikannya. Mereka speechless, tidak menyangka bahwa seorang yang bisa dibilang pembuat onar bisa menyanyikan lagu bermakna seperti itu. Cakka –si penyanyi- menahan napas, sedikit menyesal karena sudah melakukan hal bodoh tersebut. Ia bangkit dari duduknya, ketika mulai melangkah seseorang mulai bertepuk tangan, Cakka menatapnya tidak percaya. Gadis manis itu terlihat bertepuk tangan sambil tersenyum manis padanya, seketika para siswa yang tadi speechless langsung tersadar dan mulai bertepuk tangan mengikuti apa yang dilakukan sang gadis.

Tepuk tangan gadis itu perlahan terhenti ketika ia mulai merasakan bahwa Cakka mulai mendekat kearahnya, kakinya seakan dipaku, tidak bisa bergerak untuk sekedar melangkah pergi. Sedangkan Cakka, pandangannya lurus menatap gadis manis itu, tidak yang lain hanya dia, gadis manis yang sudah membuat dunianya lebih berwarna, gadis manis yang selalu membuatnya terpaku dan terpesona. Perlahan namun pasti, Cakka mendekat. Orang-orang yang berada disekitar gadis itu menyingkir, member jalan untuk Cakka. Agni –gadis manis itu- bingung, kenapa semua seperti memberi jalan. Agni ingin menghindar, tidak berani menatap langsung mata Cakka yang menatapnya tajam. Terlambat, ketika Agni akan melangkah, tangannya ditahan seseorang, Cakka. Cakka membalik badan Agni yang berdiri membelakanginya, Cakka mengganggam tangan gadis itu erat. Ia menghela napas cukup panjang, mencoba meyakinkan dirinya lagi.

“Agni Nubuwati… would you be my girlfriend??” ujar Cakka dengan lancarnya, murid lain menatap mereka dengan berbagai macam jenis, ada yang ikut senang, ada yang iri bahkan ada juga yang histeris. Melihat seorang Cakka Kawekas Nuraga menyatakan cinta dengan cara yang lumayan ekstrim, mengubah dirinya yang biasanya slenge’an menjadi cowok romantis. Sebenarnya inilah sosok Cakka yang sebenarnya, lembut, dewasa, dan romantis. Yah walaupun Ray dan Alvin juga ikut ambil bagian dalam acara penembakan ini, mereka dengan susah payah meyakinkan Cakka akan perasaannya, sampai akhirnya Cakka berani melakukan hal ‘gila’ ini.

“Gu… gue….” Agni terlihat bingung, harus menjawab apa dia.



To Be Continued...^_^

2 komentar:

  1. lisaa..nanggung!!
    eh,agni sakit apaan sih? kasian si dd..
    iihh..jangan-jangan ntar ray sama shilla lagi? berantem mulu soalnya..hihi
    klo kata saya,next part klo bisa dialognya diperbanyak..
    di part ini,yg lebih banyak ambil bagian narasi,sedangkan dialognya kurang menonjol..
    cakka romantis..
    ayooo dd agni, cakka nya diterima yaa..
    lanjuuuttt lisaaa..
    next part jelasin soal masa lalunya cakka sama sakitnya agni yaa..
    makin kesini,makin seru! makin bagus!
    ayooo..lanjutin yaaa...
    hehhehehe

    BalasHapus
  2. huaaaaa. kka feel nya ilang, gmna dong???
    ini aja ngap-ngapan. narasi ancur dialog kaga ngerti, sumpah dah

    BalasHapus