My Video

Loading...

Jumat, 17 Juni 2011

Loving Girl #2nd

Loving Girl
Part #2nd

“JANGAN GANGGU GUE” teriakan itu sontak membuat Agni melihat kea rah sekolahnya lagi. Terlihat-lagi-lagi- Rio yang berteriak tepat dihadapan Alvin, Agni bisa melihat tatapan Rio yang berkilat menahan amarah, tangannya juga sudah terkepal hebat sehingga membuat uratnya terlihat. Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti itu sampai akhirnya Rio berbalik arah dan kembali meninggalkan Alvin dengan tatapannya yang –lagi-lagi- sayu. Rio menuju motor cagivanya dan langsung tancap gas meninggalkan sekolah, sebelum keluar gerbang, Rio sempat melirik ke arah Agni tapi seketika ia mengalihkan pandangannya dan melaju dengan kecepatan yang diatas rata-rata sedang Alvin, dia menuju Volvo-nya yang terparkir apik.

‘Mobil? Sejak kapan?’ batin Agni ketika Alvin melaju dengan mobilnya.

Tiiiinnnn…. Tiiiinnnn…..

Lagi-lagi lamunan Agni harus buyar karna klakson mobil Gabriel menyapanya dengan sangat ramah(?). Agni mendengus kesal dan berjalan menuju mobil Gabriel dengan langkah besar dan tatapan membunuhnya, Gabriel nyengir ketika melihat tatapan Agni itu.

“Loe kemana aja sih bang?, lumutan gue nungguin loe tau ngga” semprot Agni ketika Gabriel mulai menjalankan mobilnya meninggalkan sekolah Agni.

“Hhe, sorry de’ tadi Abang ada urusan bentar dikampus, ada yang diurusin untuk kepindahan Abang makanya lama. Sorry ya” jelas Gabriel, Agni hanya mengangguk kecil.

@Home
Agni langsung saja bergegas menuju kamarnya di lantai dua, pikirannya kembali pada dua sosok yang terlihat menyimpan rahasia itu. Alvin dan Rio. Dua orang yang menjadi pentolan sekolah, tapi mempunyai sisi yang sangat berbeda. Rio yang keras kepala dan sok berkuasa, Alvin yang dingin namun menyimpan kelembutan dalam sikapnya. Agni jadi bingung sendiri, hari pertama sekolah, ia harus melihat pertengkaran dua pentolan sekolah itu tanpa tau apa yang mereka ributkan.

*Flashback*

“Apin, kenapa cih cuka motor? Kan enakan pake mobil, ngga kena panas, trus juga adem lagi” tanya Agni polos ketika ia menemani Alvin sedang bermain dengan motor-motoran kesayangannya.

“Ih, enakan pake motor kali de’, bisa balapan. Kan Apin udah janji sama Iyel kalo nanti kita bakal balapan dan Apin juga kan udah janji sama dede’, kalo Apin bakal ngajak dede’ naik motor Apin ini” celoteh Alvin dengan bahasa yang masih ala kadarnya sambil menunjukkan mainannya itu kepada Agni.

***
“Kalo Alvin emang beneran Apin gue dulu, kenapa mobil??. Bukannya dia kan maniak motor banget” gumam Agni sesaat setelah potongan masa lalunya itu hadir di benaknya. “Au ah, pusing gue” ujar Agni mengacak rambut sebahunya.

“De’, loe gila ya? Daritadi gue liat loe ngomong sendiri” cetus Iyel yang sudah bertengger di pintu kamar Agni.

“Astaga Abang…!!! Loe bisa ngga sih kalo masuk tuh ngetok pintu dulu. Malah ngagetin lagi” gerutu Agni, Iyel hanya cengengesan gaje.

“Yee… eh gue udah ngetok dari tadi kali, loe nya aja yang budeg, kaga denger gue. Buruan deh, bunda sama ayah udah nungguin dibawah”

“Emang ada apa sih bang? Tumben bunda sama ayah udah pulang” tanya Agni ketika mereka menuruni tangga, Gabriel hanya menggendikkan bahunya.

@_@

 “Kak Lio(Rio)……….!!!” teriak Ray tepatnya Raynald Prasetya Haling. Putra bungsu keluarga Haling yang memiliki tampang imut dan senyum manis seperti abangnya, Rio. yang belum bisa menyebut huruf ‘R’ dengan baik.

Ray berlari menghampiri Rio yang sudah melentangkan tangannya lebar-lebar untuk memeluk adik kesayangannya itu. Rio tersenyum, sesuatu hal yang jarang dilakukannya pada orang lain selain Ray. Hanya dihadapan Ray, Rio bisa tersenyum manis, tanpa beban, melepaskan semua topeng keangkuhan yang digunakannya untuk menutupi diri dari dunia luar.

“Ray, udah makan belom?” tanya Rio lembut pada Ray yang sedang memainkan mobil-mobilannya digendongan Rio.

“Belom…!! Kan Lay(Ray) nunggu kak Lio pulang sekolah” jawab Ray polos, mata bonekanya berbinar lucu ketika berbicara, membuat Rio tidak bisa menyembunyikan raut gemasnya kepada Ray.

“Ray…., kan udah kak Rio bilang. Ray makan duluan aja, kalo nunggu kak Rio bakal lama” peringat Rio pada adiknya ini, Ray manyun.

“Lay ngga mau. Lay Cuma mau makan kalo baleng kak Lio” Ray membanting mobil-mobilannya dan melipat tangannya didepan dada sambil mengelembungkan pipi chuby-nya, membuatnya makin terlihat imut dan menggemaskan. Rio menghela napas menghadapi adiknya yang manja ini.

“Yaudah… jangan ngambek lagi dong. Sekarang makan yuk trus minum obatnya” ajak Rio sambil memberikan mobil-mobilan Ray yang tadi dibanting, Ray tersenyum lucu lalu memeluk leher Rio erat.

“Ayok…” semangat Ray.

 @_@

“Bang…” tegur Agni ketika ia dan Iyel sedang duduk menonton TV, mereka hanya berdua karena orang tua mereka harus segera kembali ke Jogja karena ada sedikit masalah dengan kantor cabang yang mengharuskan orang tua mereka pulang kampung.

“Ehm….” Balas Iyel yang masih asyik dengan tontonannya.

“Loe masih inget Apin ngga?” tanya Agni sembil duduk disamping Iyel.

“Inget, emang kenapa loe nanya gitu de’?” jawab dan tanya Iyel, kali ini ia menatap Agni dengan wajah seriusnya.

“Gue satu sekolah sama dia, tapi Apin sekarang aneh deh bang” ujar Agni, Iyel sedikit mengangguk dan kembali focus dengan tayangan TV didepannya.

“Aneh kenapa?”

“Dia bawa’ mobil….” Terang Agni, Gabriel yang mendengar itu cengo’ dan sedetik kemudian ia langsung terbahak.

“Hahahahahahah…. Lucu loe de’, emang kenapa kalo dia bawa’ mobil, terserah dia dong. Gitu doang kok aneh sih” ujar Iyel seketika Agni langsung menoyor kepala Abangnya itu.

“Yeeee, loe gimana sih bang. Loe kan tau dia itu maniak banget sama motor. Tapi sekarang kenapa dia malah pake mobil. Itu yang buat gue heran”

“Ah, udahlah de’, terserah dialah. Mungkin dia bosen kali, orang kan bisa berubah” jelas Iyel yang sebenarnya masih ragu dengan jawabannya sendiri karena Iyel sangat tau bagaimana maniaknya seorang Alvin dengan motor. “Gue ke atas ye, ngantuk” Iyel langsung meninggalkan Agni sendiri.

“Aelah loe bang, ngebo mulu” cibir Agni.

“Sirik aje loe”

@_@

Canda dan tawa menghiasi ruang makan keluarga Haling, ya siapa lagi kalau bukan Rio dan Ray yang sedang makan siang sambil sesekali bercanda, beberapa pembantu bahkan ‘Nanny’ yang khusus merawat Ray juga larut dalam suasana hangat itu. Tidak disangka bahwa seorang Mario Stevano Aditya Haling, cowok yang dijuluki ‘Ice Man’ itu bisa tertawa puas hanya karena tingkah konyol dan lucu Ray. Bagi Rio, Ray adalah harta bahkan sudah menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidupnya. Rio sama sekali tidak bisa menolak apapun yang diinginkan Ray, mungkin itu juga yang membuat Ray menjadi agak manja pada Rio tapi selama itu untuk kebahagiaan Ray, Rio rela melakukan apapun termasuk menukar nyawanya sendiri jika perlu.

“Papa…!!!” panggil Ray pada seorang pria paruh baya yang akan menaiki tangga tanpa menatap atau menyapa Ray dan Rio sebelumnya. Ray turun dari bangkunya dengan semangat dan menghampiri pria itu. “Papa balu pulang ya?” tanya Ray polos. Pria itu menyetarakan tingginya dengan Ray dan tersenyum lalu mengangguk kecil.

“Iya Ray, tapi Cuma bentar aja, soalnya ada barang yang ketinggalan”

Ekspresi Ray yang semula sumringah menjadi keruh lagi. “Papa ngga bisa main sama Lay?” ujar Ray lemah sambil menunduk, sang papa, Joe Haling mengelus lembut kepala putra bungsunya itu.

“Maaf Ray, papa ngga bisa”

Setelah mengucapkan itu, Joe langsung meninggalkan Ray dan melanjutkan perjalanannya yang tertunda karena panggilan Ray, Joe masuk ke kamarnya, mengambil barang yang dimaksud dan keluar rumah tanpa menyapa bahkan menoleh kepada kedua anaknya. Ray masih tertunduk ditempatnya, sedangkan Rio hanya menatap kepergian papanya dengan ekspresi yang sulit diartikan, antara marah, kesal, dan kecewa pada papanya yang tidak lagi peduli dengan anak-ananya. Semenjak mama Rio meninggal karena melahirkan Ray, papanya mulai menyibukkan diri dengan berbagai macam pekerjaan tanpa sedikitpun mempedulikan dan memperhatikan anak-anaknya, kemarahan Rio semakin bertambah karena kejadian beberapa tahun yang lalu, papanya seakan menutup mata dengan kejadian itu. Rio menggelengkan kepala mencoba menghilangkan kenangan pahit itu dari benaknya, Rio menatap Ray yang masih saja berdiri ditempat semula dan sekarang menatap kea rah pintu tempat papanya tadi menghilang, Rio menghela napas berat dan panjang, mengubah ekspresinya menjadi seceria mungkin dan berjalan mendekati Ray.

“Ray, kita lanjutin makan lagi yuk” bujuk Rio, Ray menatap kakaknya itu, wajahnya tampak murung.

“Lay udah ngga lapel kak, kakak lanjutin aja sendili” desah Ray berjalan meninggalkan Rio menuju ke teras samping, menghadap langsung ke sebuah lapangan kecil dan sebuah kolam renang, Rio mengikuti Ray yang sudah terduduk diteras.

“Ray… jangan gitu dong, lanjutin lagi yuk makannya trus minum obatnya. Ray mau sembuh kan??” bujuk Rio, tapi ekspresi Ray masih datar dan murung. “Em… gimana kalo ntar kita jalan-jalan, ntar kak Rio bakal beliin Ray cokelat sama es krim deh. Gimana?  Mau ngga?” tawar Rio, kali ini wajah Ray terlihat lebih cerah, Rio terseyum tipis melihat itu. “Kalo ngga mau juga ngga apa-apa kok, ntar cokelat sama es krimnya kak Rio kasih kucing aja” Rio mulai beranjak dari tempat duduknya disamping Ray tadi.

‘Masa’ cokelat sama es klim Lay buat kucing sih’ batin Ray manyun mendengar perkataan Rio tadi.

Rio terkekeh melihat Ray manyun, “satu…..” hitung Rio, Ray terlihat berfikir dengan penawarn Rio.
“Dua…..” lanjut Rio, Ray sudah berdiri dari duduknya tadi.
“Ti……” belum selesai Rio menghitung Ray sudah berteriak.

“Iya deh Lay mau” teriak Ray berlari menuju Rio. “tapi benel ya nanti kita jalan-jalan” tagih Ray. “Tlus cokelat sama es klimnya buat Lay aja, kucingnya jangan dikasih” celoteh Ray panjang lebar, Rio tersenyum dan menggendong Ray menuju ke ruang makan.
 
“kak Lio nemenin Lay kan malem ini?” tanya Ray sambil memainkan mobil-mobilannya dan mengunyah makanan yang disuapi Rio barusan, Rio terdiam. “Kalo kak Lio ngga nemenin Lay, Lay ngga mau lagi minum obat. Buat apa Lay minum obat kalo kak Lio ngga mau main sama nemenin Lay dilumah. Lay sendili tlus” cerita Ray sambil terus focus menjalankan mobil-mobilannya maju-mundur(?)

‘SKAK MAT’. Rio terdiam, entah Ray sadar atau tidak jika yang diucapkannya barusan adalah sebuah ancaman membuat tubuh Rio seketika menjadi kaku, Rio paling tidak mau jika Ray meninggalkan obatnya, karena hanya dengan obatnya itu Ray bisa bertahan. Memang sejak lahir Ray mempunyai penyakit bawaan, maka dari itu Ray harus mengonsumsi obat-obatan dari bayi dan sangat bergantung dengannya, jika obat itu tidak dikonsumsi maka akan berakibat fatal untuk Ray. Untuk malam ini Rio harus rela mendekam dirumah menemani Ray. Rio menghela napas.

“Iya deh kak Rio nemenin Ray malem ini” setelah itu Rio langsung menghubungi salah satu temannya hanya sekedar memberitau kalau malam ini ia tidak ikut hang out bareng.

@_@

Mata sipitnya memandang sayu pada satu titik, tepatnya pada seseorang yang terlihat sedang asyik memainkan bola basketnya, sesekali orang itu melakukan lay up dan hup…! Bolanya memantul sedikit pada bibir ring dan masuk dengan mulusnya, bola itu kembali lagi, sang pemilik melakukan drible dan bersiap melakukan three point, cukup lama ia melihat situasi ring, seolah mencari celah untuk bolanya, ia berjinjit dan yak… bola itu dilemparkannya dengan sedikit lompatan, Hup !! bola itu kembali masuk ring dengan mulus tanpa menyenggol bibir ring, sang pemain tersenyum puas melihat aksinya. Agni –pemain basket tadi- berbalik dan tanpa sengaja melihat Alvin –si mata sipit- yang berdiri tidak jauh dari tempatnya bermain basket. Mata Agni menatap lurus kea rah Alvin yang kelihatannya masih belum sadar bahwa Agni memperhatikannya juga. Lama mereka dalam posisi seperti itu sampai akhirnya Agni dikejutkan oleh seseorang.

“Hei Ag, dari tadi gue cariin ngga taunya disini” tegur Sivia, Agni mengalihkan pandangnnya yang semula pada Alvin menjadi menatap Sivia dengan tatapan seolah menyatakan ‘Ada apa?’. “Lo ngapain ngeliat kesitu?” tanya Sivia kali ini mengikuti arah pandang Agni, kosong, Sivia mengernyitkan dahinya, heran kenapa Agni menatap tempat kosong. Agni kembali mentap ke tempat Alvin berdiri tadi dan hal yang sama juga dilihat Agni, tempat itu sudah kosong.

“Huft….” Agni menghela napas dan kembali mendrible bola tanpa menghiraukan Sivia.

“Loe ngapain ngeliat kesana Ag, kosong gitu?” tanya Sivia penasaran.

“Ngga, gue ngga ngeliat apa-apa kok” elak Agni, Sivia hanya mengangguk.

@_@

Asap rokok terlihat mengepul dari salah satu sudut sekolah, terlihat cowok itu sedang asyik dengan rokok yang ada di tangannya, sesekali ia menghisap lalu menghembuskan asapnya membentuk bulatan-bulatan kecil. Ia terlihat sangat menikmati keadaannya sekarang, baginya hanya rokok yang bisa sedikit membantunya untuk lepas dari hidup penuh penderitaannya. Ia merogoh sakunya, membuka BlackBerry-nya yang masih terlihat jelas pesan dari salah satu temannya yang mewarkan barang yang bisa membuatnya melupakan semua masalahnya, tapi masih ia hiraukan. Kadang pikiran itu terlintas dibenaknya, untuk menggunakan barang tersebut. Tanpa diketahui siapapun ia menyimpan beberapa putung barang tersebut dalam bentuk seperti rokok, itu pemberian temannya yang memaksanya untuk menyimpan, yah setidaknya mungkin ia akan membutuhkannya.

“Loe berubah Yo” batin seseorang yang sedari tadi melihat tingkah Rio. Ia terlihat memegang dahi dan bagian belakang lehernya yang terdapat luka jahitan, untung saja rambutnya yang agak panjang bisa menutupi bekas lukanya itu. Ia menghela napas dan berlalu dari tempatnya.

@_@

Agni tak henti-hentinya mengomel ketika dirinya dengan sangat terpaksa harus disuruh mengambil bola basket yang ada di gudang, Agni yang bingung hanya mengangguk tanpa memikirkan bahwa ia tidak tau dimana letak gudang sekolah itu. Setelah ditengah jalan Agni baru menyadari bahwa ia harus mengambil bola di gudang bukan di ruang olahraga. Agni berjalan sambil sesekali melihat kearah pintu ruangan yang terdapat nama ruangannya, saking seriusnya Agni tidak menyadari bahwa ada seseorang dari berlawanan arah berjalan sedikit menunduk. Sampai akhirnya…

Bruk…!!!

Agni dan orang itu jatuh terpental, mereka meringis kesakitan. Agni menatap orang itu kesal, seketika matanya terbelalak lebar.

“ALVIN !!!” pekik Agni tertahan ketika menyadari siapa yang bertabrakan dengannya. Alvin mendongak kearah Agni, dan sedikit terkejut tapi berusaha ditutupinya.

“Eh, sorry Ag, gue ngga sengaja” ucap Alvin berusaha menghindari tatapan Agni yang menatapnya penuh tanda tanya, Alvin berniat meninggalkan Agni tapi dengan segera ditahan Agni.

“Apin, lo inget ngga sama gue?. Gue Agni, Pin, dede' sahabat lo dulu” terang Agni, Alvin terperanjat ternyata Agni juga mengenali dirinya. Alvin masih terdiam. “Apin, lo lupa sama gue, tega banget sih” Agni manyun dan sukses membuat Alvin tersenyum, dari dulu Alvin memang tidak tahan jika melihat Agni sudah memanyunkan bibirnya itu. Agni yang melihat Alvin tersenyum juga jadi ikutan tersenyum.

“Ngga mungkin gue lupa lo, Ag” balas Alvin tersenyum, akhirnya sekian lama Agni bersekolah disana dia bisa melihat Alvin tersenyum. “Eh iya, lo mau kemana Ag?” Alvin mencoba mencari bahan pembicaraan.

“Astaga Pin, gue lupa” Agni menepuk jidatnya pelan. “Gue disuruh ngambil bola basket di gudang. Lo tau ngga dimana gudangnya?” tanya Agni polos, lagi-lagi Alvin tersenyum.

“Ya taulah, percuma gue sekolah disini kalo ngga tau. Yaudah yuk gue anterin” tanpa sadar Alvin menggandeng tangan Agni, Agni tersenyum ternyata kebiasaan Alvin tidak berubah, masih suka menggandeng tangannya dengan lembut.

Kepergian Agni dan Alvin yang agak ‘mesra’ itu membuat seseorang mengepalkan tangannya, menahan amarah yang selama ini memang sudah ada, matanya sangat jelas bahwa ia sedang marah. Langsung saja tembok dihadapannya menjadi korban kekesalannya, tangan mulusnya terlihat sedikit lecet. Ia meninggalkan tempat itu sambil mendengus kesal.

“Jangan harap lo bisa bahagia” ujar orang itu sebelum meninggalkan tempat itu dengan langkah besarnya.

@_@

“Lo ngapain disuruh ngambil bola Ag? Kita kan ngga ada pelajaran olahraga?” tanya Alvin ketika mereka sudah mengantarkan 4 buah bola basket kepada pak Rully –guru olahraga- sekolah mereka dan sekarang akan menuju ke kelas mereka. Untung saja ada Alvin jadi Agni tidak harus repot membawa 4 bola sekaligus.

“Ngga tau. Tadi gue mau masuk kelas eh malah disuruh ngambil nih bola” jelas Agni, Alvin menganggukkan kepalanya mengerti. “Thank’s ya Pin, untung ada lo,jadi gue ngga repot” sambung Agni tersenyum manis pada Alvin, Alvin membalasnya.

“Urwell Ag” balas Alvin juga tersenyum. “Eh kaya’nya nama gue Alvin deh bukan Apin. Lagian kan lo udah gede’ Ag, masa’ masih manggil Apin sih” Alvin sedikit manyun, Agni terkekeh kecil melihat itu.

“Aelah Pin, ngga apa-apa kali anggep aja panggilan sayang gue buat lo” balas Agni, Alvin kembali tersenyum dan mengusap lembut kepala Agni. Mereka tertawa bersama.

“Ngga nyanga gue kalo lo masih bisa seneng-seneng” sinis seseorang yang kontan membuat Agni dan Alvin menghentikan langkah mereka. Seketika wajah putih Alvin terlihat pucat, Agni mendengus kesal. Dia lagi, dia lagi. Batin Agni.

“Heh, lo ngapain sih? Hobby banget gangguin orang” celetuk Agni pada orang itu. Rio. Rio tersenyum sinis mendengarnya.

“Eh cewek stres, gue ngga ada urusan sama lo. Lagian suka-suka gue dong mau ngomong apaan. Toh ini juga sekolah punya gue” balas Rio meremehkan, Agni terlihat sangat kesal sedangkan disampingnya Alvin sedikit menunduk, tidak berani menatap langsung Rio.

“Heh, jangan mentang-mentang sekolah ini punya lo, lo jadi semena-mena” bals Agni sengit, Rio kembali tersenyum meremehkan membuat Agni sangat ingin melenyapkannya, saat akan membalas Rio lagi, tiba-tiba Agni dihentikan oleh seseorang. Alvin, yang sedari tadi terdiam.

“Udahlah Ag, lo ngga usah nyari ribut” lirih Alvin mencoba menenangkan Agni yang sudah sangat emosi pada Rio.

“Tapi Vin….” Perkataan Agni terputus karena Rio menyelanya.

“Ngga usah sok deh lo” sinis Rio menatap Alvin tajam kemudian berlalu begitu saja, Agni menatap Alvin yang tertunduk dan beralih pada Rio yang sudah lumayan jauh dari tempatnya dan Alvin.

Agni penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi antara dua cowok most wanted di Harapan Bangsa? Mereka selalu saling menghindar jika bertemu. Seperti dua buah magnet yang sama arah, mereka akan saling tolak-menolak, tapi jika salah satu dari magnet itu diputar dan jadi berlawanan arah maka mereka akan tarik-menarik. Agni yakin bahwa Alvin dan Rio juga mengalami hal yang sama, seberapapun besar usaha mereka untuk tolak-menolak suatu saat pasti akan ada orang yang menjadikan mereka tarik-menarik bagai magnet. Tapi kapan? Itu yang menjadi bahan pertanyaan Agni, kapan dua magnet itu akan saling tarik-menarik, seperti halnya Alvin dan Rio. Kapan mereka akan menyadari kalau mereka saling membutuhkan? Kapan? Pertanyaan itu memenuhi kepala Agni saat ini.

@_@

“Woy, kemana aja lo? Kemaren malem kaga nongol” sapa seorang cowok berperawakan cukup tinggi dan terlihat sedikit ‘sangar’, yang disapa hanya tersenyum menanggapinya.

“Biasa.. ade' gue nahan gue kluar. Jadi ya, lo tau lah….” Balasnya enteng sambil memperhatikan lokasi sekitarnya. Perfect.

“Aelah, lo Yo. Masih aja lo ngurusin tuh bocah satu, diemin aja lagi” balas cowok ‘sangar’ itu sambil menghisap rokoknya. Rio, cowok yang disapa tadi menatap cowok ‘sangar’ itu tajam, dia paling tidak bisa seseorang meremehkan atau merendahkan adiknya. Cowok ‘sangar’ itu menyadari perubahan raut wajah Rio yang mengeras langsung meralat ucapannya. “Wes, santai bos. Gue Cuma becanda lagi, udahlah. Noh lo turun gih, anak-anak udah pada nungguin lo” ekspresi Rio sedikit berubah, tanpa menjawab perkataan cowok sangar itu, Rio langsung memasuki arena ‘Balap Liar’.

Rio sudah siap diposisinya, disamping kanan dan kirinya terlihat beberapa sepeda motor dengan berbagai motif. Mereka bersiap untuk memulai permainan malam itu, seorang cewek membawa bendera kecil dengan motif papan catur berjalan ke tengah jalan dan mencari posisi yang pas, ketika mendapat posisi yang pas, cewek itu mengangkat benderanya, berhitung mundur dan bendera dijatuhkan. Bersamaan dengan bendera menyentuh tanah, para pembalap yang sudah bersiap langsung tancap gas.

“Gimana? Dia udah mau gabung?” tanya Riko pada Sion-cowok sangar tadi- yang masih menghisap rokoknya, Sion menghembuskan asapnya yang membuat Riko sedikit terbatuk. “Lo kalo ngerokok liat-liat dong, asal aja dah” protes Riko masih terbatuk akibat ulah Sion barusan, Sion terkekeh geli melihat Riko.

“Santai mament” balas Sion santai, sedetik kemudian ekspresinya berubah serius “Dia belum mau Ko, kaya’nya bakal susah deh ngebujuk dia” terang Sion, Riko mengangguk mengerti tapi tak dapat dipungkiri bahwa ia kecewa dengan info itu.

“Sayang banget, padahal dia punya potensi” ujar Riko kembali focus pada pertandingan di hadapannya, Sion mengangguk menyetujui.

Finish !!!, cagiva Rio memasuki garis finish terlebih dahulu, semua pendukung yang kebanyakan cewe berteriak histeris, apalagi ketika Rio membuka helm fullfacenya dan berjalan menghampiri Sion dan Riko yang sedari tadi melihat pertandingannya. Riko tersenyum menyambut kedatangan sekaligus kemenangan yang sudah tidak asing lagi bagi Rio, Rio hanya membalasnya dengan senyum yang amat sangat tipis. Disekitar mereka sudah hampir penuh dengan cewek yang notabenenya adalah pecinta Rio, Rio mencoba mengabaikan mereka, tapi mereka masih saja mengikuti kemanapun Rio pergi. Kemarin, ketika mereka tau Rio tidak datang, Sion yang menjadi bahan protes mereka, dan alhasil Sion langsung kabur tanpa mempedulikan teriakan histeris pecinta Rio karena Sion yang kabur tanpa memberikan informasi.

“Congrat Yo, makin hebat aja lo” puji Riko diiringi dengan ber-high five ala anak muda dengan Rio, rio hanya tersenyum tipis dan mengangguk.

“Lo muji gue bukan buat bujuk gue lagi kan? Sorry gue ngga tertarik” balas Rio, Riko dan Sion saling pandang kemudian tertawa bersama, Riko menepuk bahu Rio pelan.

“Gue nyerah bujuk lo Yo, sayang banget lo ngga mau” ucap Riko, Rio hanya menatap lurus arena balap yang sekarang sudah dipenuhi pembalap lain untuk pertandingan baru.

“Sorry” balas Rio singkat tanpa memandang kedua orang disampingnya. “Gue duluan” pamit Rio, tanpa menunggu persetujuan Riko dan Sion, Rio langsung mengambil hadiah balapannya dan melajukan cagivanya membelah jalan kota yang sudah mulai sepi.

@_@

“Bang, bunda sama ayah belum pulang ya?” tanya Agni ketika dirinya dan Gabriel sedang sarapan. Gabriel mengangguk sambil meminum susunya.

“Belom de’, semalem bunda telpon katanya masih sekita sebulan lagi. Soalnya masalah disana belom kelar” jelas Iyel, Agni mengangguk mengerti dan kembali menikmati rotinya. “Berangkat yuk de’, gue ada kuliah pagi nih” ajak Iyel, langsung menuju audi-nya. Agni langsung meminum susunya dan bergegas menyusul Gabriel yang sudah berada didalam mobil.

Selama perjalanan menuju ke sekolahnya, agni hanya diam sambil memandang kearah jendela kaca mobil, Agni terlihat bingung dengan jalan disekitarnya. Ini bukan jalan menuju sekolahnya, Agni menoleh kea rah Gabriel, terlihat Gabriel tenang-tenang saja seperti tidak menyadari kalau dia salah jalan, malah sesekali Agni melihat Gabriel mengikuti irama lagu yang terputar di mobilnya.

“Bang, ini lewat mana sih? Kok lewat pemakaman gini? Sekolah gue kan ngga lewat sini” ujar Agni menatap Gabriel heran, Gabriel hanya tersenyum menanganggapi protes adiknya itu.

“Gue kemaren ngga sengaja nemu jalan ini de’, ternyata jalan ini lebih deket ke sekolah lo” jelas Gabriel, Agni ber’o’ ria dan kembali menatap keluar jendela melihat kea rah pemakaman yang tertata rapi.

Pandangan Agni terpaku pada seorang cowok yang berjalan memasuki salah satu komplek pemakaman tersebut, Agni sangat hapal dengan bentuk tubuh itu, cara berjalannya dan terlebih mata sipitnya yang masih terlihat jelas oleh Agni. Alvin. Mau apa Alvin dipemakaman? Dan Agni semakin menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas, Agni terperanjat melihat itu, cairan bening mengalir dari sepasang mata sipit itu. Alvin menangis? Agni semakin bingung, makam siapa itu? Dan kenapa Alvin menangis di makam itu? Gabriel yang sedari tadi memperhatikan adiknya hanya mengernyitkan dahinya, heran dengan ekspresi adiknya yang seketika terdiam. Apakah adiknya ini kesurupan? Sesaat Iyel menyesal telah mengajak Agni lewat pemakaman. Agni menatap Iyel dengan pandangan yang Iyel sendiri tidak tau artinya.

“Lo kenapa de’? ngga kesurupan kan?” tanya Iyel takut, ia hanya memastikan bahwa adiknya ini baik-baik saja. Agni seperti tersadar, dan langsung menoyor Iyel, Iyel meringis perlahan.

“Sembarangan aja lo, gue ngga apa-apa bang” Agni menghela napas, sebaiknya jangan sekarang memberitaukan tentang apa yang barusan dilihatnya kepada Abangnya ini.

“Yeee, gue Cuma takut aja de’ soalnya loe kaya’ ngelamun gitu. Lo liat apaan sih?” tanya Iyel penasaran sambil sesekali menatap spion mobil, untuk melihat objek yang membuat adiknya terdiam tapi hasilnya nihil, Iyel tidak melihat apapun.

“Ngga liat apa-apa kok bang” jawab Agni, dan lagi-lagi menatap keluar jendela. Kali ini pikirannya dipenuhi oleh Alvin.

@_@

Agni terdiam, walaupun raganya ada disini tapi ntah jiwa dan pikirannya terbang kemana. Sivia daritadi memperhatikan Agni, memang sekarang Agni dan Sivia sedang berada di kantin dan kali ini tanpa berurusan dulu dengan Rio. Agni yang biasa banyak omong sekarang malah berdiam diri, sambil sesekali mengaduk nasi goreng dihadapannya, Sivia benar-benar dibuat bingung dengan tingkah Agni hari ini, ia mencoba mengabaikannya tapi Agni benar-benar seperti orang kesurupan. Sivia jadi teringat pesan dari Gabriel sebelum meninggalkan sekolah Agni tadi pagi.

“Lo temen ade’ gue kan?, gue minta tolong sama lo ya? Liatin dia, kaya’ nya dia kesurupan deh soalnya sejak gue ajak lewat pemakaman tadi dia jadi diem aja” Gabriel langsung saja nyerocos tanpa mendengar sedikitpun jawaban dari Sivia, setelah itu dia pergi begitu saja. Sivia cengo’, cowok manis itu tiba-tiba tadi menarik tangannya, berpesan sesuatu tentang Agni dan Blass…. Pergi begitu saja.

Sivia menggelengkan kepala mengingat itu. Apa jangan-jangan Agni emang kesurupan? Sivis bergidik ngeri, walaupun dia belum lama berteman dengan Agni setidaknya Sivia sudah tau kalau Agni bukan tipe orang yang suka berdiam diri seperti sekarang ini.

“Em… Ag?” panggil Sivia ragu, Agni hanya menoleh kearahnya dengan tatapan datar. “Lo ngga apa-apa kan?” lanjut Sivia, Agni mengernyit heran dengan pertanyaan temannya ini.

“Gue ngga apa-apa kok” jawab Agni kembali sibuk mengaduk nasi gorengnya, sebelah tangannya menopang dagu menatap lurus kearah lapangan yang dipenuhi beberapa murid cowok bermain basket.

“Lo ngga kesurupan?” tanya Sivia lengkap dengan tampang polos dan lugunya.

“Hah…!!!” Agni cengo’, apa-apaan ini? Hari ini sudah dua orang yang bilang dia kesurupan, pertama abangnya, Gabriel dan sekarang Sivia. Sebegitu diamkah Agni hari ini? Sampai-sampai orang mengangganya kesurupan.

“Iya, lo ngga kesurupan kan?” Sivia kembali mempertegas jawabannya, Agni terkesiap sesaat.

“Ya nggalah, emang kenapa sih? Aneh banget deh, tadi abang gue yang bilang gue kesurupan nah sekarang lo, Vi” jawab Agni heran, kenapa abang dan temannya berpikir kalau dia sedang kesurupan?.

“Ya, lo ngga kaya’ biasanya Ag, lo diem banget hari ini. Ada apaan sih?” jelas dan tanya Sivia sambil memakan siomay dihadapannya.

“Hah…!!” lagi-lagi kata itu yang pertama keluar dari Agni, Sivia mendengus kesal. “Gue ngga apa-apa kok, udahlah” Agni mencoba mengalihkan arah pembicaraan mereka.

“Jiah, lo ngga bakat bo’ong Ag, walaupun kita baru kenal tapi gue yakin, lo lagi mikirin sesuatu kan?” tebak Sivia, Agni menatapnya dengan berbagai macam tatapan(?), antara gugup, mencoba untuk mengelak tebakan Sivia dan tatapan kagum, karena apa yang diucapkan Sivia itu sangat amat benar. Agni memang lagi memikirkan sesuatu. Bukan, bukan sesuatu melainkan seseorang. Yup, Alvin!. “Lo mikirin apa sih Ag?  Srius banget… Ah, gue tau jangan-jangan lo mikirin Rio ya, hari ini kan dia ngga masuk Ag” tebak Sivia. Toink, Agni yang semula sempat kagum dengan analisis Sivia eh malah harus kecewa karena tebakan Sivia yang sangat asal itu. Agni menoyor Sivia.

“Enak aja lo, ngapain juga gue mikirin tu cowok monster. Kaga penting amat” sewot Agni, sedangkan Sivia manyun sambil mengelus kepalanya yang ditoyor Agni.

“Lah, terus kalo bukan Rio siapa dong?” tanya Sivia penasaran.

“Alvin” balas Agni singkat. Sivia terkejut.



To Be Continued...^_^

5 komentar:

  1. yahh..bersambungg..
    lanjuutt yee..yang cepet!!#banyak maunya nih..
    hahahha..

    ini siviel yah?? iya kan??
    trus alvin-rio sebenernya ada masalah apa sih??
    hmm..saya tebak yaa..
    cewek yang disukai rio itu meninggal karena alvin<------sotoy
    hahaha..bener ngga??
    bener-benerin aja yak..?? haha
    eh, yang kemarin dilanjutin dong..
    yee..??
    apalagi ya?? bingung mau koment apaan..
    pokoknya gitu deh..#gitu apaan,tyy?-__-

    keren deh pokoknya..bagus lisaa..god jod..
    ditunggu kelanjutannya..hehe

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. apadah...
    kka mah sgtunya...
    hhe, tungguin aja kka kelanjutannya, insyaallah bsok ngpost yg you're mine
    jiah,liat aja ntar siviel or bukan? *plak sok banget dah

    gtu gmana kka???

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus